Memaknai Fakta dan Fiksi dalam Novel - - www.indonesiana.id
x

Gita Indah Cahyani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 Maret 2022

Selasa, 12 April 2022 06:43 WIB

  • Topik Utama
  • Memaknai Fakta dan Fiksi dalam Novel

    Kebenaran yang ada di dalam fiksi tidaklah harus sama dan memang tidak selalu perlu disamakan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Karena di dalam dunia fiksi yang penuh dengan imajinatif dan dunia nyata memiliki sistem hukumnya tersendiri yang bisa saja dapat berbeda-beda. Ada perbedaan antara kebenaran yang ada di dalam dunia fiksi dengan kebenaran yang ada di dunia nyata. Kebenaran yang ada di dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan sudut pandang sang penulis, dan kebenaran yang telah diyakinin benar sesuai dengan pandangannya terhadap masalah-masalah dalam tulisannya.

    Dibaca : 488 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dalam novel, pasti terdapat fakta dan fiksi, namun seringkali pembaca mungkin terkecoh dengan apa yang fakta dan fiksi dalam suatu novel, seperti tempat atau waktu kejadian, nama-nama dari tokoh, dan peristiwa yang melatari sama dengan fakta yang ada. Mungkin beberapa pembaca dibuat bingung apakah peristiwa di novel yang ia baca bisa saja terjadinya di dunia nyata mengingat banyak elemen yang memiliki kesamaan di dalam novel tersebut terhadap dunia asli.

    Untuk lebih jelasnya berikut merupakan pendapat para ahli tentang fiksi. Abrams dalam buku karangan Nurgiantoro, menyatakan bahwa Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut fiksi, teks naratif atau wacana naratif. Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan atau cerita khayalan. Hal ini disebabkan fiksi merupakan karya naratif yang isinya tidak menyaran pada kebenaran sejarah.  Pendapat Abrams juga dipertegas oleh Nurgiantoro. Nurgiantoro, berpendapat bahwa karya fiksi adalah karya yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, sesuatu yang tidak ada dan terjadi sungguh-sungguh sehingga ia tak perlu dicari kebenarannya dalam dunia nyata.

    Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa novel hanyalah sesuatu yang diciptakan berdasarkan khayalan. Sebagai karya fiksi atau berasal dari imajinasi seseorang, novel bisa saja menuliskan dan menggambarkan dengan nyata berbagai permasalahan-permasalahan manusia. Penulis menghayati kejadian-kejadian tersebut dan kemudian kemudian diungkapkan kembali dalam fiksinya sesuai dengan pandangannya.

    Lalu berseberangan dengan pendapat Abrams, fiksi menurut pandangan Altenbernd dan lewis adalah prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia. Maksud dari mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia adalah dengan menjadikan pengalaman atau pengamatan penulis yang menjadi dasar dari fiksinya sebagai hiburan dan contoh dalam kehidupan manusia yang mungkin dapat dipetik pelajarannya. Namun baik penulis ataupun pembaca harus dapat menyeleksi apa tujuan dramatisasi hubungan tersebut dalam fiksi agar mendapat pembelajaran yang benar.

    Penyeleksian pengalaman kehidupan yang akan diceritakan tersebut tentu saja bersifat subjektif. Disimpulkan oleh Ira Rahayu bahwa fiksi menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesame, interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan.

    Fiksi adalah hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi penulis dari pengamatannya pada lingkungan dan kehidupan yang telah dia observasi dan amati. Fiksi bukan saja hanya sekedar khayalan atau imajinasi belaka, namun juga penghayatan dan perenungan secara intens. Pembahasan terhadap hakikat hidup dan kehidupan. Perenungan dengan kesadaran dan tanggung hawab. Fiksi adalah karya imajinatif yang didasari oleh kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagai karya seni.

    Fiksi memberikan bayangan kehidupan sebagaimana yang diidealkan oleh penulis sekaligus menunjukan tokohnya sebagai karya seni yang berunsur estetik dominan. Berbeda dengan fiksi, fakta adalah sesuatu yang benar-benar ada dan terjadi di dunia nyata dan kebenarannya dapat dibuktikan dengan data-data yang ada. Dalam dunia fiksi, mungkin ada beberapa unsur yang masih berhubungan dengan fakta dan merujuk pada data yang nyata. Mungkin dalam fiksi itu ada data yang dapat dirujuk, diobservasi, dan dinilai secara objektif.

    Berbeda dengan para ilmuwan sains yang mengolah data menurut fakta yang sebenar-benarnya, penulis fiksi menggunakan data lalu mengombinasikannya dan menambah atau mengurangi atau bahkan memanipulasi data itu dengan imajinasinya. Sumber dari karya-karya baik karya ilmiah atau karya yang bersifat estetik adalah alam serta segala peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya yang membendakannya hanyalah dalam cara kita memandangnya, meyakininya, dan mengungkapannya. Dan dalam peristiwa-peristiwa tersebut pun baiknya kita memiliki prinsip tujuan yang sama yaitu menemukan kebenaran, mengungkapkan rahasia kehidupan, membantu kesulitan orang banyak, memberikan jalan untuk mengenali kehidupan, memudahkan dalammenjalani kehidupan, dan lain-lain.

    Novel adalah karya fiksi imaginatif yang memberikan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diromantisasi, didramatisasi, berdasarkan dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur seperti peristiwa, alur, tokoh dan penokohan, sudut pandang, latar dan yang lainnya yang semuanya bersifat fiksional atau imajinatif. Kesemuanya itu bersifat tidak nyata karena dengan sengaja dikreasikan oleh penulis dan dibuat mirip. Penulis juga menganalogikan fiksinya dengan dunia nyata lengkap dengan peristiwa-peristiwa dan latar aktualnya sehingga tampak seperti sungguh ada dan terjadi.

    Menurut Teeuw, kebenaran dalam karya fiksi tidak harus sejalan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata, misalnya kebenaran dari segi hukum, moral, agama, bahkan logika dan sebagainya. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan tidak dianggap benar di dunia, dapat saja terjadi dan dianggap benar di dunia fiksi. Adanya ketegangan yang terjadi karena hubungan faktual dan kebenaran imajinatif, sebenarnya juga bersumber dari pandangan Aristoteles. Karya sastra merupakan paduan antara unsur mimetik dan kreasi, peniruan dan kreativitas, khayalan dan realitas. Teori mimetik menganggap bahwa fiksi hanya merupakan peniruan atau pencerminan terhadap realitas kehidupan, sekaligus merupakan hasil kreativitas penulis.

    Kebenaran yang ada di dalam fiksi tidaklah harus sama dan memang tidak selalu perlu disamakan dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Karena di dalam dunia fiksi yang penuh dengan imajinatif dan dunia nyata memiliki sistem hukumnya tersendiri yang bisa saja dapat berbeda-beda. Ada perbedaan antara kebenaran yang ada di dalam dunia fiksi dengan kebenaran yang ada di dunia nyata. Kebenaran yang ada di dalam dunia fiksi adalah kebenaran yang sesuai dengan sudut pandang sang penulis, dan kebenaran yang telah diyakinin benar sesuai dengan pandangannya terhadap masalah-masalah dalam tulisannya.

    Novel terkadang digunakan untuk memberikan bayangan sejarah pribadi, untuk memberikan pengajaran kepada pembaca, untuk menghibur orang lain, menyediakan contoh-contoh untuk argumen dan untuk merekam sejarah budaya dan dunia. Novel berkemungkinan mengandung fakta dalam kehidupan sehari-hari akan tetapi, yang menjadi masalah bagaimana mengetahui fakta dan fiksi dalam novel tersebut. Satu hal yang perlu diperhitungkan adalah adanya imajinasi. Unsur itu yang membedakan yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari karya fiksi. Imajinasi menurut Kleden adalah kemampuan seseorang untuk melihat sesuatu dari sudut lain, menembus batas apa yang akan terjadi sendirinya. Ia merupakan ungkapan lain secara sepesifik. Seorang penulis melalui imajinasinya menciptakan imago, image, citra. Ini yang membuat kemasing-masingan, keberbedaan diantara karya fiksi. Dalam mengungkapkan atau mempresentasikan lingkungannya pun penulis selalu menggunakan citra. Dalam ilmu tidak ada imajinasi. Di situ hanya ada abstraksi yang berfungsi melepaskan dari ikatan waktu tempat dan konotasi.

    Dalam karya fiksi, imajinasi penulis yang bebas bisa menjadi bahan yang sangat menarik untuk dibaca dan dengan fiksi imajinasi pun penulis diberikan kesempatan untuk menemukan, mencoba, dan menciptakan banyak alur dan cerita. Bagian inilah yang menjadikan fiksi menjadi menarik. Tanpa imajinasi, karya fiksi akan terkesan datar dan membosankan.Dalam pengalaman baca prosa fiksi tidak ada pondamen atau tidak dapat terlintas jarak antara kehidupan keseharian pembaca dan kehidupan yang dipresentasikan dalam novel. Ketika pembaca membaca novel maka pembaca dapat masuk dengan dunianya sendiri. Imajinasi pembaca masuk menelusuri pengalaman yang disiapkan penulis. Melalui sarana cerita, pembaca secara tidak langsung dapat belajar merasakamdan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang secara sengaja ditawarkan penulis.

    Sumber Pustaka

    Nurgiantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

    Ira Rahayu. Analisis Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer Dengan Pendekatan Mimetik. Jurdiksatrasia Unswagati Cirebon                                                                                                                                   

    Ikuti tulisan menarik Gita Indah Cahyani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.