Hujan di Senin Pagi Versi Bocil Awal Tahun 2000-an - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Krzysztof Pluta dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Kamis, 24 Maret 2022 17:02 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Hujan di Senin Pagi Versi Bocil Awal Tahun 2000-an

    Semua bocil memiliki perasaannya sendiri saat terjadi hujan di Senin pagi. Perasaan yang dibahas di sini adalah perasaan bahagia tiada duanya, saat hujan deras turun, ibu yang menyarankan sendiri untuk tidak usah datang ke sekolah, dan tidak jadi upacara bendera di hari Senin. Kita tetap harus menghormati pahlawan kita, salah satu caranya adalah mengikuti upacara bendera pada hari Senin dengan semangat, namun hal seperti ini terkadang bisa dinikmati.

    Dibaca : 741 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              TOP 10 BEST MOMENT IN CHILDHOOD. Siapa yang tidak senang melihat rahmat turun dari langit berupa air yang menyegarkan seluruh permukaan bumi beserta isinya? Saya termasuk golongan tersebut. Hujan memiliki makna masing-masing kepada orang yang memaknainya. Hujan mengingatkan kita kepada masa lalu, hal-hal yang sedih, menakutkan, tapi apakah kau tidak bersyukur? Hujan! Kau bisa mandi hujan, bisa bermain bola hujan, bisa bermain lumpur dan hujan, bisa satu payung dengan perempuan yang engkau minati. Pastinya dengan niat untuk membantu dan menaikkan level hubungan. Anyway, janganlah langsung berpikiran negatif ketika melihat hujan, walaupun orang mengatakan hujan itu adalah awan yang sedang menangis. Hujan itu adalah rahmat dan rahmat harus disyukuri.

              Lanjut, hujan yang akan dibahas kali ini bukanlah hujan biasa. Siapa yang ingat dengan kegiatan Upacara Bendera? Kegiatan wajib ini dilakukan pada hari senin pagi sebelum masuk ke kelas. Terutama di masa SD, terjadi trade off atau pertukaran. Di mana pada hari Senin, kita harus berangkat lebih awal karena takut terlambat upacara. Hukumannya bisa memungut sampah, menghormat bendera sampai jam istirahat, dan yang paling parah adalah membersihkan kamar mandi. Horror moment. Sehingga, tayangan kartun di televisi pagi harus kita tinggalkan sebelum acaranya selesai. Apakah kau akan memilih meninggalkan kapur ajaib? Atau berkorban demi kapur ajaib dan membersihkan tempat paling mengerikan di sekolah? You decide.

              Tapi, bisa saja terjadi sebuah rahmat, rezeki yang datang tiba-tiba. Kau sudah mengikat sepatumu, menyandang tas, dan mematikan televisi, tetapi kau melihat air sudah berjatuhan ke bumi, di situlah semua barang yang kau pakai tadi berlepasan secara sendirinya. “Tunggu hujan reda dulu.” Perkataan yang menenangkan hati oleh sang ibu. Apalagi, “Udahlah, gak usah sekolah dulu. Nanti sakit.” Best moment kali bah! 

    Televisi kembali hidup, lanjutkan petualangan di dasar laut atau di dunia kapur, pilihan anda. Dasi dan kaos kaki tidak sempat dilepas dan melanjutkan petualangan di televisi. Namun, apa yang terjadi jika hujan tiba-tiba reda? Dan ibu datang membawa tas kita lagi? Di situlah kita bertindak pura-pura sakit atau pura-pura tertidur. Jika emak anda sekalian suka bermain dengan kemoceng, janganlah lakukan hal ini. Kemoceng bisa menjadi sebuah senjata yang panas. Kita terpaksa memakai perlengkapan sekolah lagi dan melanjutkan hari-hari untuk kesuksesan kemudian.

              Walaupun kita tetap pergi ke sekolah, namun biasanya upacara bendera tidak akan dilakukan lagi karena akan memotong waktu kegiatan belajar mengajar. Pasti selalu ada hikmah suatu kejadian yang kita alami. Jika saja kita lolos dari emak dan tidak jadi sekolah, kita mungkin tidak akan datang saat terjadinya jam kosong karena guru-guru sedang rapat atau belum sampai ke sekolah. Percayalah, kau tidak ingin melewatkan jam kosong di sekolah.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.