Siapa sih, Saya? - - www.indonesiana.id
x

memuji diri

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 24 April 2022 07:59 WIB

  • Topik Utama
  • Siapa sih, Saya?

    Dari kehidupan, orang lain tahu siapa saya. Tetapi yang lebih tahu siapa saya, saya sendiri. (Supartono JW.23042022)

    Dibaca : 696 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dari kehidupan, orang lain tahu siapa saya. Tetapi yang lebih tahu siapa saya, saya sendiri. (Supartono JW.23042022)

    Ibadah Ramadhan 1443 Hijriah fase 10 hari pertama (rahmat) dan fase 10 hari kedua (ampunan) baru saja kita lewati. Kini, ibadah Ramadhan sudah masuk fase 10 hari terakhir (pembebasan dari api neraka).

    Instrospeksi, muhasabah?

    Dari dua fase, setelah saya melakukan instrospeksi, muhasabah, saya kembali bertanya pada diri sendiri.

    Selama ini apakah saya sudah menjadi orang yang memaafkan dan suka meminta maaf? Apakah saya orang yang bikin gaduh dan bikin susah? Apakah saya patuh pada Peraturan Ibadah Ramadhan 2022?

    Hanya dalam 20 hari puasa, ternyata pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri begitu banyak. Sepanjang hidup saya, identifikasi pertanyaan lainnya adalah:

    Apakah saya orang yang teraniaya atau suka menganiaya? Apakah saya orang yang suka cari keuntungan pribadi? Apakah saya sudah berdamai dengan diri sendiri?

    Apakah saya orang yang suka menjilat? Apakah saya orang yang bersiasat? Apakah saya fokus dalam bekerja? Apakah saya suka menebar kebaikan? Apakah saya berbuat baik tanpa pamrih? Apakah saya orang memaksakan diri? Apakah saya menjadi penjernih suasana? Apakah saya memberi atau menerima? Apakah saya selalu menyiapkan diri? Apakah saya sadar diri? Apakah saya tak dendam? Apakah saya pembikin damai dan rukun? Apakah saya biasa hutang? Apakah saya hati bersih? Apakah saya mampu memimpin diri? Apakah saya membebani diri? Apakah saya memaksakan diri? Apakah saya membanggakan diri? Apakah saya orang yang realistis? Apakah saya orang yang membumi? Apakah saya orang yang ikhlas? Apakah saya suka berbagi?

    Apakah saya orang yang suka instrospeksi diri, muhasabah, merefleksi diri?

    Itulah rangkuman pertanyaan-pertanyaan saya pada diri saya sendiri, selama dua fase ibadah Ramadhan 1443 Hijriah. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya jadi tahu siapa diri saya.

    Betapa indahnya ibadah Ramadhan, pun banyak waktu untuk saya bermuhasabah diri. Saya jadi tahu dan berdoa, semoga di fase 10 hari ketiga ini, lebih khusyuk lagi dalam melanjutkan ibadah Ramadhan ini, agar ibadah di fase 10 hari ketiga dapat lancar, dapat rahmat, ampunan, terhindar dari api neraka. Aamiin.

    Konsep diri

    Setelah melintasi dua fase ibadah Ramadhan, bertanya tentang diri sendiri, maka, sementara, hingga detik ini, saya pun dapat menyimpulkan siapa saya.

    Siapa saya ini, artinya dapat dimaknai sebagai konsep diri, yaitu bagaimana cara pandang saya terhadap diri sendiri. Konsep diri adalah hal yang turut membentuk kepribadian dan caranya berperilaku dalam lingkungan.

    Dalam konsep diri, ada orang yang memandang dirinya secara positif sehingga merasa percaya diri. Di sisi lain, ada juga yang memiliki konsep diri negatif dan menilai diri sebagai sosok yang lemah dan tidak berdaya.

    Dari pertanyaan-pertanyaan selama 20 hari ibadah Ramadhan, dengan konsep diri, saya jadi dapat menilai diri sendiri berdasarkan kemampuan, perilaku, hingga karakter-karakter saya. Gambaran diri saya secara mental, apakah saya sosok yang ramah, baik atau jahat.

    Bicara konsep diri, ada pergerakan dalam diri. Saat umur masih muda hingga remaja konsep diri masih bisa berubah-ubah karena pengaruh berbagai hal. Saat menginjak fase dewasa sedang berada di fase pencarian jati diri. Namun, saat semakin tua, persepsi atas diri sendiri menjadi semakin detail. Hingga saya dapat semakin paham siapa diri sendiri.

    Teori konsep diri

    Psikolog Dr. Bruce A. Bracken (1992) menyebut ada 6 area spesifik yang berkaitan dengan konsep diri, di antaranya: (1) Akademik yaitu kesuksesan di sekolah, (2) Affect yaitu kesadara akan emosi, (3) Kompetensi yaitu kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, (4) Keluarga yaitu seberapa baik menjalankan fungsi sebagai anggota keluarga, (5) Fisik yaitu persepsi soal penampilan, kesehatan, dan kondisi fisik, dan (6) Sosial yaitu kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

    Sementara, psikolog Carl Rogers  memetakan konsep diri ke dalam 3 bagian, yaitu: (1) Gambaran diri sendiri (self-image), yaitu cara seseorang melihat dirinya sendiri yang meliputi karakteristik fisik, kepribadian, hingga peran secara sosial. Terkadang, self-image ini bisa berbeda antara anggapan diri sendiri dan orang di sekitar.

    (2) Harga diri (self-esteem) yaitu cara seseorang menghargai dirinya sendiri. Ada banyak faktor yang bisa berpengaruh mulai dari bagaimana membandingkan diri sendiri dengan orang lain hingga cara orang lain merespons Anda. Ketika respons orang cenderung positif, artinya self-esteem pun positif. Begitu pula sebaliknya, dan

    (3) Ideal self, yaitu harapan tentang diri sendiri. Pada banyak kasus, terkadang cara memandang diri sendiri dengan harapan ini tidak serupa. Tidak selalu sama dengan realita.

    Selain itu, dalam buku Essential Social Psychology karya Richard Crisp dan Rhiannon Turner, disebutkan komponen konsep diri yaitu: (1) Diri sebagai individu berisi atribut dan kepribadian yang membedakan dari individu lain, (2) Diri sebagai pemeran dalam relasi yaitu kedekatan hubungan dengan orang lain seperti saudara kandung, teman, dan pasangan, (3) Diri sebagai sosok kolektif menggambarkan keanggotaan dalam kelompok sosial seperti suku, warga negara, dan sebagainya.

    Ketiga komponen konsep diri tersebut memberi identitas jelas siapa saya dan karakter saya. Semakin detail, akan semakin terlihat karakteristik saya.

    Sedangkan menurut teori identitas sosial, konsep diri terdiri dari dua elemen kunci, yaitu: (1) Identitas pribadi yaitu karakter dan sifat yang membedakan dari orang lain, dan (2) Identitas sosial yaitu cara mengidentifikasi secara sosial seperti dalam komunitas, agama, atau kelompok politik tertentu.

    Dari paparan teori-teori konsep diri tersebut, dipadu dengan pertanyaan-pertanyaan hasil instrospeksi, muhasabah diri selama dua fase ibadah Ramadhan, rasanya saya menjadi tahu siapa diri saya.

    Semoga dengan kesadaran, tahu siapa saya dan diri saya, dipadu dengan pandangan tentang konsep diri, di sisa ibadah Ramadhan fase ketiga, pun di sisa hidup saya, saya menjadi tahu arah dan langkah perjalanan melanjutkan hidup di dunia dan hidup untuk akhirat, di jalan yang benar, jalanNya, hingga mendapat ampunan dan pembebasan dari api neraka. Aamiin.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.