Deskripsi Tokoh Tionghoa dalam Novel Laskar Pelangi - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Laskar Pelangi - Ikal dan Aling

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 24 Maret 2022 06:51 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Deskripsi Tokoh Tionghoa dalam Novel Laskar Pelangi

    Tokoh-tokoh tionghoa dalam novel Laskar Pelangi digambarkan secara stereotipik, tetapi mempunyai sifat-sifat yang baik.

    Dibaca : 1.669 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Laskar Pelangi – Kisah Ikal dan Aling

    Penulis: Andrea Hirata

    Tahun Terbit: (versi buku saku)

    Penerbit:

    Tebal: vi + 68

    ISBN:

     

    Saya belum pernah membaca novel Laskar Pelangi secara utuh. Entah mengapa saya tidak tertarik. Tetapi, karena ada sosok tionghoa dalam novel ini, maka saya membeli buku saku dimana tokoh tionghoa tersebut dimunculkan. Saya membeli buku tersebut karena ingin tahu bagaimana tokoh tionghoa digambarkan dalam buku ini. Buku saku yang saya baca adalah Laskar Pelangi – Kisah Ikal dan Aling (LP-KIA).

    Dalam buku saku LP-KIA, tiga tokoh tionghoa. Mereka adalah A Miauw, si pemilik Toko Sinar Harapan, A Ling, seorang gadis anak A Miauw dan A Kiong, sepupu A Ling. Jadi sesungguhnya hanya satu keluarga inilah yang tampil di novel LP-KIA.

    Sebelum membahas ketiga tokoh tionghoa tersebut, baiklah saya ringkaskan sedikit kisah dalam buku saku ini. Diawali dengan tugas dari sekolah untuk membeli kapur di Toko Sinar Harapan, Ikal (seorang remaja Melayu) bertemu dengan A Ling. Awalnya Ikal hanya bisa melihat tangan A Ling yang menyerahkan kapur melalui sebuah lubang di toko tersebut. Namun sebuah kecelakaan kecil, dimana kotak kapur tersebut terjatuh, membuat Ikal bisa bertemu muka dengan A Ling. Ikal jatuh cinta kepada A Ling. Setelah pertemuan yang tidak disengaja tersebut, melalui A Kiong, Ikal mengirim pusi-puisi yang ditulisnya kepada A Ling. Ketika Ikal akhirnya berani untuk mengajak A Ling bertemu, A Ling menyanggupinya. Mereka bertemu di halaman kelenteng pada acara sembayang rebut atau upacara Chiong Si Ku. Mereka menikmati pertemuan tersebut. Selanjutnya, dalam kerinduan yang membara, Ikal menerima surat dari A Ling yang isinya juga mengungkapkan kerinduannya kepada Ikal.

    Marilah sekarang kita lihat apa yang ditulis oleh Andrea Hirata tentang tokoh-tokoh tionghoanya di buku saku LP-KIA ini.

    A Miauw digambarkan sebagai sosok yang berpenampilan kumal tetapi sombong dan hanya peduli kepada perniagaan tokonya: “berlagak bos, tubuhnya gendut dan ia selalu memakai kaus kutang, celana pendek, dan sandal jepit. Di tangannya tak pernah lepas sebuah buku kecil panjang bersampul motif batik, buku utang. Pensil terselip di daun telinganya yang berdaging seperti bakso dan di atas mejanya ada sempoa besar yang jika dimainkan bunyinya mampu merisaukan pikiran” (hal 19). Ia memang pria yang congkak dengan intonasi bicara tak enak didengar, wajahnya juga seperti orang yang selalu ingin memerintah, kata-katanya tidak bersahabat, dan badannya bau tengik bawang putih (hal. 20). Penggambaran ini adalah stereotipik lelaki tionghoa.

    Dalam pergaulan, A Miauw digambarkan mempekerjakan orang lokal. Tokonya didatangi oleh berbagai suku yang ada di pulau tersebut (Belitong) dan ia menggunakan bahasa campur aduk antara Melayu dan Khek (hal. 20).

    Andrea Hirata tidak hanya menggambarkan tokoh A Miauw dari sisi stereotipik. Ia juga menyajikan bahwa A Miauw adalah seorang Kong Hu Cu yang taat sehinga sangat jujur dalam berniaga, pedagang yang efisien dan pencipta lapangan kerja musiman.

    Dalam menggabarkan tokoh A Ling, Andrea Hirata juga menggunakan stereotipik bagaimana umumnya orang Indonesia mendeskripsikan gadis tionghoa. A Ling dilukiskan bagai Michelle Yeoh. A Ling digambarkan sebagai gadis dengan jemari lentik, halus, panjang-panjang dan ramping. Ada gelang giok melingkar di tangannya (hal. 22). Ia memiliki struktur wajah lonjong dengan air muka yang sanagt menawan. Hidungnya kecil dan bangir. Garis wajah tirus dengan tatapan kharismatik menyejukkan sekaligus menguatkan hati, anggun. Alisnya indah alami dan jarak antara alis dengan batas rambut di keningnya membentuk proporsi yang cantik memesona. Tulang pipinya tidak menonjol.

    Meski menggambarkan fisik A Ling secara stereotipik, namun Andrea Hirata menggambarkan sifat A Ling sangat berbeda dengan anggapan orang tentang gadis tionghoa. A Ling digambarkan sebagai gadis yang mau berteman dengan orang Melayu (Ikal). Bahkan ia mau membaca puisi yang dikirim oleh Ikal kepadanya. A Lig membalas surat Ikal dengan puisi yang menyatakan kerinduannya kepada Ikal (hal. 66). Jadi dalam novel ini, persahabatan antara Ikal dan A Ling tidak terhalang oleh ras mereka yang berbeda.

    Tokoh A Kiong muncul sekelebat saja. A Kiong adalah sahabat Ikal sekaligus sepupu A Ling. Entah mengapa Andrea Hirata menyebut A Kiong sebagai anak Hokian (hal. 40). Padahal keluarga A Miauw digambarkan sebagai orang Khek.  Bagaimana bisa seorang Khek mempunyai sepupu orang Hokian?

    Saya pernah mendengar bahwa novel Laskar Pelangi adalah novel bagus yang dipasarkan secara berlebihan. Saya setuju dengan pendapat ini. Sebab buku Laskar Pelangi dipasarkan dengan berbagai format. Ada format buku, format film dan juga format buku saku. Dalam format buku pun ditulis dalam berbagai bahasa. Larisnya novel Laskar Pelangi ini membuktikan bahwa novel ini memang laris. Namun demikian pemasarannya memang berlebihan. Misalnya dalam buku saku yang saya bac aini. Buku saku yang merupakan potongan kisah utuh dari Laskar Pelangi, dipenuhi dengan iklan cover buku Laskar Pelangi dalam berbagai bahasa di bagian belakang buku. Bukan hanya novel Laskar Pelangi, buku saku yang mungil ini juga dibebani iklan karya Andrea Hirata yang lain. Tidak cukup hanya itu, cover belakang buku ini juga dipakai untuk mengiklankan kehebatan Laskar Pelangi dan sang penulisnya.

    Dalam novel ini Andrea Hirata juga memaparkan betapa orang-orang tionghoa masih memelihara budaya dan adat istiadatnya. Penggambaran itu tertuang dalam kegiatan di kelenteng dan upacara sembahyang rebut. Masyarakat pun tidak merasa terganggu dengan pelaksanaan budaya dan adat-istiadat orang-orang tionghoa. Bahkan mereka ikut menikmatinya.

    Saking semangatnya memasarkan Laskar Pelangi, sampai Andrea Hirata atau siapapun penerbitnya lupa memberi identitas yang layak kepada buku saku tersebut. Versi buku saku ini tidak memuat penerbit dan tahun terbit. Sungguh sayang. 666



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.