Elite yang Membebani Bangsa - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 23 Maret 2022 08:43 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Elite yang Membebani Bangsa

    Masyarakat yang hidup pada masa sekarang berada di bawah kuasa elite yang tidak cukup cakap mengelola hidup berbangsa dan bernegara. Benarkah mereka punya niat menegakkan konstitusi? Atau lebih kental dilumuri hasrat untuk mengotak-atik isinya? Sorry to say, kebanyak elite bangsa sekarang yang lebih condong berpikir pragmatis. Dan mereka adalah beban bangsa ini.

    Dibaca : 2.483 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Apakah kehidupan berbangsa kita sedang menuju kedewasaan dan kematangan? Ataukah kehidupan kita masih terseok-seok dengan persoalan dasar karena ulah sebagian orang yang kebetulan dianggap sebagai elite kuasa—politik, hukum, maupun ekonomi? Agenda tertentu yang mereka ingin wujudkan menjadikan bangsa kita tidak mudah meraih kemajuan dalam kehidupan berbangsa.

    Kita bisa menyusurinya dengan mengamati wacana yang lalu-lalang di ruang publik serta apa yang terjadi dalam praksis. Sebagai contoh praksis, lihatlah bagaimana ruang publik kita masih diisi dengan laporan-laporan media yang memberitakan tentang penyusunan undang-undang dengan mengabaikan partisipasi rakyat banyak. Sekalipun undang-undang mensyaratkan partisipasi rakyat banyak, tapi pemerintah dan DPR sama-sama tak hirau perihal apa yang menjadi aspirasi rakyat.

    Praktik ini merupakan persoalan serius, sebab memperlihatkan betapa elite politik kita tidak berusaha menjaga agar penyusunan undang-undang betul-betul memenuhi syarat partisipasi rakyat. Manakala elite berusaha menghindari keterlibatan publik karena dianggap merintangi jalannya penyusunan undang-undang, berarti kita belum selesai dengan urusan mendasar ini.

    Rakyat banyak hanya dijadikan penonton. Karena kita menganut demokrasi, maka pengabaian partisipasi rakyat merupakan persoalan fundamental yang belum selesai. Kita semua sesungguhnya sudah sama-sama tahu perihal syarat fundamental ini, sehingga pengabaian terhadap syarat tersebut secara sadar telah memperlihatkan betapa para elite tidak peduli terhadap ikhtiar mendewasakan dan mematangkan kehidupan kita. Mereka lebih peduli pada kepentingan pragmatis yang cenderung egois.

    Isu penundaan pemilu, perpanjangan masa jabatan presiden, maupun perubahan masa jabatan presiden dari dua periode menjadi tiga periode juga memperlihatkan bahwa elite kita belum selesai dengan urusan fundamental mengenai pembatasan kekuasaan. Sepanjang ada kesempatan, rupanya elite terus berusaha menerobos aturan yang secara konstitusional sudah dijelaskan secara tegas. Pembatasan kekuasaan adalah amanah yang diberikan rakyat setelah mengalami dua periode panjang kekuasaan yang menimbulkan kepedihan.

    Hasrat kuasa elite masa sekarang tampaknya melampaui kemauan untuk mempertahankan aturan-aturan dalam Konstitusi. Masih ada keinginan untuk mengubah aturan konstitusi hanya untuk memenuhi hasrat kekuasaan. Aturan-aturan teknis coba dipermainkan, transaksi politik dilakukan, demi memuluskan hasrat kekuasaan.

    Ada persoalan moralitas politik yang belum selesai pada diri elite saat ini. Alih-alih mendorong agar demokrasi kita dan kehidupan berbangsa dan bernegara kita semakin matang, dengan mempertahankan cita-cita Konstitusi—khususnya pembatasan kekuasaan, elite kekuasaan malah menggunakan kesempatan dan peluang kuatnya eksekutif dan takluknya legislatif untuk memenuhi hasrat kuasa mereka.

    Apabila berbagai persoalan mendasar ini belum juga tuntas, maka ruang publik akan diisi oleh lontaran gagasan yang tidak membikin kehidupan berbangsa kita semakin matang. Gagasan yang dilontarkan elite cenderung mencemari demokrasi dan bahkan mendorong kembali ke masa lampau yang berusaha keras kita tinggalkan. Wacananya pun cenderung manipulatif, misalnya dengan mengatasnamakan rakyat banyak, padahal wacana itu berasal dari segelintir orang. Ada pula yang mengklaim dengan basis big data, yang ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ada saja elite yang memancing-mancing respon masyarakat dengan melontarkan gagasan yang sudah jelas aturan mainnya.

    Sepanjang semua itu masih terjadi, kehidupan masyarakat kita sukar beranjak ke tataran yang lebih dewasa. Bila urusan fundamental itu sudah selesai, kita berkesempatan membicarakan topik-topik yang lebih tinggi tatarannya. Sayangnya, sejauh ini kita masih belum selesai dengan isu seperti pengabaian partisipasi publik, para anggota DPR yang lebih mewakili kepentingan elite dan partai ketimbang rakyat, serta hasrat elite untuk mengotak-atik Konstitusi demi memenuhi kepentingan pragmatis mereka.

    Masyarakat yang hidup pada masa sekarang berada di bawah kuasa elite yang tidak cukup cakap mengelola hidup berbangsa dan bernegara, yang tekadnya untuk menegakkan Konstitusi masih dilumuri hasrat lebih besar untuk mengotak-atik isinya, dan yang lebih condong berpikir pragmatis bagi kepentingan diri dan kelompoknya ketimbang masa depan generasi berikutnya. Perilaku elite inilah sesungguhnya yang membebani bangsa ini dalam ikhtiar mencapai kedewasaan dan kematangan. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.