Sorgum Merah - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Sorgum Merah

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 18 April 2022 13:27 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Sorgum Merah

    Mo Yan menuturkan keindahan alam dan kekejaman perang dengan sangat vulgar. Penggambaran desa dengan hamparan sorgum merah dan sungai yang mengalir berkelok dan tepinya dipenuhi bunga seruni, awan yang indah, wanginya arak dipadu dengan deskripsi tawanan perang yang dikuliti bagai babi.

    Dibaca : 2.410 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Sorgum Merah

    Judul dalam Bahasa Inggris: Red Sorghum

    Penulis: Mo Yan

    Penerjemah: Fahmi Yamani

    Tahun Terbit: 2014

    Penerbit: Serambi

    Tebal: 543

    ISBN: 978-602-290-006-1

     

    Kau memuja pahlawan dan membenci bajingan, tapi siapa di antara kita yang bukan orang “paling gagah dan paling bajingan?” (hal. 540)

     

    Perang membuat kita sadar akan nilai-nilai kemanusiaan terdalam. Sebab melalui perang kita bisa memahami manusia secara tidak hitam putih. Manusia yang dalam keadaan normal dianggap sebagai sampah - bajingan, di masa perang ia bisa menjadi pahlawan yang gagah membela kemanusiaan. Tindakan-tindakan dalam perang membuat kita bisa menerima masa lalu seseorang yang kelam. Sebaliknya kita bisa menjadi jijik dengan seseorang yang masa lalunya kelihatan begitu putih bersih karena tindakannya saat menghadapi masa peperangan atau sesudahnya.

    Di tangan Mo Yan, invasi Jepang ke Tiongkok pada tahun 1937 – 1941 menjadi sebuah paparan tentang nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar. Mo Yan adalah pemenang Nobel Sastra tahun 2012.

    Periode 1937-1941 adalah periode kelam dalam sejarah Tiongkok. Masa akhir Dinasti Ch’ing -dinasti terakhir di Tiongkok, diwarnai dengan kemiskinan yang luar biasa, munculnya gerombolan bandit dan invasi Jepang. Mengambil kisah tentang sebuah keluarga di Kabupaten Gaomi Timur Laut “Sorgum Merah” mengajak kita menyaksikan betapa kejamnya peperangan di sebuah desa. Perang antara penjajah Jepang, tentara boneka Tiongkok dan persaingan antar laskar membuat penderitaan yang demikian hebat bagi penduduk desa yang miskin.

    Mo Yan menampilkan cinta, kebencian, kerakusan, nafsu untuk berkuasa berkelindan dalam kemiskinan, peperangan, heroisme dan pengabaian yang sepertinya tiada ujungnya.

    Novel ini menggunakan tokoh “Aku” sebagai penutur. Tokoh “Aku” yang terpelajar dan tinggal di kota, mengunjungi desanya untuk menelusuri sejarah keluarganya. Tokoh aku menggali kisah keluarganya, tentang neneknya, kakeknya dan ayahnya. Melalui penuturan orang-orang desa yang ditemuinya, tokoh “Aku” menemukan bahwa sejarah keluarganya penuh dengan pembunuhan dan perselingkuhan. Namun ia juga menemukan bahwa anggota keluarganya sangat membanggakan karena berani mempertahankan desanya melawan pasukan Jepang.

    Sang nenek (Dai Fenglan) yang berasal dari keluarga miskin dikawinkan dengan seorang pemuda pengidap lepra. Namun sang nenek malah tidur dengan pengusung tandunya yang bernama Yu Zhan’ao. Yu Zhan’ao -sang kakek yang mempunyai latar belakang kelam karena membunuh selingkuhan ibunya, membunuh si pengantin pria pengidap lepra sekaligus dengan ayahnya. Pembunuhan mempelai pria dan ayahnya membuat Dai Fenglan mewarisi usaha penyulingan arak.

    Setelah akhirnya sang kakek hidup bersama neneknya, sang kakek malah berselingkuh dengan seorang pembantu bernama Gairah. Untuk membalasnya, Fenglan berselingkuh dengan seorang kepala bandit bernama Mata Hitam. Mereka saling membenci dan saling menyakiti.

    Namun kedatangan Jepang yang kejam ke desanya membuat Fenglan dan Zhan’ao bersatu kembali. Ketika Yu Zhan’ao akan memimpin pasukannya itulah, Fenglan menyatakan bahwa Douguan adalah anaknya. Jadi Zhan’ao bukanlah ayah angkat, melainkan ayah kandung Douguan.

    Yu Zhan’ao dan anaknya Douguan berperang dengan tentara Jepang dengan senjata seadanya. Douguan adalah ayah dari si penutur di novel ini. Selain menghadapi tentara Jepang, pasukan Yu juga harus berhadapan dengan detasemen Leng dan resimen Jiao-Gao.

    Pertempuran di tepi Sungai Air Hitam itu menewaskan semua pasukan Yu Zhan’ao, termasuk Dai Fenglan yang saat itu mengantarkan makanan bagi laskar yang sedang menunggu kedatangan tentara Jepang.

    Di bagian akhir novel, Mo Yan menyentil masyarakat yang dengan cepat bisa melupakan pengorbanan orang-orang yang telah berjuang dalam perang. Geng Tua, seorang desa yang survive dari peperangan meski mendapatkan 18 tusukan bayonet di perutnya sehingga dia mendapat julukan Geng Delapan Belas Tikaman, justru mati kedinginan di depan Kantor Komune saat ingin mendapatkan sedikit bantuan karena kelaparan di masa damai. Seroang pemuda dengan tiga pulpen mahal mengabaikan begitu saja Geng Tua.

    Mo Yan menuturkan keindahan alam dan kekejaman perang dengan sangat vulgar. Penggambaran desa dengan hamparan sorgum merah dan sungai yang mengalir berkelok dan tepinya dipenuhi bunga seruni, awan yang indah, wanginya arak dipadu dengan deskripsi kekerasan.

    Penggambaran detail tentang kepala yang pecah, usus yang terburai dan darah yang tergenang mewarnai halaman-halaman novel ini. Ada lagi bagian yang sangat sadis, yaitu saat ia menggambarkan dengan sangat rinci bagaimana Paman Arhat, seorang kerabat suami Dai Fenglan yang tertangkap Jepang. Paman Arhat dikuliti seperti seseorang menguliti babi. Mo Yan menggambarkan bagaimana mula-mula telinga dan kemudian kulit kepala dan seterusnya.

    Kesadisan juga ditunjukkan saat menggambarkan Douguan diserang oleh anjing liar. Karena banyaknya mayat, penduduk desa yang tersisa harus berperang dengan anjing liar yang memakan mayat-mayat yang tidak terkuburkan. Dalam sebuah peristiwa, seekor anjing menerkam Douguan dan merobek selangkangannya sampai salah satu buah pelirnya terlepas.

    Penggambaran yang vulgar ini membuat mual dan muak. Namun begitulah sesungguhnya peperangan itu. Peperangan yang sadis telah mengoyak sebuah desa yang indah dengan hamparan sorgum merah menjadi penuh darah. Di sanalah kita temukan kepahlawanan yang tak terpisahkan dari bajingan, cinta yang tak terpisahkan dengan perselingkuhan dan kekuasaan yang tak terpisahkan dari pengkhianatan dan pengabaian. 672

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Bayu Lukmana

    Selasa, 8 November 2022 17:43 WIB

    Lagu Satu Jiwa Lambang Toleransi Keragaman

    Dibaca : 661 kali