Guru Belajar dan Mengajar Melalui Kurikulum Merdeka (Bagian 2 selesai) - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Merdeka Belajar Cooperatif Learning 2, Sumber: Dokumentasi Pribadi Taufik Hidayat, S.Pd, M.Si

Anita Lie

Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika Widya Mandala Surabaya
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Selasa, 5 April 2022 13:05 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Guru Belajar dan Mengajar Melalui Kurikulum Merdeka (Bagian 2 selesai)

    Di balik kelebihan ini, PPG masih perlu dibenahi dalam beberapa hal. Pertama, pengkinian materi. Sebagian materi PPG masih sangat teoritis dan belum mengikuti pengkinian ilmu pengetahuan dan pedagogi. Kedua, relevansi materi. Karena kepadatan muatan dan juga otomatisasi mesin dalam platform PPG, ada risiko peserta hanya mengejar pemenuhan administratif tanpa memperhatikan kebermaknaan proses belajar mereka dan relevansi dengan peningkatan kompetensi mereka sebagai guru.

    Dibaca : 1.393 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Anita Lie, Guru Besar FKIP, Unika Widya Mandala Surabaya

    Bagian pertama tulisan ini sudah mengupas janji keunggulan Kurikulum Merdeka dan platform Merdeka Mengajar yang membutuhkan guru kompeten serta bermotivasi terus mengembangkan diri. Keberhasilan pelaksanaan Kurikulum Merdeka akan sangat ditentukan oleh guru. Artikel ini membahas peran guru dalam pelaksanaan dan pengembangan Kurikulum Merdeka, khususnya alumni Program Pendidikan Profesi Guru dan Program Guru Penggerak.

    Ditinjau dari status sertifikasinya, ada kelompok guru yang sudah disertifikasi dan yang belum. Kelompok guru yang pertama memeroleh sertifikasi melalui program pemerintah sebagaimana ketentuan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dinyatakan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

    Kelompok kedua —para guru yang belum disertifikasi— mesti sabar menunggu giliran. Pada 2021, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) menargetkan rekrutmen satu juta guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Untuk bisa masuk sebagai PPPK guru harus lolos seleksi. Menurut Mendikbudristek Nadiem Makarim, guru PPPK yang memiliki kinerja baik bisa berpeluang menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS). 

    Ada kelompok guru lain yang merupakan irisan kedua kelompok sebelumnya. Baik guru yang sudah disertifikasi maupun yang belum, mempunyai peluang untuk mengikuti Program Guru Penggerak (PGP) yang diluncurkan pada pertengahan 2020.  Dari 6 angkatan Guru Penggerak yang diselenggarakan, tercatat sekitar 32 ribu Guru Penggerak dan Calon Guru Penggerak serta 9.272 Sekolah Penggerak (https://sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id/gurupenggerak/lini-masa/). Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan PGP mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.


    Pendidikan Profesi Guru

    Program PPG adalah program pendidikan yang diselenggarakan setelah program sarjana atau sarjana terapan untuk mendapatkan sertifikat pendidik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengah. Ada dua macam program PPG: Pra-jabatan dan Dalam Jabatan. 

    Tujuan penyelenggaraan Program PPG Prajabatan adalah dalam rangka menghasilkan guru profesional yang beradab, berilmu, adaptif, kreatif, inovatif, dan kompetitif serta berkontribusi terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia. Program PPG Dalam Jabatan bertujuan menghasilkan guru sebagai pendidik profesional yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berilmu, adaptif, kreatif, inovatif, dan kompetitif dengan  tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

    Sementara itu, PPG Dalam Jabatan yang ditujukan pada para guru yang sudah mengajar selama beberapa tahun diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan pendidikan, seperti: 1. Kualifikasi di bawah standar (under qualification), dan 2. Guru-guru yang kurang kompeten. Selain itu, guru di era revolusi industri 4.0 harus memiliki kemampuan melaksanakan pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan dengan mengintegrasikan critical thinking dan problem solving, communication and colaborative skill, creativity and inovative skill, information and communication technology literacy, contextual learning skill, serta information and media literacy. (https://ppg.kemdikbud.go.id/ppg-dalam-jabatan)

    Program sertifikasi ini sudah melalui beberapa kali transformasi mulai dari pengumpulan portofolio, Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) pada 2011 dan yang terakhir Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dimulai pada 2018.  Sejak 2018 sampai dengan akhir 2021, ada sekitar 172.553guru  yang mengikuti PPG dengan persentase kelulusan 65 persen pada ujian pertama dan total persentase kelulusan setelah ujian ulang 91 persen.

    Kelebihan Program PPG ini adalah jangkauan yang luas di seluruh Indonesia. Karena luasnya jangkauan, program ini menjadi titik pertemuan guru dari berbagai daerah dan situasi di sekolah sehingga memperluas wawasan para guru dan memperbaharui sikap mereka. Penelitian tim kami (Lie, 2022) menemukan guru dari sekolah yang mempunyai lebih banyak privilese merasa lebih apresiatif dan termotivasi untuk terus meningkatkan komptensi mereka. Pada sisi yang lain, sebelum mengikuti PPG, guru Bahasa Inggris dengan kompetensi berbahasa yang sebenarnya masih di bawah standar merasa baik-baik saja di sekolah mereka sendiri.

    Dalam program PPG, mereka memeroleh kesadaran baru melalui interaksi dengan sesama peserta yang lebih mahir dan termotivasi untuk meningkatkan kompetensi Bahasa Inggris mereka. Selain itu, PPG sudah dilengkapi dengan sistem administrasi yang terpadu dan terintegrasi dengan Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian yang Berkelanjutan (SIM PKB). Ini memudahkan guru peserta, guru pamong, dan dosen pengampu. Dengan kata lain, PPG sudah masuk dalam struktur PKB dengan jelas.

    Di balik kelebihan ini, PPG masih perlu dibenahi dalam beberapa hal. Pertama, pengkinian materi. Sebagian materi PPG masih sangat teoritis dan belum mengikuti pengkinian ilmu pengetahuan dan pedagogi. Kedua, relevansi materi. Karena kepadatan muatan dan juga otomatisasi mesin dalam platform PPG, ada risiko peserta hanya mengejar pemenuhan administratif tanpa memperhatikan kebermaknaan proses belajar mereka dan relevansi dengan peningkatan kompetensi mereka sebagai guru.

    Ada satu angkatan yang menulis antologi kisah-kisah pengalaman mereka di PPG dan memberi judul “Pejuang Centang Biru.” Centang biru ini mengacu pada syarat ketuntasan yang diatur dalam platform untuk pemenuhan setiap kegiatan dan penugasan. Ketiga, keseimbangan teori dan praktik. Perlu ada alokasi lebih banyak waktu untuk mendiskusikan dan membagikan praktik-praktik di sekolah masing-masing. Proses pendidikan yang berbasis sekolah akan lebih nyata dan efektif untuk meningkatkan kompetensi guru daripada diskusi yang terlalu umum dan teoritis.

     

    Program Guru Penggerak

    Sejak peluncuran program ini pada pertengahan 2020, ada sekitar 32 ribu Guru Penggerak dan Calon Guru Penggerak. Pada awalnya, program ini berjalan selama 9 bulan dengan sekitar 300 jam belajar. Saat ini masa belajar PGP dimampatkan menjadi 6 bulan yang meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan bagi Calon Guru Penggerak. Selama program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai pendidik. Bahkan 70 persen metode belajarnya merupakan belajar di tempat kerja dan komunitas praktik yang meliputi pemberian umpan balik dari atasan, rekan, dan siswa. Tiga topik utama dalam PGP adalah pembelajaran berdeferensiasi, komunitas praktik, dan pembelajaran sosial emosi.

    PGP (diluncurkan sebagai Episode ke 5) berkaitan dengan Program Sekolah Penggerak (Episode ke 7). Program Sekolah Penggerak adalah sebuah program yang berupaya mendorong satuan pendidikan melakukan transformasi diri untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, kemudian melakukan pengimbasan ke sekolah lain untuk peningkatan mutu serupa.

    Kelebihan PGP sering diungkapkan oleh peserta dan alumni. Dalam beberapa kesempatan pertemuan daring, saya mendengar ekpresi langsung dari peserta PGP yang mengapresiasi materi dan proses pendidikan yang mereka dapatkan dari program ini. Pada umumnya, ungkapan apresiasi terkait dengan materi dan proses pendidikan. I Ketut Budi, Pelaksana Tugas Kepala Sekolah Dasar Negeri 26 Pemecutan, Kota Denpasar, menjelaskan di antara yang spesial dari PGP adalah materi untuk mendorong para guru menciptakan program yang berdampak dan berorientasi murid.  

    Lulusan PGP Angkatan I dari Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Erniwati juga mengungkapkan optimisme. Menurut Kepala Sekolah Dasar Negeri 23 Dara ini, PGP tidak hanya mengajarkan teori, namun juga berbagai praktik baik yang dapat diterapkan dan mendongkrak kualitas pendidikan di sekolahnya. https://www.jawapos.com/jpg-today/11/03/2022/program-guru-penggerak-diyakini-bisa-dongkrak-kualitas-pendidikan/.

    Kelebihan PGP yang mengandalkan motivasi intrinsik para peserta dalam jangka panjang akan lebih berkelanjutan dan membangun peradaban guru yang profesional, mandiri, dan kreatif. Namun, dalam jangka pendek, tidak mudah mengubah paradigma dan kebiasaan. Ketika kelulusan dari PPG berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan guru, kelulusan dari PGP tidak membawa penghargaan material langsung kepada guru. Bagi sebagian guru yang masih dipacu oleh motivasi ekstrinsik, partisipasi dalam PGP ini terasa berat.

     

    Peran Guru sebagai Pengembang Kurikulum Merdeka

    Seorang kepala sekolah berkomentar, “Kami menyambut gembira. Kurilulum Merdeka itu bisa membuat kami lebih bebas dan terbang luas. Hanya perlu melatih guru yang masih mau belajar untuk maju dan menunggu pensiun mereka yang tak mau belajar lagi.”

    Perubahan fundamental dalam tata kehidupan menuntut para aktor persekolahan berubah. Kehadiran teknologi digital telah mengubah pola interaksi guru-siswa, siswa-siswa, dan siswa-materi pembelajaran. Ketika pandemi menyebabkan penutupan sekolah dan pengalihan proses belajar menjadi daring, sebagian guru melakukan lompatan teknologi agar pembelajaran daring bisa terjadi dan siswa tidak kehilangan kesempatan belajar mereka.

    Satu hal yang mesti disyukuri di balik musibah pandemi adalah munculnya kesadaran baru terhadap apa yang mungkin dan wajib dilakukan para aktor persekolahan untuk menyiapkan para siswa terhadap tatanan dunia yang berubah secara drastis. Anak muda dituntut untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah, daya inovasi serta karakter yang mencerminkan akhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong dan kebhinekaan global. Karakter yang mencintai perdamaian dan peduli pada kebaikan bersama umat manusia dan alam semesta.

    Setelah pandemi bisa dikendalikan pun, para guru perlu terus melakukan lompatan pedagogi dan teknologi agar proses pembelajaran di kelas menjadi relevan bagi siswa. Entah melalui PPG atau PGP, guru-guru yang berinisiatif terus mengembangkan profesi secara mandiri dan berkelanjutan akan menjadi mitra terbaik dalam pelaksanaa



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.