Buang Tinja Ala Batavia - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sungai Ciliwung sekitar tahun 1928. Wikipedia

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Selasa, 19 April 2022 06:50 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Buang Tinja Ala Batavia

    Kata negenuursbloemen secara harfiah berarti bunga-bunga yang mekar pukul sembilan malam. Demikian eufimisme ala Batavia, mengistilahkan bertong-tong tinja sebagai mekar-mekar bunga yang membawa aroma baunya setiap malam di sepanjang sungai atau kanal di dalam kota. Barangsiapa membuang di luar waktu yang telah ditentukan itu maka akan dikenai denda.

    Dibaca : 1.093 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di awal kedatangannya ke Nusantara orang Belanda memang belum mengenal jamban. Untuk urusan buang ampas, di dalam rumah disediakan tong berisi air dan kursi yang dilubangi di bagian tengahnya sebagai tempat masuk dan penampung tinja.

    Tinja itu harus menunggu lewat dari pukul 21.00 untuk boleh dibuang ke sungai. Keharusan ini ditegaskan melalui peraturan negenuursbloemen yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda pada 1630.

    Kata negenuursbloemen secara harfiah berarti bunga-bunga yang mekar pukul sembilan malam. Demikian eufimisme ala Batavia, mengistilahkan bertong-tong tinja sebagai mekar-mekar bunga yang membawa aroma baunya setiap malam di sepanjang sungai atau kanal di dalam kota. Barangsiapa membuang di luar waktu yang telah ditentukan itu maka akan dikenai denda.

    Selain itu, penggunaan sungai sebagai tempat penumpahan limbah di Batavia tergambarkan juga dengan jelas oleh tulisan Frieda Arman dalam Batavia: Kisah Kapten Rogers dan Dokter Strehler.

    Di buku itu diuraikan bahwa Kanal Molenvilet yang menjadi bagian dari Sungai Ciliwung ramai oleh petani, penjual rumput, penjual mentega, penjual susu, hingga penjual buah-buahan. Pada pagi hari kanal dipenuhi ratusan lelaki, perempuan, anak-anak, kerbau, kuda, sapi, kambing, dan babi. Ratusan manusia dan binatang bersama-sama mandi, berendam, dan mencuci pakaian.

    Mereka melaksanakan kegiatan tersebut sebagai bagian dari rutinitas keseharian yang biasa. Akibat dari kebiasaan dan juga peraturan soal membuang limbah di Batavia, sungai-sungai dalam kota pun tercemar serta berbau busuk.

    Syahdan, ketika kesehatan Kota Batavia mulai terancam secara serius, pada tahun 1732, di masa Gubernur Jenderal Diederik Durven, diperintahkanlah pembangunan proyek air bersih di Sungai Mookervart (kini wilayah Kali Deres). Namun, akibat dari terlanjur buruknya kesadaran dan keadaan sanitasi, terutama soal pengelolaan tinja, banyak kuli tewas terserang penyakit dalam pengerjaan proyek Mookervart.

    Memasuki era selanjutnya, wabah penyakit akibat sanitasi yang buruk makin kerap dijumpai di Batavia. Bukan hanya tinja, buruknya sanitasi di Batavia diperparah pula oleh pembukaan kebun-kebun tebu dan pabrik gula di sekitar Batavia.

    Limbah olahan kebun dan pabrik yang langsung digelontorkan ke sungai membuahkan bau yang semakin busuk di Batavia terlebih saat musim kemarau. Awalnya, VOC membangun Batavia dengan mengambil model Amsterdam, kota indah dengan banyak kanal untuk memudahkan transportasi. Namun, akhirnya kanal-kanal itu jadi sangat jelek akibat bermacam limbah yang ditumpahkan oleh warganya sendiri ke situ. Dan, ketika keadaan sudah tidak bisa diatasi akibat lingkungan yang tidak nyaman lagi dihuni serta merebaknya berbagai penyakit seperti malaria dan kolera, kota lama Batavia pun pindah ke daerah Gambir.

    Langkah perpindahan kota dipelopori oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem van Imhoff sejak dirinya mulai dilantik tahun 1743. Van Imhoff tidak mau tinggal di kota dalam tembok benteng yang tidak sehat. Langkahnya itu kemudian diikuti oleh pembesar-pembesar dan orang kaya Batavia.

    Secara berangsur-angsur, hingga akhir abad 18, pusat pemerintahan pun secara keseluruhan telah berpindah ke Weltevreden (di daerah Gambir sekarang). Gara-gara tinja, selain tentara Mataram, gubernur jenderal VOC akhirnya menyingkir juga dari Batavia. Batavia baru yang dinamai Weltevreden berjarak sekitar 10 km ke sisi selatan dari kota lama. Dari namanya, Weltevreden, memiliki arti "sangat memuaskan".

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.