Berakhirnya Tradisi Maritim di Jawa - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Peta Pulau Jawa. Wikipedia

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Senin, 11 April 2022 20:33 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Berakhirnya Tradisi Maritim di Jawa

    Jawa mengalami kejayaan maritim di era Sriwijaya, Majapahit, dan sampai era kesultanan-kesultanan. Kecuali, tiba di saat Mataram berhasil mendominasi sesudah surutnya Kesultanan Demak, budaya maritim pun dipangkas oleh Susuhunan dari tradisi Jawa.

    Dibaca : 1.258 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada medio 1658, hubungan diplomatik antara Mataram dengan Kesultanan Gowa yang telah dijalin oleh Sultan Agung hancur akibat ulah putaranya sendiri, Susuhunan Amangkurat I. Duta-duta dari Kesultanan Gowa ditolak oleh Susuhunan Amangkurat I sebab ia menginginkan agar Sultan Hasanuddin sendiri yang datang ke Jawa; dimana permintaan ini tentu saja ditolak oleh orang-orang Makassar.

    Sebelumnya, pada masa pemerintahan Sultan Agung, persekutuan antara Mataram dengan Gowa merupakan kekuatan besar yang mampu menahan masuknya monopoli orang-orang Eropa di wilayah timur Nusantara. Selain itu, aliansi yang dibangun oleh dua kerajaan tersebut, juga efektif dalam mengisolasi kekuasaan raja-raja di Bali yang pada masa itu terlibat permusuhan dengan Mataram maupun Gowa dan sedang giat mencari celah untuk melakukan ekspansi terhadap Banyuwangi dan Lombok.

    Pada masa ini hegemoni Makassar telah membentang dari Sulawesi hingga ke pulau-pulau di Nusa Tenggara, dan pengaruh kekuasaan Mataram telah melingkupi sebagian besar Jawa, Madura, bahkan hegemoninya terasa sampai di Sukadana (di Kalimantaran), Palembang dan Jambi. Namun memasuki tahun 1668, era kekuasaan Amangkurat I yang memerintah Mataram mulai menunjukan tanda-tanda kemundurannya. Hal ini terlihat dari munculnya berbagai pemberontakan ataupun pertikaian yang sumbernya justru berasal dari pusat kekuasaan Mataram sendiri.

    Selain itu, kebijakan Amangkurat I yang melarang rakyatnya melakukan perniagaan ke luar pulau, juga menjadi anti klimaks bagi kejayaan maritim orang Jawa. Amangkurat I menginginkan agar para pedaganglah yang datang ke Jawa. Sedangkan di sisi lain, VOC yang amat berambisi menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara, dengan begitu langsung mendapatkan peluang untuk menyingkirkan salah satu saingan terberatnya, yaitu para pedagang Jawa.

    Bahkan, ketika terjadi perjanjian pertama antara Amangkurat I (Mataram) dengan VOC, terdapat satu klausul yang menyebutkan bahwa VOC akan menghalangi sebanyak mungkin perdagangan dari pesisir utara Jawa, khususnya dari Gresik (Giri) dan Surabaya. Salah satu sumber Belanda menyebutkan, ".... raja tidak menghendaki kawula-kawulanya pergi berlayar dan berdagang ke tempat-tempat lain, malahan menginginkan bahwa semua pedagang akan datang ke pelabuhannya dan mengunjungi negaranya".

    Selain itu, juga disebutkan bahwa raja Mataram berhasil memonopoli perdagangan beras melalui pelabuhan di Jepara, dimana pelabuhan ini menjadi satu-satunya pintu ekspor bagi seluruh daerah kekuasaan Mataram di Jawa. Monopoli ini menghasilkan keuntungan yang besar bagi raja, dan semua uang yang diperoleh di Jepara langsung dibawa ke Kraton Mataram.

    Selain mengusahakan sektor pertanian yang menjadi penopang utama ekonomi kerajaan, raja juga memerintahkan agar rakyat menenun teksil. Perintah Amangkurat I ini ternyata cukup efektif dan terbukti mampu menurunkan penjualan teksil VOC ke Mataram.

    Namun, sewaktu memuncaknya hegemoni Mataram, kemajuan ekonomi di Jawa nampak hanya berkembang pada sektor produksi dan banyak mengabaikan bidang-bidang jasa perdagangan. Selanjutnya, dalam tahun 1677, Kantor Maskapai Perdagangan Hindia-Belanda (VOC) di Batavia melaporkan bahwa orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal besar. Dari sinilah sebagian sejarahwan menyimpulkan bahwa jung dan tradisi besar maritim Jawa musnah bukan hanya akibat ekspansi militer orang-orang Eropa, melainkan juga akibat tindakan represif Sultan Agung dan raja Mataram penggantinya yang bersikap “anti perniagaan”.

    Kebijakan raja Mataram itu menjadi jalan pembuka yang amat menguntungkan VOC. Dan, kuasa VOC atas laut juga mengembang seiring kalahnya Makassar oleh invasi VOC. Di tahun 1674, orang-orang Makassar pimpinan Kraeng Galesong, yaitu sisa-sisa pendukung Sultan Hasanuddin yang telah dikalahkan VOC pada tahun 1668, tiba di Jawa dan menghadap kepada Amangkurat I. Orang-orang bekas pasukan Makassar ini meminta agar Amangkurat sudi memberikan sebidang tanah guna membuat perkampungan. Namun permintaan ini segera ditolak oleh Amangkurat I. Maka, Kraeng Galesong beserta para pengikutnya pun pergi menggabungkan diri dengan Trunojoyo yang melakukan pemberontakan terhadap Mataram. Untuk mempererat hubungan diantara keduanya, dilangsungkan pula perkawinan putri Trunojoyo dengan putra Kraeng Galesong.

    Selain bersama Kraeng Galesong, pemberontakan Trunojoyo juga didukung oleh Panembahan Giri, yaitu keturunan dari Sunan Giri di Gresik. Di akhir Februari 1677, VOC meneken persekutuan dengan Wangsadipa yang bertindak atas nama Susuhunan Amangkurat I. Dalam perjanjiannya VOC berkomitmen melindungi Susuhunan dari semua musuh yang tidak terikat perjanjian damai dengan VOC. Dan, sebagai imbalannya, VOC akan dibebaskan dari pajak lalu lintas barang, bebas mengimpor dan mengekspor komoditas apapunm bebas mendirikan pos dagang di manapun, termasuk diberi keleluasaan menggunakan kayu dan tenaga kerja manusia Mataram sebanyak yang dibutuhkan.

    Sebaliknya, Mataram dilarang mengadakan hubungan dan perjanjian dagang dengan pihak Makassar, Melayu dan Moor (kaum Muslim non-Indonesia). Selain itu, Susuhunan harus menjual beras kualitas prima sebanyak 6.400 ton per tahun kepada VOC, yang dibayar dengan harga pasar. Dan, dalam waktu tiga tahun ke depan, Susuhunan harus membayar tunai sebesar Sp.RI 250.000 (Sp.RI adalah mata uang real Spanyol yang dipakai sebagai alat tukar di Jawa saat itu) plus beras sebanyak 5.000 ton. Kemudian, apabila perang berlangsung sampai melewati akhir Juli 1677, Amangkurat I harus membayar ongkos tambahan sebesar Sp.RI 20.000 per bulan. Itu belum termasuk biaya operasi benteng di Danareja, yang harus ditanggung sepenuhnya oleh Susuhunan.

    Padahal, kekayaan Amangkurat I pada 1677, menurut taksiran cuma berkisar antara Sp.RI 300.000-350.000. Dengan kata lain, bila perang berakhir pada bulan Juli 1677 pun —yang dikemudian hari ternyata tak usai secepat itu-- imbalan yang harus dibayar kepada VOC akan meludeskan seluruh kekayaan Mataram. Jadi, siapa pun raja Mataram sesudah Amangkurat I, cuma mewarisi negeri dengan hutang tak terbilang.

    Tetapi, Speelman yang merasa belum puas oleh jaminan Wangsadipa sehingga Jacob Couper, pegawai VOC keturunan Skotlandia yang fasih berbahasa Jawa, dikirim untuk langsung menghadap Amangkurat I guna mendapatkan ratifikasi perjanjian tersebut. Couper pun kembali pada 24 Maret 1677 dengan ratifikasi yang distempel oleh sang putera mahkota, karena Amangkurat I ternyata gering (sakit) dan tak lagi sanggup menjalankan roda pemerintahan.

    Amangkurat I yang gering (sakit) lari ke Jepara ditemani putera mahkota dan adiknya, Pangeran Adipati Mataram. Untuk sementara, upaya merebut kembali kraton dilimpahkan kepada Pangeran Puger dan dua orang adiknya. Pangeran Puger pun mengambil alih kraton yang sudah hancur akibat serangan Trunojoyo dan malah mengangkat dirinya sendiri menjadi penguasa di Plered dengan gelar Senopati ing Alaga Sayidin Panotogomo.

    Amangkurat I wafat pada 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas, dan berwasiat agar dimakamkan dekat gurunya di Tegal. Konon karena tanah daerah tersebut berbau harum, maka desa tempat Amangkurat I dimakamkan kemudian disebut dengan nama Tegalwangi atau Tegalarum, dan Susuhunan Amangkurat I yang dimakamkan di tempat tersebut dikenal pula dengan sebutan Sunan Tegalwangi atau Sunan Tegalarum. Sebelum meninggal, Amangkurat I juga sempat mewasiatkan agar Mas Rahmat meminta bantuan VOC dalam upayanya menumpas Trunojoyo.

    Mas Rahmat atau Adipati Anom kemudian dirajakan dalam pelariannya dengan gelar Susuhunan Amangkurat II. Ia adalah raja Jawa yang pertama kali mengenakan pakaian dinas ala Eropa sehingga juga dikenal dengan sebutan Sunan Amangkurat Amral, yakni dialek Jawa untuk menyebut kata “Admiral”.

    Di Batavia, bersamaan dengan kematian Gubernur Jendral Maetsuycker pada 4 Januari 1678, pengaturan urusan Belanda beralih pada Rijklof van Goens, sosok yang banyak disebutkan sebagai seorang pemimpin yang lebih berjiwa perang. Ia memanggil Speelman untuk kembali ke Batavia dan menjadi anggota paling berpengaruh dalam Dewan Hindia. Sementara itu, pasukan Kompeni yang telah diperkuat dan dipimpin oleh Anthony Hurdt, berhasil masuk ke pedalaman Jawa dan bertempur sampai ke Kediri untuk mendesak Trunojoyo.

    Susuhunan Amangkurat II yang sebelumnya telah menemui Speelman di Semarang, selanjutnya bersedia sekali lagi menyetujui perjanjian dengan isi: 1. Perjanjian 1646 tetap berlaku. 2. Daerah VOC di Jawa Barat diperluas ke timur, sampai sungai Pamanukan dan ke selatan hingga Samudera Hindia. 3. Semua Bandar di pantai Jawa dikuasai VOC selama Mataram belum dapat melunasi biaya perang (digadaikan). 4. VOC dibebaskan dari bea ekspor barang-barang.

    Setelah basis pertahanannya sedikit demi sedikit dapat dikuasai oleh VOC, Trunojoyo akhirnya menyerah dalam kepungan di daerah lereng Gunung Kelud. Pada tanggal 26-27 Desember 1679, seorang perwira VOC keturunan Ambon yang bernama Kapiten Jonker berhasil membuat Trunojoyo menyerah di sekitar Gunung Anjasmoro. "Ia mengenakan jubah satin hitam, bersorban hitam dengan cincin emas di sekitarnya dan celurit hitam panjang di tangannya", tulis sebuah laporan VOC.

    Jonker kemudian menyerahkan Trunojoyo kepada Couper, yang lalu membawanya ke hadapan Amangkurat II di Payak, Bantul. Sesudah menumpas pemberontakan Trunojoyo, Pangeran Puger (Susuhunan ing Alaga) yang sempat mengisi kekosongan istana selama Amangkurat I melarikan diri, juga segera diturunkan dari kekuasaanya di Plered. Sesudah benar-benar merasa menjadi orang nomer satu, Amangkurat II pun memerintahkan pemindahan kraton yang sudah ambruk ke Kartasura.

    Bersamaan dengan padamnya pemberontakan Trunojoyo, Mataram pun berhutang biaya perang yang amat besar pada VOC. Melalui perjanjian, kota-kota pelabuhan di pesisir utara Jawa mesti diserahkan sebagai kompensasi bagi VOC, yakni sampai Mataram dapat melunasi hutang-hutangnya. Sementara itu, di Madura, Cakraningrat II dikembalikan kekuasaannya oleh VOC dan tetap menjadi bawahan Mataram.

    Ketika sebelumnya, ayah dan kakek Amangkurat II mengklaim dirinya sebagai penguasa Jawa yang mewarisi kekuasaan Majapahit serta menuntut bagian dari upeti dari Batavia, maka Amangkurat II praktis menjadi mitra bawahan Kompeni langsung di awal masa pemerintahannya. Seterusnya, VOC juga menjadi pihak yang amat berperan dalam penentuan suksesi dan praktek kekuasaan baik di Madura maupun Mataram. Dan, bukan saja berhasil mendominasi Jawa secara politik, kemerosotan Mataram juga menjadi jalan bagi Belanda untuk mengambil alih ratusan tahun kuasa Maritim yang sebelumnya dipegang oleh orang-orang Jawa.[]

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.478 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi