Bukan Banyaknya Kekayaan yang Penting Tapi Manfaatnya - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 22 April 2022 07:04 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bukan Banyaknya Kekayaan yang Penting Tapi Manfaatnya

    Banyak orang mengira yang paling penting dalam hidup adalah kekayaan. Mereka mengira kekayaan yang banyak identik dengan kebahagiaan. Ternyata menurut kaisar Prancis Napoleon Bonaparte yang penting bukan banyaknya kekayaan tapi manfaatnya. Buat apa jumlah banyak kalau hanya membuat hidup ruwet.

    Dibaca : 896 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Mari kita belajar dari kebudayaan lain. Kali ini dari kebudayaan Prancis karena mereka juga punya kearifan yang tinggi. Kalimat berikut ini adalah salah satu kalimat mutiara mereka Les richesses ne consistent pas en la possession de trésors, mais dans l’usage qu’on en fait. (Napoleon Bonaparte)

    Kekayaan bukanlah kepemilikan harta, tetapi penggunaan harta yang dilakukan seseorang.  Itulah terjemahan bebas kalimat mutiara dari Napoleon Bonaparte, kaisar Prancis yang memerintah dari tahun 1804 – 1814.  

    Kebanyakan orang ingin kaya raya dan punya harta sebanyak banyaknya. Nah menurut Napoleon yang penting bukan banyaknya tapi manfaatnya.  Saya sering sekali melihat kebenaran pendapat ini.  Saya sering melihat orang yang berharta banyak tapi hartanya justru membuat dia dan keluarga menderita.  Hidup mereka ruwet karena hartanya justru dipakai untuk berbuat maksiat.   Bagaimana bisa bahagia kalau hidupnya ruwet?  Saya yang melihatnya saja pusing apalagi yang menjalani.

    Saya juga sering melihat realitas yang sebaliknya.  Ada keluarga yang pas-pasan.  Rumahnya sederhana.  Ada yang tidak punya rumah, jadi masih kontrak.  Makanan, pakaian dan semua benda mereka sederhana saja.  Tapi hidup mereka lurus.  Tidak ada anggota keluarga yang menjadi pemakai narkoba.  Tidak ada yang gagal sekolahnya.  Tidak ada yang gagal rumah tangganya.  Memang belum tentu anak mereka jadi milyuner atau petinggi, tapi hidup mereka bahagia.

    Kedua golongan itu jelas sekali bedanya.  Golongan pertama punya harta banyak tapi tidak mendapat manfaatnya kecuali sedikit. Hartanya justru membuat hidup mereka ruwet.  Jadi sejatinya tidak ada gunanya memiliki harta banyak. Golongan kedua memiliki harta pas pasan.  Tapi mereka mendapat manfaat dari hartanya.  Mereka bisa sekolah, bekerja, dan berbagai kegiatan baik lain.

    Adakah golongan ketiga?  Mereka yang memiliki harta banyak dan mampu mendapat manfaatnya?  Mestinya ada.  Hanya saja populasinya sedikit. Maka kita jarang melihat apalagi menemui. Inilah golongan yang spesial. Inilah golongan ideal.  Sebaiknya kita seperti itu.     Sebaiknya kita kaya raya.  Lalu harta itu selain dipakai untuk kebutuhan pribadi juga beramal.  Kita bersedekah, membayar zakat dan infak.  Kita beri makan minum orang miskin.  Kita lunaskan hutang mereka yang kepèpèt. Kita beri béa siswa mereka yang butuh dan potensial.  Kita beri bantuan untuk perbaikan sarana publik.  Kita bantu sekolah yang membutuhkan dll.   Kita melakukan semuanya itu dengan niat mengabdi kepada Allah swt saja.

    Semoga kita bisa termasuk golongan ketiga ini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.