Melakukan Praktik Baik Modul 3.1 Sebagai Bentuk Aksi Nyata - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Pembelajaran Berdiferensiasi

Anita Rakhmi Shintasari

Guru BK SMPN 22 Semarang-Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 1 Desember 2021

Selasa, 26 April 2022 19:00 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Melakukan Praktik Baik Modul 3.1 Sebagai Bentuk Aksi Nyata

    Melakukan aksi nyata sebagai bukti pemahaman dan bertambahnya pengetahuan merupakan suatu keharusan dalam program pendidikan guru penggerak, termasuk ketika belajar modul 3.1 tentang pemimpin pembelajaran.

    Dibaca : 858 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Peristiwa (Fact)

    Belajar dan berusaha untuk menerapkan dalam praktik sehari-hari menjadi dinamika yang secara rutin dilalui sebagai seorang guru. Termasuk ketika dihadapkan pada situasi transisi dari masa pandemi ke masa normal baru. Pada awal pandemi berbagai aktivitas diluar rumah dibatasi termasuk belajar di sekolah. Dan saat pandemi sudah mulai dapat dikendalikan, maka muncul istilah normal baru, dimana setiap kegiatan tidak boleh terlepas dari protokol kesehatan. Demikian halnya dengan aktivitas belajar di sekolah yang mulai dilaksanakan kembali, ternyata tidak membuat semua murid menyambut dengan gembira.

    Sebagian besar sudah merasa nyaman belajar di rumah dan merasa enggan untuk kembali hadir di sekolah. Beberapa bahkan memilih tidak hadir dengan alasan tidak ada yang mengantar jemput agar tetap boleh belajar dari rumah. Beruntung setelah melalui berbagai pendekatan dan sosialisasi, pada akhirnya murid dapat menerima dan mau kembali ke sekolah, kecuali beberapa anak yang sedikit sulit melakukan adaptasi. 

    Ada satu murid di kelas IX yang kurang motivasi untuk hadir ke sekolah mengikuti KBM, tetapi jika ke sekolah untuk mengikuti kegiatan OSIS maka dia akan hadir paling rajin dan sangat bersemangat. Hal ini menimbulkan keresahan pada guru mata pelajaran yang mengampu di kelas tersebut hingga membuat guru mata pelajaran memberikan label negatif pada murid tersebut. Ini semakin memperparah kondisi murid tersebut sehingga ia semakin enggan hadir ke sekolah.

    Pada akhirnya saya memilih untuk melakukan pendekatan secara personal dengan mengumpulkan data dari pembina OSIS maupun teman-teman sekelas dan satu organisasi. Disamping itu, saya juga berusaha untuk mengetahui kondisi murid yang sebenarnya dengan berkunjung ke rumahnya selain mengundang orang tuanya hadir ke sekolah. Karakter murid yang keras dan temperamental mengharuskan saya untuk berhati-hati dalam mempraktikkan coaching dan PSE sebagai bagian dari aksi nyata sebagai pemimpin pembelajaran dalam mempraktikkan dilema etika agar dia menyadari kesalahan dan juga solusi yang mungkin dapat dilakukannya.

    Meskipun butuh waktu yang cukup lumayan, tetapi pada akhirnya murid tersebut dapat memahami bahwa apa yang dilakukan adalah hal yang salah dan sangat merugikan dirinya dan dia juga dapat menemukan langkah yang akan dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu. Dan murid tersebut benar-benar membuktikan keputusannya untuk memperbaiki kesalahannya dengan tertib hadir ke sekolah dan menyelesaikan semua tagihan yang diberikan oleh guru mata pelajaran.

    Selain itu, dalam proses pembelajaran yang sudah dilaksanakan secara luring alias tatap muka, saya memilih menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan mengemas pembelajaran melalui permainan baik kelompok besar maupun kelompok kecil serta memanfaatkan berbagai platform digital yang menarik seperti mentimeter, quizziz maupun padlet selain juga aktivitas interaktif lainnya seperti curah pendapat melalui stickynote. Dengan model layanan seperti ini, murid lebih bersemangat dan antusias sehingga mereka tidak merasa bosan belajar.

    Perasaan (Feeling)

    Perasaan saya saat melakukan aksi nyata terkait praktik coaching maupun praktik pembelajaran berdiferensiasi sangat bahagia dan bersemangat. Hal ini dikarenakan dengan mempraktikkan coaching dan PSE dalam permasalahan dilema etika saya lebih mudah mendorong murid untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dari dirinya sehingga meatih murid mandiri. Sedangkan untuk pembelajaran berdiferensiasi saya menyadari bahwa pada dasarnya murid membutuhkan ruang berekspresi dalam belajar sehingga perlu dilakukan variasi dalam pembelajaran

    Pembelajaran (Finding)

    Pembelajaran yang saya peroleh dengan melakukan praktik baik sebagai bentuk penerapan pengetahuan saya tentang dilema etika maupun PSE dan pembelajaran diferensiasi adalah, ketika kita melakukan praktik pembelajaran dengan memahami murid sepenuh hati dan dilandasi dengan niat untuk melayani dengan tulus, maka hasil yang kita peroleh adalah banyak kebaikan dan kemudahan. Dengan pemahaman akan dilema etika melalui empat paradigma sangat memungkinkan saya untuk menentukan sikap dan berperilaku yang bijaksana tentunya dalam mengambil keputusan juga mempertimbangkan ketiga prinsip pengambilan keputusan, apakah untuk hasil akhir demi kebaikan banyak orang, atau untuk menegakkan peraturan atau lebih dilandasi kepekaan atau kepedulian kepada orang lain. 

    Kesempatan untuk dapat melakukan praktik baik ini menjadi penyemangat bagi diri untuk terus mengasah keterampilan dalam melakukan pengambilan keputusan maupun merancang pembelajaran yang berpihak kepada murid. Selain itu dengan pengalaman melakukan aksi nyata ini menambah kemantapan hati untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi murid dengan terus berusaha mengasah keterampilan tentang merancang pembelajaran, penerapan PSE serta coaching dan juga melatih keterampilan dalam mengambil keputusan yang tepat sasaran dan berpihak pada murid.

    Penerapan ke depan (Future)

    Rencana perbaikan yang akan saya lakukan adalah dengan terus berlatih dan berusaha untuk meningkatkan keterampilan saya selain menyampaikan pengalaman praktik baik saya kepada rekan sejawat baik dalam forum yang kedinasan maupun secara kelompok. Saya sangat berharap rekan-rekan saya akan lebih bersemangat dalam mengajar ketika mereka memahami akan pembelajaran berdiferensiasi yang memuat PSE serta dapat memberikan pelayanan kepada murid yang bermasalah melalui praktik coaching dan yang pasti rekan sejawat dapat bersikap bijaksana dengan pemahaman akan dilema etika maupun bujukan moral.

     

    AksiNyata3.1

    Aksi Nyata 3.1

    AksiNyata3.1

    AksiNyata3.1



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.