“M” Frustasi! dan Sajak Jatuh Cinta Kegelisahan Relijius Emha Ainun Nadjib - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Sampul Buku Kumpulan Puisi Emha Ainun Nadjib

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 26 April 2022 18:56 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • “M” Frustasi! dan Sajak Jatuh Cinta Kegelisahan Relijius Emha Ainun Nadjib

    Buku kumpulan puisi Emha Ainun Nadjib yang pernah terbit pada 1976 kini diterbitkan ulang. Pengantar Seno Gumira Ajidarma dan keterangan Emaha sendiri membuat buku ini komplit pada dirinya sendiri.

    Dibaca : 1.119 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     Ketika tahu bahwa kumpulan puisi “M” Frustasi! dan Sajak Jatuh Cinta, karya Emha Ainun Nadjib, diterbitkan ulang (pernah terbit tahun 1976), saya segera memesannya melalui toko online. Saya menikmati puisi-puisinya yang terbagi menjadi dua bagian. Pertama, “M” Frustasi, yang berisi aneka kegelisahan Emha, dan kedua Sajak Jatuh Cinta, yang seluruhnya berbicara tengtang cinta.

    Di dalam buku ini, entah apa sebabnya, Emha menulis puisi berjudul M Frustasi (1) tentang tidur panjang – mungkin saja kematian. Saudara-saudara !/ Aku mau tidur / Tolong bantu doa / Agar tak bangun lagi....  Begitu sepenggal bunyi sajaknya. Lalu di bagian Sajak Jatuh Cinta, ada puisi tentang perkawinan: harus dengan keringat jiwa yang kita peras tuntas, kasihku untuk menanam pohon yang kekal, di atas ladang yang kita beli dengan nyawa dan seluruh usia kita / kerna itulah maka kumasuki bilik ini / dan kudekap kau agar tersiram sedikit hausku dan jika mungkin seperti juga kau: “hendak kureguk deru isi dadamu!”

    Menurut saya, buku ini sudah komplit pada dirinya sendiri. Maksudnya? Tentang perjalanan kreatif Emha hingga lahirnya kumpulan puisi ini, telah diterangkan dengan sangat bagus oleh Seno Gumira Ajidarma, yang menjadi bagian dari penerbit buku ini, Pabrik Tulisan, dalam pengantarnya. Lalu Emha sendiri sudah menuliskan sendiri mengenai latar belakang puisi-puisi itu hingga apa yang menjadi kegelisahannya saat ini. Jadi nyaris tidak perlu “keterangan tambahan” untuk kumpulan puisi ini. Anda tinggal membeli dan menikmatinya.  Lalu Anda akan dibawa masuk dalam perjalanan batin Emha ketika dia  berusia 17 hingga 23 tahun.

    Bagi Emha sendiri, kumpulan puisi ini hanyalah cermin-cermin kecil untuk pembelajaran yang kecil-kecil juga, di hadapan cakrawala masa depan yang benderang atau gelap pun. Pembelajaran apa? Katanya, pembelajaran menuju keniscayaan kemanusiaan sebagaimana yang dikonsepkan oleh yang menciptakan manusia dan kehidupan, karena sudah pasti manusia tidak menciptakan dirinya sendiri: regenarasi populasi dalam sejarah hanyalah menjalankan konsep dasar yang telah disediakan oleh Maha Pemegang Hak Cipta Manusia dan semua makhluk lainnya.

    Puisi memang bukan traktak filsafat atau makalah ilmiah. Maka dia harus dibaca dan dihayati secara berbeda. Puisi, juga kata Emha sendiri, tidak akan mampu memberikan apa-apa kecuali pembacanya bersedia melakukan dua atau tiga lebih tapak langkah untuk imajinasi, proyeksi, analogi, kontekstualisasi atau sublimasi. Maka kita sebagai pembaca bebas menginterprertasi dan bahkan memberikan makna baru atas puisi-puisi yang sudah ditulis Emha.

                                                                          ***

    Membaca perjalanan hidup Emha dan keterangannya tentang puisinya tadi sekaligus menunjukan “posisi”-nya bahwa dia adalah seorang seniman yang relijius dan memiliki pergaulan cukup luas. Sebagian besar – artinya ada yang tidak-- puisi yang ada dalam kumpulan ini selalu menyebut atau “melibatkan” Tuhan di dalamnya. Ini mudah dimengerti karena Emha memang “anak pesantren”.

    Mungkin saya keliru, tapi ketika membaca riwayat Emha dan puisi-puisi dalam buku ini, sesekali saya teringat pada sosok Soren Kierkegaard, filosof kelahiran Denmark tahun 1813. Kierkegaard --- seperti Emha – mula-mula juga belajar agama alias masuk fakultas teologi di Kopenhagen. Tapi entah kenapa dia kemudian lebih tertarik mempelajari filsafat, kesusastrasan, dan sejarah. Demikian juga Emha, yang mula-mula “nyantri” di Gontor, kemudian malah “nyastra” di Jogja. Lebih dari itu, seperti Kierkegaard, karya-karya Emha baik berupa puisi atau kemudian berupa esai, meskipun sering berbeda dengan pemahaman orang lain, tetap “tidak keluar” dari frame agamanya. Mereka berdua tidak berubah menjadi ateis atau setidaknya pindah agama. Kierkegaard tetap menjadi pemikir Kristen yang piawai, demikian pula Emha tetap menjadi budayawan muslim yang kreatif.

    Saya sebenarnya sering tergoda untuk menyebut Emha (sekarang sudah berstatus Mbah Nun) sebagai seorang teolog. Sebab Emha punya banyak cara untuk menjelaskan ayat-ayat dalam Kitab Suci agar bisa diterima secara masuk akal oleh para pendengarnya. Demikian juga dia piawai menghubungkan aneka fenomena perkembangan zaman dengan ayat-ayat dalam Kitab Suci. Begitulah memang tugas teolog. Tapi saya tidak tahu, apakah dia nyaman dengan predikat itu, sebab perjalanan hidup Emha toh masih terus berlangsung. Jadi biarlah kita ikuti saja proses perjalanannya selanjutnya.

    Lalu, di dalam pengantar buku ini, Emha juga menyatakan kegelisahaanya terhadap dampak teknologi yang disebutnya sebagai “narkoba atas harkat kemanusiaan”. Mula-mula ia menyebut beberapa benih teknologi seperti GPS, Internet, Apple II Computer, Walkie Talkie, dan lain-lain, sebagai mozaik kreativitas materialisme yang menjadi alat-alat hedonisme yang membangun dan menentukan jenis peradaban generasi mutakhir. Juga penemuan-penemuan lain seperti Mesik Uanp, Plastik, Telepon, Pesawat Terbang, Televisi, dan lain-lain  yang tidak terbukti membimbing manusia menuju keutamaan dan keseimbangan kemanusiannya. Selanjutnya semua perangkat revolusioner itu menghasilkan “prestasi rohaniah” yang disebut Dunia Maya, Artificial Intelligence, internet, sosial media, google, twitter, facebook, instagram, dan lain-lain. Menurut Emha, media--media itu secara sangat terbuka, mudah dan langsung mendunia bisa digunakan untuk melampiaskan jiwa paling hina dari kemanusiaan, mental paling buruk dan kumuh, ungkapn-ungkapan yang paling tidak adil, tidak berbudaya serta tidak beradab dalam komunikasi sosial dan kemanusiaan sampai skala universal dan global.

    Refleksi tentang kemajuan teknologi ini juga pernah dilakukan oleh Martin Heidegger, salah seorang tokoh eksistensialisme. Heidegger berusaha menganalisa dan memikirkan kembali berbagai fenomena kebudayaan yang muncul di dunia Barat yang memuncak pada teknologi. Cara Heidegger adalah menelusuri sejarah pemikiran manusia, yakni bagaimana berkembangnya pandangan filosofis tertentu sehingga lahir situasi aktual yang sedang berlangsung. Di zaman modern sekarang, ada Rafael Capurro, seorang filosof teknologi asal Jerman. Capurro berusaha menjelaskan bagaimana perkembangan teknik digital dewasa ini telah mengharuskan filsafat kontemporer untuk memikirkan ulang ontologi, antropologi, serta etika di era digital sekarang ini. Sebab perubahan dalam komunikasi sekarang ini telah mengubah gaya hidup manusia serta pemahaman manusia terhadap realitas, tentang dirinya sendiri, dan tentang apa yang baik-dan buruk. Emha tampaknya punya kegelisahan yang sama dengan Capurro, meski kita masih harus bersabar menunggu penjelasan Emha selanjutnya.

     Apa yang barusan saya jatakan di atas adalah soal perkembangan kegelisahan Emha  saat ini. Kembali pada buku kumpulan puisinya, sekali lagi – menurut saya – sudah komplit dan tidak perlu banyak keterangan lagi. Anda tinggal membeli dan menikmatinya. Syukur-syukur Anda bisa mengembangkan imajinasi dan menginterpretasikan puisi-puisi itu dalam situasi kekinian. Selamat membaca.

                                              

    • Atmojo, penikmat seni.

                                                                             ###



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.