Perjalanan ke Dalam Diri - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Cendekiawan. Ilustrasi dari Convegni Ancisa, Pixabay

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Rabu, 13 April 2022 09:57 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Perjalanan ke Dalam Diri

    Anda pasti sudah terbiasa melakukan perjalanan ke banyak tujuan. Tapi sudahkah anda melakukan perjalanan ke dalam diri sendiri? Apa maksudnya? Temukan paparannya di artikel ini.

    Dibaca : 912 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perjalanan ke Dalam Diri

     

    Bambang Udoyono

     

    Anda pasti sudah terbiasa melakukan perjalanan secara fisik, perjalanan beneran.  Setiap hari Anda pergi ke sekolah.  Kaum ibu pergi ke pasar. Kaum bapak pergi ke kantor, tempat kerja dll.  Kadang kita melakukan perjalanan wisata ke berbagai destinasi wisata.  Tapi kali ini kita akan membahas perjalanan non fisik.  Jangan kuatir, ini bukan klenik.  Mari kita bahas.

     

    When will you begin that long journey into yourself? Kalimat itu lagi lagi kutipan dari Maulana Jalaludin Rumi, Sufi kondang dari abad 13.  Arti harafiahnya – kapan anda mulai perjalanan panjang menuju ke diri sendiri? Tentu saja dia tidak sedang membahas perjalanan fisik.  Lalu perjalanan apa yang dia maksud?  Mari kita bahas.

     

    Perkiraan saya Rumi sedang menekankan atau mengingatkan pada kita untuk segera melakukan muhasabah diri sendiri.  Dia menyarankan kita mengevaluasi diri kita sendiri.  Dalam Islam memang ada perintah untuk mawas diri dengan tujuan tentu saja untuk memperbaiki diri.  Di dalam Al Qur’an Allah swt berfirman: ”Hai orang orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Hasyr ayat 18)

     

    Kemudian ada juga hadist yang senada.   “Dari Syadad bin Aus r.a, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”.  (HR. Imam Turmudzi).

     

    Kalau ada perintah tegas seperti itu artinya kegiatan ini sangat penting. Semua orang pasti memiliki kelemahan, maka sebaiknya melakukan evaluasi diri dengan jujur.  Di sinilah kesulitannya.  Kita sulit jujur pada diri sendiri. Kendalanya adalah ego. Meskipun susah untuk melakukan dengan sempurna, tapi paling tidak ada upaya yang terus menerus.  Apa yang perlu dievaluasi?

     

    Paling tidak dua hal.  Pertama soal hubungan kita kepada Allah swt.  Silahkan tengok semua tindakan ibadah kita. Temukan titik lemahnya sebagai bahan memperbaiki diri. Kedua peran sosial kita.  Apakah sudah baik peran kita sebagai orang tua?  Apakah sudah berdampak baik pola asuh kita?  Meskipun sudah baik upayakan meningkatkan lagi.  Bagaimana caranya?  Salah satunya adalah dengan membaca buku parenting

     

    Kalau untuk peningkatan karir ada baiknya anda melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat).  Kenali kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman Anda.  Hasil analisis itu bisa menjadi bahan untuk melakukan rencana tindakan ke depan.

     

    Dalam budaya Jawa ada sebuah lakon (cerita) wayang berjudul Dewo Ruci.  Intinya  sang tokoh yang bernama Bimoseno melakukan perjalanan spiritual ke dalam dirinya sendiri dan menemukan jati dirinya yang memberikan kenikmatan tiada tara.  Tafsir saya sang pujangga ingin berpesan agar kita melakukan hal yang sama untuk menemukan jati diri kita. Itulah modal kita untuk menjalankan peran sosial di masyarakat. Dengan menemukan jati diri itu kita bisa memaksimalkan peran sosial sebagai apa saja.  Ada yang berperan sebagai guru, pedagang, pegawai pemerintah, ilmuwan dsb.  Di dalam keluarga kita juga akan maksimal memainkan peran sebagai bapak, ibu, kakek, nenek, adik, kakak, anak, keponakan dsb.

     

    Peran sosial yang baik itu adalah amal kita kalau dalam Islam. Itulah kontribusi kita kepada keluarga dan masyarakat.  Dan Allah berjanji akan membalas setiap amal baik dengan balasan yang berlipat.

     

    Dalam Al Qur’an  ada ayat yang memerintahkan manusia untuk melihat ke dalam dirinya sendiri untuk mengetahui dan mengagumi kehebatan Alah swt.

     

    Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang meyakini(QS Al Jatziya ayat 4)

    Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri; maka apakah kamu tidak memperhatikan? [adz-Dzâriyât/51:20-21].

     

    Jadi monggo ‘mengaca’.  Lihatlah diri Anda sendiri. Lakukan self assesment dengan jujur dan obyektif. Di sinilah tantangannya. Tidak mudah memandang diri sendiri dengan jujur.  Lepaskan topengmu.  Semoga kita mampu melakukannya dan menjadi insan yang lebih baik, yang lebih bermanfaat untuk liyan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.