Pertemuan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

illustr: Everyday Health

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Kamis, 7 April 2022 14:46 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pertemuan

    Sebuah cerpen

    Dibaca : 1.068 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Keadaan taman sore ini cukup teduh dan tak begitu ramai, cukup mendukung rencanaku bertemu dengan seseorang. Seseorang yang tentu begitu spesial. Kami janji bertemu pukul empat sore, dan sekarang masih setengah empat, mungkin setengah jam lagi dia datang. 

    Sengaja aku datang lebih awal, sebab aku tak ingin membuat kesan yang buruk di matanya dalam pertemuan pertama ini. Selain itu, aku ingin membuktikan bahwa aku adalah lelaki yang menepati janji, tidak seperti kebanyakan lelaki.

    Kucari tempat yang kiranya asik buat berduaan nanti. Ini adalah hal yang istimewa, yang suasana juga mesti mendukungnya. Aku  tidak ingin diganggu mereka para pengamen maupun pedagang yang sering kulihat berlalu-lalang di sekitaran taman ini.

    Kurebahkan pantatku di sebuah bangku taman yang berwarna coklat tua. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Tampaknya ini memang tempat yang pas untuk pertemuanku dengannya nanti. Tanpa kusadari, senyumku mengembang renyah. Berkali-kali aku berkaca lewat kamera ponsel, memastikan rambutku rapi tidak berantakan. Kuendus bajuku sendiri, wangi! Tidak sia-sia aku membeli parfum import di toko online tempo hari. Hari ini tampaknya akan menjadi hari yang tak akan terlupakan di sepanjang hidupku. Aku yakin itu.

    Sudah sejak tadi malam aku mempersiapkan pertemuan ini, sampai-sampai aku susah tidur memikirkannya. Membayangkan akan betapa indahnya bertemu dengannya nanti. Bertemu dengan seseorang yang dicintai tentu adalah suatu kebahagiaan bagi seorang pemuda macam aku ini. Terlebih ini adalah pertemuan kali pertama kami.

    Hari ini kebetulan jadwal kerjaanku libur, jadi segala persiapan mental maupun penampilan bisa aku siapkan sejak pagi-pagi betul. Tidak lupa aku menyiapkan sebuah hadiah kepadanya. Aku jamin dia akan terbelalak melihat kalung indah yang akan aku berikan nanti. Kalung ini aku dapatkan dengan kerja keras, sebab harganya cukup mahal. Namun, aku cukup puas. Sebentar lagi semua perjuangan ini pasti akan terbayar lunas ketika melihatnya nanti tersenyum sembari mengucapkan berkali-kali kata terima kasih kepadaku.

    Aku mengenal wanita itu sudah cukup lama, hampir setahun yang lalu melalui sebuah medsos berlogo biru. Awalnya hanya saling membalas komentar dan kemudian berlanjut menjadi hubungan yang lebih intim lewat jalur pribadi. Sudah enam bulan ini kami menjalin ikatan asmara, meski hanya lewat dunia maya.

    Namanya Rina, dia bilang anak Bandung. Mengaku bekerja di sebuah bank swasta di kotanya. Foto yang di kirimkan beberapa bulan yang lalu membuat aku semakin jatuh cinta kepadanya. Hampir setiap malam wajah itu hadir dalam mimpi-mimpiku, menjadi bunga tidur yang begitu indah. Kami sudah sangat dekat, chatting kami pun selalu berisi muatan kata-kata mesra selayaknya dua insan yang lagi di mabuk asmara.

    Dan hari ini, tepatnya sore ini adalah pertemuan pertama kami dalam dunia nyata. Kami sudah saling cocok, dan berkomitmen untuk melanjutkan ke dalam hubungan yang lebih serius. Tak sabar rasanya segera memecah kerinduan yang berbulan-bulan ini begitu menyiksaku.

    Awalnya Ia tak mau, belum siap katanya, malu katanya, dan alasan seputar itu. Namun, aku selalu mendesaknya terus untuk bertemu. Aku katakan kepadanya dengan ancaman akan memutuskan dia kalau sampai tak mau bertemu, dan berhasil. Tentu aku hanya sekadar menggertak saja, tak benar-benar serius mengatakannya. Meski ia kelihatan sedikit terpaksa, tetapi pada akhirnya mau juga.

    Sebenarnya aku yang akan pergi ke Bandung sana, melihat jarak Semarang dan Bandung tidak begitu jauh. Namun, ia menolak. Ia bilang bahwa dirinya saja yang akan datang ke kotaku. Aku iyakan saja, tak banyak omongan, yang penting bertemu, kan? Tak jadi soal harus bertemu di mana tempatnya.

    Aku tak peduli lagi kata orang yang bilang bahwa cinta di dunia maya banyak tipuan atau khayalan, atau apapun sungguh aku tak peduli. Aku sudah terlanjur mencintainya begitu dalam. Setiap malam aku selalu membayangkan bayangan dirinya benar-benar hadir di sampingku kala kami chattingan.

    "Kamu sudah gila, Wan," kata Bagas rekan kerjaku ketika aku menceritakan hubunganku dengannya kalau itu.

    "Awas, jangan-jangan sudah janda," goda Rozak teman kosku.

    Aku hanya membalas mereka dengan senyuman kecut. Lihat saja nanti, kalau kalian melihat kecantikan dia akan langsung menyesal pernah meremehkanku!

    "Mas, boleh ikut duduk, ya?" suara lelaki membuyarkan lamunanku.

    "Oh, iya, silahkan. Ini tempat umum bukan?" jawabku spontan. 

    Kulirik asal suara tadi: seorang lelaki berbadan atletis dan bercambang lebat tetapi rapi. Jujur saja, hatiku sebenarnya dongkol, dari tadi aku sengaja mencari tempat sepi agar aku bisa berduaan dengan Rina, eh malah ada gangguan. Namun, tak enak juga kalau mengusirnya terang-terangan sebab ia juga punya hak karena ini tempat umum.

    Aku kembali mengedarkan pandangan ke sekitar taman, mau pindah tempat saja yang lebih aman tanpa gangguan, tetapi suasana semakin ramai, hanya tempat ini saja yang lumayan sepi. Aku meghela napas dengan kasar.

    Mau tak mau aku harus rela berbagi bangku dengan lelaki tak tahu diuntung itu. Keparat betul, apakah dia tidak tahu kalau aku tengah menunggu seseorang. Mengganggu saja! Hatiku mengumpat-umpat pria brewok bedebah itu dalam hati.

    Kulirik jam di tangan kananku, pukul empat sore lebih sepuluh menit. Aku semakin deg-degan bercampur kesal, kesal kenapa ada gangguan. Baiklah, mungkin aku ganti lokasi saja di tempat lain. Aku buka ponsel, siap hubungi Rina, tapi nomor tak aktif. Sial. Kemana Rina.

    "Saya mengganggu ya, mas?" tanya lelaki itu begitu aku hampir mengangkat pantatku untuk cari tempat lain. Mungkin dia tau kalau aku terganggu karena melihat tingkahku yang begitu gelisah.

    "Eh, enggak, kok, mas," jawabku bohong,  kikuk menutupi kebenaran yang diucapkannya.

    "Lagi mau ketemuan, ya?" kejarnya lagi.

    Sial, ini orang apa cenayang, kenapa bisa tahu?

    "Eng, he-he, iya, Mas." Aku menggaruk rambut yang tidak gatal. Sebuah gesture yang juga menjawab kebohonhanku tadi.

    "Oh, pacar, ya?" selidiknya lagi.

    Aku membatin, kepo amat sih ini pria! Mau menunggu pacar kek, teman kek, bahkan alien kek, apa urusannya!

    "Mas sendiri? Ketemuan juga?" tak ku jawab pertanyaannya, malah aku balas dengan pertanyaan juga. Rasakan, bedebah!

    "He-he-he, begitulah," balasnya santai sambil tersenyum.

    Dan sial, senyumnya itu, loh, masa brewokan senyumnya feminim sekali. Benar-benar menjijikan!

    "Oh, ya sudah saya cari tempat lain saya, mas. Mas silahkan di sini saja." Aku berusaha berbuat bijak, meski hati mengumpat-umpat.

    "Eh, Jangan. Biar saya saja yang pergi, mas. Kan, mas tadi yang duluan di sini."

    Tahu diri juga brewok sialan itu.

    "Oh, begitu. Baik, mas," jawabku penuh kemenangan.

    "Oh, iya, kita belum kenalan, ya? Kenalkan saya Roni, Mas." Kulirik dia tersenyum ramah kepadaku sembari menyodorkan tangannya. Mau tak mau aku menyambut juga sodoran tangannya.

    Dan bedebah! Tangannya begitu halus. Ini tangan lelaki apa perempuan? 

    "Saya Wawan, Mas," jawabku sambil buru-buru menarik tangan. Risih!

    Kemudian lagi dan lagi, lelaki itu bertanya apapun tentangku, terpaksa aku menjawab sembari dalam hati aku berkali-kali aku mengumpat. Katanya tadi mau pergi, kenapa malah betah di sini.

    Sampai kemudian aku tersadar dan teringat Rina. Kuhentikan obrolan. Aku buka ponsel, buka aplikasi hijau, siap mengontraknya lagi. Dan sial, masih saja belum aktif. Aku kembali menggerutu. Kulirik jam sudah hampir pukul lima sore. Apakah Rina tak jadi datang? Rasa kecewa dan khawatir bercampur menjadi satu. Kalau datang, masa iya dia tak melihatku di sini? Katanya tadi siang sudah tiba di Semarang? Dari lokasi, warna pakaianku, sudah aku beritahu semua. Bahkan lokasi sudah aku share segala. Tidak mungkin ia nyasar.

    Segala keindahan yang telah aku bayangkan akan terjadi sore ini perlahan menguap berganti kekecewaan. Tega betul Rina itu sampai membohongiku begini. Ah, mungkin salahku juga memaksa dia untuk bertemu sedang dia belum siap. Ya sudah lah aku pasrah saja.

    Senja hampir tiba, aku pun memutuskan pulang.

    "Mas, saya duluan, ya, sepertinya pacar saya tak jadi datang," kataku singkat, berpamitan dengan lelaki brewok sialan itu. 

    "Oh, iya, Mas, hati-hati di jalan," jawabnya kepadaku masih dengan senyum yang menjijikan.

    Aku tak menoleh lagi. Buat apa.

    Begitu aku berjalan beberapa puluh langkah, ponselku bergetar. Chat dari Rina masuk.

    [Mas ...,] tulisnya.

    Segera aku jawab chat-nya dengan wajah cerah, [Kemana saja Rin? Aku sudah menunggu kamu sejak tadi, lho. Kenapa nomor kamu dari tadi malah tak aktif?]

    [Aku sudah ada sejak tadi, kok, Mas, duduk bareng kamu. Makasih, ya atas pertemuan ini,] balas Rina.

    Apa!

    Segera kulirik bangku taman tempat yang aku duduki tadi. Lelaki brewok itu masih di sana. Kemudian melambaikan tangan kepadaku dengan manja dan tersenyum manis. Kemudian kedua tangannya disatukan membentuk hati dan diarahkan maju-mundur kepadaku seolah itu adalah hatinya sendiri yang berdegup.

    "Jadi … selama ini Rina itu Roni?"

    Mendadak kini perutku menjadi sangat mual.

    TAMAT.

     

    Surakarta, 13 Oktober 2021




    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.