Pram dan Cina - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

cover buku Pram dan Cina

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 8 April 2022 06:53 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pram dan Cina

    Pram melalui bukunya Hoakiau Indonesia begitu argumentatif membela orang-orang Tionghoa di akhir tahun 1959, saat negara melakukan persekusi kepada orang Tionghoa. Keberaniannya menulis pembelaan terhadap orang Tionghoa itu berakibat Pram masuk penjara. Bagaimana Pram bisa begitu bersimpati dan gigih membela orang Tionghoa? Buku Pram dan Cina membahas hal tersebut.

    Dibaca : 1.058 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Pram dan Cina

    Penulis: Hong Liu, Goenawan Mohamad dan Sumit Kumar Mandal

    Editor: JJ Rizal

    Tahun Terbit: 2008

    Penerbit: Komunitas Bambu

    Tebal: xvii + 142

    ISBN: 979-3731-42-7

     

    Melalui bukunya yang berjudul “Hoakiau di Indonesia” Pram mengguncang publik di tahun 1960. Sebab di saat Pemerintah melakukan persekusi terhadap etnis Tionghoa melalui PP 10, Pram justru dengan lantang menyuarakan pendapatnya bahwa orang Tionghoa (dalam karya Pram disebut Hoakiau) adalah bagian tak terpisahkan dari Bangsa Indonesia. Orang-orang Tionghoa ini sudah ada di wilayah ini jauh sebelum wilayah ini pada tahun 1945 menjadi Indonesia. Mereka juga ikut berjuang dalam menegakkan orang-orang yang tinggal di wilayah ini menjadi merdeka dan membentuk bangsa yang disebut Bangsa Indonesia. Bahkan Pram menantang mereka-mereka yang anti-cina untuk memeriksa diri, apakah mereka benar-benar bersih dari darah Cina.

    Akibat dari karyanya ini, Pram langsung ditangkap saat baru pulang dari bepergian ke China. Ia ditahan di Rutan Militer (RTM) dan kemudian dipindahkan ke Penjara Cipinang. Buku Hoakiau yang laris itu kemudian dilarang beredar.

    Bagaimana muasalnya Pram menjadi begitu membela Tionghoa (Cina)? Buku “Pram dan Cina” ini menjelaskan evolusi landasan Pram dalam karirnya sebagai penulis. Buku ini merupakan himpunan dari 3 tulisan yang membahas tentang bagaimana Pram pada tahun 1960-an begitu getol membela orang Tionghoa. Pertama adalah tulisan Hong Liu, Direktur Centre for Chinese Studies dan Confucius Institute University of Manchester, Inggris. Tulisan kedua adalah karya Goenawan Mohamad, seorang wartawan Majalah Tempo. Tulisan ketiga adalah karya Sumit Kumar Mandal, seorang Pengajar di Institut Kajian Malaysia dan Antarbangsa (IKMAS), Universiti Kebangsaan Malaysia.

    Di bagian pengantar, JJ Rizal sebagai editor buku ini menjelaskan bahwa simpati Pram terhadap Cina sudah muncul saat ia ditugaskan untuk meliput perang Cina – Jepang oleh Adam Malik pada Perang Dunia II (hal. x). Simpati Pram tumbuh dari peliputan tersebut. Setelahnya Pram semakin serius membaca karya-karya sastrawan Cina. Puncaknya terjadi saat tahun 1956 dan tahun 1958 ia mendapat undangan untuk mengunjungi Cina.

    Di kunjungannya yang kedua pada tahun 1958 Pram mendapat seorang penterjemah bernama Chen Xiaru. Hubungan Pram dengan penterjemahnya saat ia melawat ke Tiongkok sangat akrab. Itulah sebabnya ada yang menengarai bahwa perempuan yang menjadi tujuan dari surat-surat Pram – Pram menulis Haokiau dalam bentuk surat-surat kepada seorang perempuan bernama Ch. Hs-y, sesungguhnya adalah Chen Xiaru (hal. 95).

    Hong Liu mengupas tentang perubahan landasan Pram dalam bersastra. Kunjungannya ke Cina pada tahun 1956 telah mengubah sosok Pram sebagai penulis humanis universal menjadi realisme sosial (hal. 42). A Teeuw menyebutkan dampak kunjungan tersebut membuat “lamunan sang penyair telah bertukar dengan aksi sang pejuang sosial” (hal. 2).

    Sebagai seorang penulis muda potensial, Pram memnjadi rebutan dua kubu. Mula-mula kubu barat mencoba mempengaruhi Pram. Pram mendapatkan kesempatan kunjungan ke Belanda pada tahun 1953. Alih-alih membuat Pram kagum akan perkembangan Barat, Pram justru menjadi lebih kritis terhadap negeri penjajah yang “kontras dengan negerinya” (hal. 7).

    Meski sebagai seorang penulis yang masyhur, namun tulisan Pram sama sekali tidak prokomunis. Pram kemudian menjadi target PKI untuk digarap. Pram yang awalnya digolongkan sebagai kelompok penulis “borjuis kecil” berhasil digiring menjadi seorang penulis yang pro dengan gagasan sastra untuk rakyat (hal. 19). Dari seorang penulis yang berjarak menjadi seorang penulis yang memihak (hal. 36).

    Goenawan Mohamad menyoroti bagaimana buku Hoakiau yang menimbulkan polemik. Namun sayang, lawan politik Pram tidak menanggapinya secara kontraargumen, tetapi malah menanggapinya dengan bedil (hal 75).

    Goenawan Mohamad memuji Pram yang menyusun bukunya dengan argumen yang luar biasa. Pram memakai data-data dari catatan sejarah, data statistik dan kutipan berita koran untuk membangun argumennya dalam mendukung warga Tionghoa. Goenawan sangat terkesan akan argumen Pram untuk melawan “Perikemanusiaan limited” yang dipakai oleh pihak anticina (hal. 75).

    Catatan Goenawan Mohamad ini tentu menjadi sangat penting untuk mengukuhkan betapa Pram adalah seorang yang memegang teguh perikemanusiaan. Sebab Goenawan adalah pihak yang berseberangan dengan Pram dalam bersastra di eranya.

    Sedangkan Kumar menjelaskan lebih mendalam tentang buku Hoakiau Indonesia ini. Menurut Kumar, Hoakiau Indonesia bukanlah sekadar protes Pram terhadap perlakuan negara kepada keturunan Cina. Melalui buku ini Pramoedya telah menciptakan suatu karya dan sebuah argumentasi sejarah yang lebih dari sekadar pembelaan terhadap orang-orang Tionghoa di Indonesia (hal. 88).

    Kumar membahas lebih mendalam latar belakang situasi politik lahirnya Hoakiau Indonesia dan akibatnya pada kehidupan pribadi Pram. Pram disingkirkan, dipenjara.

    Kumar juga mengulas mengapa Pram memilih kata Hoakiau daripada Cina atau Tionghoa. Padahal istilah Hoakiau kurang dikenal di Indonesia. Hoakiau sendiri awalnya digunakan untuk menunjuk kepada orang tionghoa perantauan. Namun Pram justru menggunakan istilah ini untuk menunjuk kepada Tionghoa Indonesia. Pram memilih istilah hoakiau dengan maksud pembacanya memikirkan kembali arti istilah tionghoa yang menurutnya diciptakan justru untuk sikap anti-tionghoa (hal. 113). Menurut Pram persatuan orang-orang Tionghoa dengan bangsa Indonesia adalah suatu persatuan yang demikian akrabnya sehingga suatu percobaan untuk mengasingkan [orang Tionghoa] adalah sangat merugikan kepribadian nasional hal. 116). 669

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.