Wanita Pembaharu di Kesultanan Aceh - - www.indonesiana.id
x

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Kamis, 21 April 2022 07:12 WIB

  • Topik Utama
  • Wanita Pembaharu di Kesultanan Aceh

    Thomas Braddell (On the History at Acheen) melihat segi kemajuan Kesultanan Aceh, (a proof of internal improvement) yang lebih dititik beratkan sebagai kemajuan konstitusionil. "Pembentukan Tiga Sagi di Aceh Besar dengan pembagian lagi beberapa mukim untuk bawahannya, adalah suatu contoh dari kemajuan pemerintahannya". Ia berpendapat pembaruan itu adalah bagian terpenting dalam babak sejarah Aceh.

    Dibaca : 840 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sultanah Nuru'l-'Alam Nakiatu'ddin Syah wafat pada tanggal 23 Januari 1678. Meskipun ia hanya menduduki tahta selama dua tahun, di masanya pemerintahan Aceh dipegang oleh Panglima Tiga sagi yang dibentuk untuk mendampingi kekuasaannya.

    Pembagian Tiga Sagi yang telah dilakukan di masa Nuru'l 'Alam ini disebut juga dalam "Hikayat Aceh", naskah simpanan Inggris. Sagi itu berdasar mufakat, antara satu dengan lainnya terjalin di dalam suatu perpaduan kompak, seperti tampi yang bersegi tiga. Selama tampi ini tetap dalam ikatan yang satu maka ia akan dapat memberi manfaat kepada yang mamerlukannya. Ke dalam, masing-masing Panglima Sagi berkuasa penuh. Masing-masing Sagi terdiri dari beberapa mukim, yang jumlahnya bergantung dengan banyak mukim yang bergabung. Sagi-sagi itu ialah, pertama bernama 22 mukim, kedua 26 mukim, dan ketiga 25 mukim.

    Thomas Braddell (On the History at Acheen) melihat dari segi kemajuan, (a proof of internal improvement) yang lebih dititik beratkan meninjaunya sebagai kemajuan konstitusionil. "Pembentukan Tiga Sagi di Aceh Besar dengan pembagian lagi beberapa mukim untuk bawahannya, adalah suatu contoh dari kemajuan pemerintahannya". Ia berpendapat pembaruan itu adalah bagian terpenting dalam babak sejarah Aceh. Dibentuknya suatu badan terdiri dari 12 orang-orang besar untuk mendukung utuhnya kesulitan yang telah berhasil dibebankan kepada golongan wanita selama 60 tahun, adalah suatu sistim pemerintahan konstitusionil, yang di Eropah masa itu belum didapati, kecuali hanya di satu negara, (maksudnya di Inggris, pen).

    Tapi berlainan dari pandangan Inggris, pendapat Belanda tentang munculnya federasi mukim-mukim dengan Tiga Sagi itu lebih banyak dititik beratkan untuk menilik dari segi buruknya, umpamanya bahwa fungsi Panglima Sagi diadakan, menurut pandangan Belanda, adalah karena keadaan memaksa. Menurut pandangan itu, zaman dimaksud diperlukan suatu "balance of power" atau imbangan kekuasaan antara sovereign dengan tokoh-tokoh atasan yang berpengaruh masa itu. Van Langen (De Inrichting van het Staatsbestuur onder het Sultanaat) menyebut bahwa sistim Tiga Sagi dibentuk oleh Sultan untuk meneguhkan pengaruhnya atas mereka (Orang-orang Besar). Akan tetapi, Veltman berpandapat bahwa federasi Tiga Sagi diciptakan karena didesak oleh suasana lama sebelum Nuru'l-'Alam, yang menurut Veltman, gunanya adalah justru sebaliknya dari yang dianggap oleh Van Langen, yakni untuk meneguhkan pengaruh Panglima-Panglima Sagi itu sendiri terhadap Sultan dan Orang-orang Besar 12.

    Lebih jauh Veltman menulis sebagai berikut: "Sebagai ternyata berikut ini, Sultanah yang selalu dijatuhkan dan Panglima-panglima Sagilah yang menentukan sendiri penggantinya. Di masa pemarintahan Nuru'l-'Alam bertambah teguh pengaruh Panglima-panglima Sagi, karena mereka berhak menentukan siapa orangnya yang menjadi raja-raja".

    Snouck Hurgronje berkata pula tentang hal ini: "Dibawah pemerintahan raja-raja perempuan yang lemah, yang telah diperintahkan oleh uleebalang dengan maksud tertentu, maka Panglima-panglima Sagi telah juga mendorong kemauannya bahwa setiap penggantian raja haruslah turut ditentukan oleh Panglima-panglima Sagi. Sagi yang tiga ini berikut ulubalang-ulubalang yang masuk bawahannya sudah lama diadakan, lama sebelum Sultan-sultan praktis ditempatkan di bawah pengawasan mereka".

    Tetapi Veltman tidak sependapat dengan Hurgronje. Ia mengatakan, bahwa dibawah Sultan Iskandar Muda, kekuasaan staat di dalam staat tidak mungkin berlaku. Sebab itu katanya bahwa pembentuknya Tiga Sagi paling cepat terjadinya masa Taj'al-'Alam memerintah. Kitab Bustanu's-Salatin mencatatnya sebagai saksi mata bahwa Taj'al-'Alam ditabalkan pada hari itu ketika suaminya meninggal. Hal ini berlangsung secara adat biasa, dimana Raja mangkat Raja pula yang mengebumikan. Suami dari Sultanah Taj'al-'Alam adalah Sultan Iskandar Tsani, menantu Sultan Iskandar Muda.

    Namun, karena masanya memerintah demikian singkat, tidak banyak yang dapat dicatat dalam masa Nuru'l 'Alam memegang tampuk kerajaan. Namun, dapat diperhatikan sedikit suatu catatan dalam "Daghrsgister" Belanda di tahun 1677. Catatan tersebut bertanggal 11 Desember 1677 berbunyi sebagai berikut: "Dat de veertuygen der Chineezen an Malejers die, dagelijke op Batavia en Bantam thuis hoorende, van Athin quaman, hun mede brengen de gout seer verscholen hiel den an relateerden, dat der Atchines Conninginne seer kranck laghende haar hof en kerck, door dan brant't' eenemaal vernielt was; oock hadden daar dese jaare 3 Engelse, 1 Deens, 1 Bantams, an 4 Moorse scheepjes ten handel geweest".

    "bahwa perahu-perahu orang Tionghoa dan Melayu yang berasal dari Betawi dan Banten, telah tiba balik dari pelayarannya dari Aceh. Mereka telah membawa emas, tapi disembunyikan benar. Mereka menerangkan bahwa Ratu Aceh sangat menderita akibat kebakaran besar yang memusnahkan segalanya, istananya dan "gerejanya". Tahun ini masuk ke Aceh 3 buah kapal Inggris, 1 kapal Denmark, 1 kapal Banten, dan 4 kapal Gujarat dengan kepentingan berdagang"<--more-->. Diperkirakan kapal-kapal yang baru datang itu berangkat dari Aceh sekitar satu atau dua bulan yang lalu.

    Setelah wafat, kedudukan Sultanah Nuru'l-'Alam digantikan oleh puterinya yang bernama Putroe Raja Seutia dengan gelar Sultan Inayat Zakiatu'ddin Syah, menurut catatan suami Nuru'l-'Alam ialah Sultan Muhammad Syah, dari pada mereka lahir Putroe Raja Seutia ini. Tapi masih kurang diketahui siapa sebetulnya profi Sultan Muhammad Syah itu.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Echa Espe

    5 jam lalu

    Jerat

    Dibaca : 85 kali











    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi