Pengalaman dan Ilmu Mahal, Kelola yang Benar - Analisis - www.indonesiana.id
x

Kebodohan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 15 April 2022 13:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pengalaman dan Ilmu Mahal, Kelola yang Benar

    Hingga detik ini, apa yang sudah saya raih baik dalam suka dan duka, semuanya karena andil orang-orang penting yang telah hadir dalam kehidupan saya. Karena merekalah, saya menapak sejauh ini

    Dibaca : 830 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pengalaman dan ilmu mahal, yang sudah dapat dan menguasai, gunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk kepentingan diri, apalagi mengelabui.

    (Supartono JW.14042022)

    Apakah orang yang telah membagi ilmu dan pengalaman kepada saya, masih ingat kepada saya? Saya akan selalu ingat kepada mereka, meneruskan mengamalkan serta membagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain di jalan kemaslahatan sebagai bentuk ucapan terima kasih, balas budi, tak lupa saya akan selalu mendoakan mereka.

    (Supartono JW.14042022)

    Usai fase 10 hari pertama Ramadhan yang penuh hikmah dan berkah, saya coba merefleksi dan instrospeksi diri.

    Saya coba singkirkan berbagai persoalan pribadi, keluarga, hingga masalah bangsa dan negara ini. Hasilnya, ada rasa syukur yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata atau apa pun.

    Rasa syukur itu adalah tentang pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan sepanjang hidup saya. Tanpa pengalaman dan ilmu yang saya dapat, mustahil saya dapat melangkah dalam kehidupan nyata di dunia sejauh umur saya sekarang.

    Saya ingat mereka

    Hingga detik ini, apa yang sudah saya raih baik dalam suka dan duka, semuanya karena andil orang-orang penting yang telah hadir dalam kehidupan saya. Karena merekalah, saya menapak sejauh ini.

    Khusus hasil langkah-langkah saya yang maslahat dan positif untuk diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, semua itu adalah akibat dari pengalaman dan ilmu yang saya dapat dari para guru dan suhu saya. Guru di sekolah formal, dosen, hingga para suhu di kehidupan nyata, sesuai bidang yang saya geluti, hobi yang saya cintai.

    Saya ingat satu persatu. Siapa yang kasih pengalaman dan ilmu tentang ini, siapa yang tentang itu, siapa yang kasih tentang nilai-nilai kehidupan, siapa yang kasih tentang nilai agama, nilai-nilai tradisi, budaya, pendidikan, sosial, olahraga, nilai pekerjaan, kekeluargaan, sampai nilai taktik, intrik, dan politik. Semua saya ingat.

    Maaf, meski sedikit, saya juga ikutan coba berbagi pengalaman dan ilmu, meneladani para guru dan suhu saya kepada orang-orang yang saya anggap dekat, saya anggap keluarga. Saya ikhlas dan berharap, mereka ikut meneladani para guru dan suhu saya.

    Namun, dari pengalaman dan ilmu yang saya dapat dari guru dan suhu saya, saya jadi tahu kenyataan. Ternyata ada di antara mereka yang tak tahu cara berterima kasih atau tak tahu cara membalas budi. Padahal sudah saya anggap dekat, bahkan saya anggap keluarga. Mengapa?

    Dari pengalaman dan ilmu yang saya dapat, untuk berterima kasih dan membalas budi, meski para guru dan suhu tak berharap dan mengharap, beberapa yang masih umur panjang, sering saya datangi, masih saya jalin komunikasi.

    Tujuannya tak lebih sekadar ucapan terima kasih. Bahkan, beberapa dari mereka juga saya sebut dalam artikel yang saya tulis. Lalu, bagi mereka yang sudah tenang di sisiNya, tak henti saya kirimkan doa.

    Lebih dari itu, sebagai ucapan terima kasih dan balas budi, beberapa pengalaman dan ilmu saya bagi utuh dan saya ceritakan kepada yang saya bagi, itu adalah pengalaman dan ilmu dari A, B, C, dan seterusnya.

    Berdasarkan pengalaman dan ilmu yang saya dapat, saya pun coba kembangkan hingga menjadi pengalaman dan ilmu baru yang kreatif dan inovatif (menurut saya). Dan itu, secara konsisten saya lakukan, meneladani semua guru dan suhu saya.

    Cerdas Iseaki, maka ...

    Bicara tentang berbagi pengalaman dan ilmu, bagi orang-orang yang tinggi kecerdasan intelegensi dan personality-nya, maka pasti, pengalaman dan ilmu itu tak ternilai harganya. Terlebih pengalaman dan ilmu hasil dari kreativitas dan pengembangan inovasi yang out of the box.

    Hanya orang-orang cerdas intelektual, sosial, emosional, analitis, kreatif, imajinatif, plus iman (Iseaki) serta terdidik, terlatih, dan kaya pengalaman, sehingga kompeten di bidang yang ditekuninya, yang mampu menghasilkan karya inovatif.

    Sudah tentu, karya inovatifnya tentu hasil dari ramuan pengalaman dan ilmu di bangku pendidikan formal, digabung dengan pengalaman dan ilmu dari out of the book, yaitu cara berpikir tanpa dibatasi oleh batasan diri atau bisa juga disebut dengan cara melatih untuk berpikir di luar dari yang umum.

    Bersyukurlah, orang-orang yang dekat dan ada di lingkaran orang-orang yang cerdas Iseaki, penghasil karya inovatif, kompeten di bidangnya, tak henti mengembangkan karya dan berbagi untuk kemaslahatan umat.

    Sebab, yang saya tahu, orang-orang yang cerdas Iseaki, kompeten di bidangnya, penghasil karya inovatif, mereka adalah orang-orang yang tahu diri, penuh simpati-empati, luhur budi, rendah hati.@ Mereka tak pernah hitung-hitungan saat berbagi pengalaman, ilmu, hasil karya inovatif kepada orang-orang yang dianggap dekat, orang-orang di sekelilingnya.

    Padahal, pengalaman dan ilmu itu, MAHAL HARGANYA. Tetapi, para pembagi pengalaman dan ilmu itu, yang tahu diri, penuh simpati-empati, luhur budi, rendah hati tak pernah berhitung, tak hitung-hitungan saat berbagi kepada orang-orang yang dianggap dekat, keluarganya dll.

    Sayang, saya juga tahu, orang-orang baik itu sering ditusuk dari belakang, ditelikung, justru oleh orang-orang yang dianggap dekat dan sudah dianggap keluarga. Memanfaatkan pengalaman dan ilmu yang dibagi, justru untuk kepentingan diri dan kelompok baru yang dibentuk. Bahkan; digunakan untuk menjadi pesaing.

    Namun, apakah para pembagi pengalaman dan ilmu yang cerdas Iseaki dan malah ditusuk dari belakang itu marah, dendam, dan memusuhi orang-orang yang menelikung?

    Tidak, orang-orang yang selalu berbagi pengalaman dan ilmu, meski mahal, mereka tetap ikhlas dan malah bersyukur. Pengalaman dan ilmunya dapat disiarkan ke orang lain sebagai ibadah dan amal jariyah. Mirisnya, ada orang yang dengan cara yang tidak baik dalam mengamalkan pengalaman dan ilmunya. Sekadar menjiplak, tetapi seolah pengalaman dan ilmu itu hasil karya inovatifnya, hasil pemikirannya sendiri.

    Beda cerdas dan tidak

    Dari kisah tersebut, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang cerdas Iseaki, kompeten di bidangnya, pola pikirnya pasti selalu menggabungkan pengalaman dan ilmu yang ilmiah, plus pola pikir out of the book dalam setiap langkah yang akan ditempuh.

    Mereka juga tidak pernah takut, pengalaman dan ilmunya dicatut, dicuri, dijiplak oleh orang-orang yang menusuk dari belakang. Sebab, mereka akan terus menciptakan karya inovasi terbaru yang mustahil dapat ditiru oleh para penusuk dan penelikung.

    Sementara, orang-orang yang dianggap dekat, bahkan sudah dianggap keluarga, lalu menusuk dari belakang atau menelikung, maka mereka hanya akan tahu pengalaman dan ilmu semasa masih menjadi bagian orang dekat atau keluarga.

    Setelahnya, tentu akan sulit, orang-orang ini akan berkembang dengan inovasinya, karena tak cerdas Iseaki, tak tahu diri, tak tumbuh simpati-empati, tak luhur budi, tak rendah hati dll. Lambat laun, alam yang akan menghukumnya.

    Pengalaman dan ilmu itu mahal. Bagi orang-orang yang CERDAS, maka mereka akan tahu bagaimana mendapatkannya, menemukannya, memperlakukannya, menghargainya, mengembangkannya, hingga menyikapinya. (Supartono JW.14042022)



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.