Keterkaitan Demo 11 April dengan Sastra - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Please Don\x27t sell My Artwork AS IS dari Pixabay

Hanifah Izzati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 13 April 2022

Kamis, 14 April 2022 07:10 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Keterkaitan Demo 11 April dengan Sastra

    Pergerakan Demo 11 April memiliki keterkaitan dengan sastra utamanya sebagai sistem semiotik. Semiotik adalah tanda-tanda yang memiliki makna. Tanda-tanda tersebut antara lain, yaitu tanda gerak/isyarat, tanda bunyi, tanda tulisan, dan tanda gambar.

    Dibaca : 673 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Demo merupakan pergerakan massal bertujuan mengeluarkan aspirasi masyarakat terkait peraturan perundang-undangan yang sekiranya kurang pas, apabila diterapkan di lingkungan masyarakat saat ini. Menurut KBBI kata "demonstrasi" adalah pernyataan protes yang dikemukakan secara massal atau unjuk rasa.

    Menurut KBBI sastra merupakan bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); kesusastraan. Sastra memiliki sistem, salah satunya adalah sastra sebagai sistem semiotik. Semiotik adalah tanda yang memiliki makna, macam-macam tandanya yaitu tanda gerak/isyarat, tanda bunyi, tanda tulisan, dan tanda gambar.

    Pada hari Senin, 11 April 2022 terjadi sebuah peristiwa yang akan menjadi sejarah Indonesia. Peristiwa demo 11 April yang dilakukan oleh para mahasiswa untuk menyuarakan suara aspirasi masyarakat. Demo tersebut berisi tuntutan untuk para pemerintah, isi tuntutan tersebut, yaitu:

    1. Tuntutan pembatalan wacana jabatan presiden 3 periode dan penundaan pemilu 2024

    2. Tuntutan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti BBM dan minyak goreng.

    3. Tuntutan tentang permasalahan agrari di Indonesia - mendesak pemerintah untuk kasus pemerintah pelanggaran HAM, dan mendesak pemerintah untuk meninjau kembali UU (UU KPK, UU Minerba, UU cipta kerja, UU IKN, dan UU bermasalah lainnya). 

    Demo yang semula dijadwalkan di depan istana, berpindah ke DPR. Tujuan dari pindahnya lokasi demo untuk menertibkan demonstran. Para demonstran juga memiliki berbagai macam cara untuk menyampaikan pendapatnya, ada juru bicara yang menjadi pusat penyampaian, ada yang membuat poster, spanduk, serta membawa bendera.

     Dari narasi diatas, apa hubungan antara Demo 11 April dengan sastra?

    Hubungannya terdapat pada bahasa semiotik. Bahasa Semiotik adalah salah satu macam sastra yang memakai tanda dengan makna tertentu. Demo merupakan contoh nyata dari kesastraan. Bahwa sastra berdampingan dengan keseharian manusia.

    Demo memakai Sastra sebagai sistem semiotik, yang dimana demo tersebut menggunakan banyak tanda-tanda yang bermakna, seperti:

    Pertama, tanda gerak/isyarat yang dilalukan dengan kegiatan demo di tempat DPR tersebut, dengan hadir para pendemo bukan serta merta ingin membuat keributan tetapi dengan pembuktin kesungguhan menyampaikan aspirasi masyarakat. 

    Kedua, tanda bunyi yang digunakan oleh juru bicara, juru bicara berdiri di tengah-tengah demonstran serta menjadi pusat penyampaian keluhan, serta pemberi aba-aba pergerakan demonstran. Dan perlu kalian ketahui tanda bunyi dalam demo tidak hanya dengan kata-kata, namun bisa juga dengan nyanyian atau pembacaan puisi yang terkait demo. 

    Ketiga, tanda tulisan terdapat pada poster dan spanduk yang berisi sindiran. Se-kreatifnya para mahasiswa dalam membuat kata-kata sindiran namun tidak menghina, dan menggambar poster-poster sebagai media pendukungnya.

     Jadi, kesimpulannya adalah demo memiliki keterkaitan dengan sastra yaitu pada sistem semiotiknya. Pada tanda-tanda demo yang memiliki banyak makna. Mengartikan gerakan dari mahasiswa terkait Demo 11 April ini adalah keinginan untuk perubahan Indonesia yang lebih baik.

     

    Ikuti tulisan menarik Hanifah Izzati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Hadirat Syukurman Gea

    1 hari lalu

    Analisis Sistem Jual-Beli Ijon pada Komoditas Mangga Berdasar Ekonomo Makro

    Dibaca : 168 kali

    Mangga merupakan salah satu komoditas buah yang digemari hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mangga turut menyumbang perekonomian Indonesia karena menjadi komoditas yang di ekspor. Pada tahun 2015, ekspor mangga sebesar 1.515 jutatonyangsebagianbesarmerupakanjenis Mangga Gedong Gincu dan Mangga Arumanis. Kabupaten Kediri merupakan salahsatudaerahyang menjadikan mangga khususnya Mangga Podang sebagai oleh - oleh khas daerah dikarenakan banyaknya pohon mangga yang tumbuh di sekitar lereng GunungWilis.ManggaPodangkhasKediri banyak ditemukan di daerah sekitar lereng Gunung Wilis yaitu Kecamatan Banyakan, Tarokan, Grogol, Mojo, dan Semen. Semakin berkembang perekonomian suatudaerahmakasemakinberagam pula cara produsen dan konsumen melakukan jual beli.Salah satu sistem jual beli yang dilarang dalam Islam adalah jual beli yang mengandung unsur gharar. Sistem jual beli ijon adalah salah satu sistem jual beli yang mengandung unsur gharar sehingga dilarang oleh Allah SWT. Ijon berkaitan dengan perilaku produsen dan konsumen. Hal ini dapat dikaitkan dengan ekonomi mikro berupa keputusan pengusaha dan konsumen, terbentuknya harga barang atau jasa dan faktor produksi tertentu di pasar, dan alokasi sumber daya ekonomi.Penelitian ini menggunaka nmetode penelitian studi literatur. Jenis data yang digunakan berupa data sekunder dengan metode pengumpulan data berupa pengumpulan sejumlah studi pustaka. Berdasarkan studi literatur terkait sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro, diperoleh hasil analisis bahwa sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro saling berhubungan. Hal ini dikarenakan ijon berkaitan langsung dengan perilaku produsen dan konsumen dan ekonomi mikro turut mengatur perilaku produsen dan konsumen. Keywords: Ijon, Komoditas Mangga,Ekonomi Mikro