Mengeliminir Domain Depedence dalam Penerapan Kurikulum Merdeka - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Seorang guru yang sedang mengajar

Reszky Fajarmahendra Riadi

Guru Sekolah Dasar & Pecandu Belajar
Bergabung Sejak: 4 September 2020

Jumat, 4 Maret 2022 20:02 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Mengeliminir Domain Depedence dalam Penerapan Kurikulum Merdeka

    Istilah ketergantungan ranah (domain depedence) diciptakan ahli statistik bernama Nasim Nicholas Taleb. Hal itu menggambarkan masalah umum yang memengaruhi kemampuan seseorang membuat keputusan. Penerapan Kurikulum Merdeka akan menemukan masalah domain dependence. Kunci untuk keluar dari masalah tersebut adalah mencoba membuat Program Finansial Bergerak. Program apakah ini?

    Dibaca : 2.426 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Harry Markowitz

    Pada tahun 1990 seorang peraih Nobel di bidang ekonomi Harry Markowitz, menemukan sebuah teori tentang "seleksi portofolio", teori tersebut menjelaskan komposisi optimal dalam  mempertimbangkan risiko dan prospek hasil. Namun ketika membahas portofolionya ternyata dia tidak memakai dalilnya namun membagi tabungannya dalam saham sebanyak 50% dan obligasi 50%. Teorinya tidak diterapkan dalam kehidupan. hal ini di sebut domain dependence (ketergantungan ranah) oleh Rolf Dobelli

     

    Isitilah ketergantungan ranah diciptakan oleh ahli statistik bernama Nasim Nicholas Taleb, untuk menggambarkan masalah umum yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk membuat keputusan yang jelas.

     

    Sebagai contoh seorang teman saya merupakan Master Pendidikan yang menulis Tesis mengenai literasi, pernah bertanya kepada saya mengenai bagaimana meningkatkan literasi baca tulis di kelas? Saya menjawab, buka Tesis mu bro, disana ada kajian teori, coba liat lagi teori-teorinya. Dia menjawab, Ayolaaah bro. Hal tersebut nyata adanya bahwa proses kecerdasan sulit diterapkan dalam kehidupan kesehariannya. Dia terkena ketergantungan ranah.

     

    Dalam buku The Art of Thinking Clearly, Rolf Dobelli memberikan banyak contoh pada kasus ketergantungan ranah, seperti novel buatan kritikus sastra tidak terlalu laku, bagaimana dokter juga banyak yang merokok, dan juga pernikahan seorang konsultan rumah tangga juga banyak yang tidak baik-baik saja. Ternyata teori atau pembelajaran tidak teserap menjadi bagian aksi reaksi.

     

    Ketergantungan Ranah di Sistem Pengajaran

    Kurikulum merdeka  

    Para pakar dan ahli yang menjadi bagian pembuatan kurikulum merdeka membuat cetak biru kurikulum melalui perenungan dan diskusi akademik. Menurutnya kurikulum ini dapat memerdekakan peserta didik dalam belajar. sudah tidak lagi peserta didik menjadi objek belajar, peserta didik juga bisa menjadi subjek belajar.

     

    Kurikulum Merdeka sudah di uji cobakan kepada ribuan Sekolah Penggerak berikut pengakuan dari Kemendikbud, ketika berita kurikulum mau dirubah secara nasional, istilah kurikulum prototype dilempar menjadi wacana publik agar tidak gaduh.

     

    Ada yang skeptis mengenai penerapan kurikulum tersebut, seperti masyarakat yang bilang bahwa kebijakan penggantian kurikulum saat berganti Menteri apakah akan berkelindan dengan kualitas pendidikan yang akan membaik? dan juga sudah ada yang apatis, siapa yang apatis yaitu para guru, karena apapun itu guru hanyalah bagian dari sistem pendidikan yang harus ikut keputusan-keputusan dan kebijakan pada rezim yang berkuasa.

     

    Apa tujuan dari kurikulum merdeka? tujuan kurikulum itu adalah menciptakan pelajar dengan profil Pancasila. terdiri dari 6 komponen yaitu; (1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia; (2) Berkebhinekaan Global; (3) Gotong Royong; (4) Mandiri; (5) Bernalar kritis; (6) Kreatif. Keenam tujuan ini merupakan local genius dari bangsa Indonesia, para ahli sudah tepat menurut saya dalam merancang tujuan ini, karena sesuai dengan kebudayaan Indonesia yang berwawasan global.

     

    Apa hubungannya dengan teori ketergantungan ranah? jika pembaca kemudian mencoba menelisik arah uraian ini, apakah penulis akan mengkritik pembuat kebijakan kurikulum, apakah bisa menjadi manusia profil pancasila, itu bisa benar dan juga bisa salah.

     

    Saya meyakini tidak ada manusia yang 100% manusia Pancasila, namun dengan hadirnya kurikulum ini, saya rasa orang yang berperan dalam Simposium pembuatannya adalah tokoh dan pakar pendidikan yang mempunyai keluh kesah dan kegelisahan mengenai pendidikan di Indonesia.

     

    Yang saya khawatirkan adalah proses penerapan saat di grassroot,  ketika guru miskonsepsi dalam menerapkan kurikulum tersebut, walaupun ada mentoring, bimbingan dan juga seminar atau workshop mengenai kurikulum merdeka, tidak menutup kemungkinan potensi ketergantungan ranah akan menyelimuti pemikiran guru-guru yang lebih adaptif terhadap kurikulum sebelumnya.

     

    Pengambilan keputusan yang harus cepat, materi yang harus disampaikan dan tekanan beban kerja dengan kondisi kelas yang heterogen isi kepalanya, belum lagi menghadapi wali murid yang banyak maunya, menjadi faktor kemungkinan munculnya ketergantungan ranah.

     

    Faktor-faktor tersebut pasti sudah dipikirkan jalan keluarnya, yaitu dengan program. Seorang guru yang ideal menurut frame Kemendikbud-Ristek harus melalui serangkaian uji test, pemahaman yang mendalam mengenai pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum merdeka, dan menanamkan daya juang untuk meningkatkan kompetensi demi kualitas pendidikan yang lebih baik.  Program tersebut adalah Guru Penggerak.

     

    Bagi Kemendikbud-Ristek, guru penggerak adalah program yang akan meretas paradigma pengajaran masa lampau para guru, dan berorietasi pada pengajaran berkualitas, berdiferensiasi, berbasis teknologi tepat guna dan memberi layanan prima kepada peserta didik.  Akan tetapi ada satu program pamungkas yang akan saya sampaikan pada sub judul di bawah ini yang dapat menghilangan ketergantungan ranah.

     

    Finansial Bergerak harus menjadi Program Baru Kemendikbud

    Era keemasan Islam terjadi karena adanya penghormatan kepada kaum intelektual menurut Kuru dalam buku Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment: A Global and Historical Comparison. Selain itu intelektual berlindung kepada borjuasi kecil yaitu para pedagang dan juga pelaku industri kecil semacam hubungan simbiosis mutualisme. para intelektual membantu dalam akuntasi, pembukuan dan aritmatika dalam proses perdagangannya. hal ini dikuatkan oleh Bryan Turner. Posisi pedagang dan intelektual menjadi profesi yang hebat dibanding orang yang bekerja di pemerintahan pada abad ke 8-11.

     

    Dari kisah tersebut pertanyaan pertama adalah, apakah guru bisa disebut intelektual? Dalam kesempatan ini saya bisa menjawab secara singkat bahwa guru adalah intelektual, karena berkutat dengan ilmu pengetahuan. Pertanyaan kedua adalah, apakah guru menjadi profesi yang dihargai di Indonesia? Menurut Yudi Latif profesi guru dari abad ke- 19 tidak dihargai dan kalah dengan posisi administratif. Pertanyaan ketiga adalah apakah pedagang, pebisnis merupakan profesi hebat, tentu hebat karena kemajuan digitalisasi ekonomi sedang melaju cepat, sehingga memperluas market dari pedagang dan pebisnis itu sendiri.

     

    Mengapa saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena ketergantungan ranah dapat disimpulkan bahwa sebenarnya manusia mampu dan mempunyai kapasitas dalam pengambilan keputusan karena tidak percaya diri. Dengan kesimpulan ini seorang peraih nobel saja masih tidak mempercayai hasil pemikirannya untuk diterapkan dalam kehidupannya. bagaimana dengan guru yang profesinya tidak dihargai oleh negara untuk itu, pemutus kesenjangan ranah yang dialami oleh guru yang pertama adalah kembalikan wibawa profesi guru sebagai profesi yang mulia.

     

    Analisa sejarah yang di paparkan oleh Kuru melihat bahwa ada patronase antara intelektual dan juga pedagang. Saya harap ini bisa menjadi sebuah program yaitu Finansial Bergerak. Finansial Bergerak bertujuan menjadikan intelektual, pada kasus ini adalah guru dapat berlindung dan membiayai kehidupannya melalui subsidi atau uluran tangan para pedagang dan pebisnis. Hubungan simbiosis juga harus sesuai dengan local genius bangsa Indonesia, dalam artian pendidikan tidak terdikte terhadap pemilik modal. Amartya Sen peraih nobel ekonomi pada tahun 1998 menyatakan bahwa yang terpenting dalam pembangunan manusia adalah peningkatan kualitas hidup. Dengan hidup berkualitas pembangunan manusia akan meningkat, dengan hidup berkualitas para guru akan menjadi guru yang berkualitas. hal ini menjawab dua hal, pertama cibiran para pakar dan Menteri Keuangan akan kualitas guru, dan jawaban pemutus kesenjangan ranah yang kedua.

     

    Kurikulum Merdeka bisa saya simpulkan sebagai seorang guru adalah program yang berkualitas, namun apakah guru sudah berkualitas hidupnya? Pertanyaan ini harus dijawab oleh Kemendibud-Ristek.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.