Chairil Anwar Penyair si “Sambal Pedas” - Analisis - www.indonesiana.id
x

Poster Chairil Anwar. Tempo/Adri Irianto

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Jumat, 29 April 2022 12:42 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Chairil Anwar Penyair si “Sambal Pedas”


    Dibaca : 852 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sosok penyair Chairil Anwar selalu tebar pesona. Karya puisinya ditelaah dari beragam sudut pandang. Penanggalan kelahirandnya dijadikan sebagai Hari Puisi Nasional. HB Jasin menahbiskan sosoknya sebagai penyair Angkatan 45 sebagai pelopor di bidang puisi. Sementara, Sutan Takdir Alisjahbana, menggelari puisi Chairil Anwar alih-alih   “sambal pedas” yang  “menikmatkan.” Ada pula yang menyandanginya sebagai penyair Binatang Jalang.

    Serius Menulis Sajak

    “Menulis sebuah sajak (baca:puisi) tidak dapat sekali jadi.”  pengakuan Chairil Anwar  suatu ketika. “Setiap kata yang ditulis harus digali dan dikorek dengan sedalam-dalamnya. Semua kata harus dipertimbangkan, dipilih, dihapus, dan kadang-kadang dibuang, yang kemudian dikumpulkan lagi dengan wajah baru.”

    Dikutip dari laman Pengalaman menulis Chairil Anwar dimulai pada tahun 1942 ketika ia mencipta sebuah sajak yang berjudul "Nisan". Dia menulis sampai dengan akhir hayatnya, yaitu pada tahun 1949. Kurun waktu singkat tersebut, Chairil Pada tahun 1949 itu ia menghasilkan enam buah sajak, yaitu "Mirat Muda", "Chairil Muda", "Buat Nyonya N", "Aku Berkisar Antara Mereka", "Yang Terhempas dan Yang Luput", "Derai-Derai Cemara", dan "Aku Berada Kembali".

    Kesungguhan Chairil untuk mencipta didukung oleh kesungguhannya mempelajari sajak-sajak para pujangga terkenal dari luar negeri. Istrinya, Hapsah, mengatakan bahwa jika Chairil Anwar berada di rumah, tidak ada lain yang diperbuatnya kecuali membaca, sampai di meja makan pun ia membawa buku, menyuap nasi sambil membaca. Di tempat tidur juga begitu, ia selalu membaca sajak-sajak dan berusaha memberikan pengertian. Hal itu dapat dilihat dari hasil salinannya menerjemahkan sajak-sajak sastrawan asing. Dia menyalin sajak R.M. Rilke (Jerman), H. Marsman (Belanda), E. du Perron (Belanda), dan J. Slauerhoff (Belanda), serta Nietzsche (Jerman).

    Chairil menerjemahkan sajak De Laatste Dag Der Hollanders op Jawa karya Multatuli dengan judul "Hari Akhir Olanda di Jawa". Dia juga menerjemahkan sajak The Raid karya John Steinbeck (Amerika) dengan judul "Kena Gempur". Sajak yang berjudul Le Retour de l'enfant prodigue karya Andre' Gide (Perancis) diterjemahkannya dengan judul "Pulanglah Dia Si Anak Hilang". Selain itu, Chairil Anwar juga telah menerjemahkan karya John Cornford (Inggris), Hsu Chih Mo (Cina), Conrad Aiken (Amerika), dan W.H. Auden (Amerika).

    Selama enam setengah tahun sejak tahun 1942--1949, Charil Anwar menghasilkan 71 buah sajak asli, 2 buah sajak saduran, 10 sajak terjemahan, enam prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Wikipedia memrediksi  Chairil Anwar menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Sementara HB Jassin mencatat dalam periode 1942-1949, Chairil Anwar setidaknya telah menghasilkan 94 tulisan. Itu termasuk 70 sajak asli, 4 saduran, 10 sajak terjemahan, 6 prosa asli, serta 4 prosa terjemahan.

    Sejumlah Kajian

    Kajian tentang Chairil Anwar yang ditulis oleh H.B. Jassin (1962) menjelaskan tentang corak kesusasteraan dan semangat revolusi Chairil Anwar pada masa itu. Sosok Chairil Anwar tidak hanya sebagai pribadi dalam pergumulannya dengan spirit kesusasteraan yang melatarbelakanginya, melainkan lebih pada suatu bentuk kesadaran massal (kelompok) dan sebuah gerakan pemuda yang bergerak dan berevolusi untuk mengupayakan sebuah perubahan yang lebih baik di dalam paradigma kehidupan pada saat itu.

    Hal ini tampak dalam kiprahnya sebagai pelopor Angkatan 45 dan lahirnya “Gelanggang Seniman Merdeka”. Dalam buku “Tifa Penyair dan Daerahnya”(1985) Jassin juga menjelaskan perbedaan paradigma dan orientasi perjuangan antara gaya pantun Pujangga Baru dengan genre Chairil Anwar dalam sastra. Singkatnya, Pujangga Baru menjadikan kegelisahan pribadi menjadi corak perlambang kegelisahan bangsa, karena bertunasnya jiwa kebangsaan. Sementara itu, angkatan Chairil Anwar yang telah mengalami peperangan dan melahirkan revolusi yang menghancurkan banyak tradisi lama, terpaksa memikirkan kecuali diri sendiri dan tanah air, termasuk jugasoal-soal dunia yang luas dan dengan demikian angkatan Chairil Anwar melahirkan corak puisi bernilai falsafi yang lebih universal.

    Ketika Pujangga Baru mencangkok keindahan romantis dari angkatan Belanda tahun 1880-an, Chairil Anwar mengubah corak khas itu menjadi wacana puisi internasional dari zamannya sendiri, melahap, mencerna, dan mencipta-ulang puisi kontemporer. Sajak-sajaknya menghembuskan jiwa, semangat dan cita-cita muda, bukan dalam arti tidak masak, masih hijau, tapi dalam arti terus-terus, bersifat memperbarui, dalam arti segar-bugar. vital, penuh hidup, bergerak dan menggerakkan.

    Meskipun hidup singkat,lahir pada 26 Juli 1922dan wafat 28 April 1949) Chairil  menggoreskan pengaruhnya dalam persajakan modem Indonesia. Tidak mengherankan, jika H.B. Jassin, seorang kritikus sastra kenamaan tak ragu menahbiskan Chairil Anwar sebagai “Pelopor Angkatan ’45”.

    Umar Junus dalam bukunya Perkembangan Puisi Indonesia dan Melayu Modern (1981) mengkaji Chairil Anwar secara akademis dalam upaya pembentukan arah periodisasi dan perkembangannya dalam sejarah kesusasteraan Indonesia modern. Junus menjelaskan bagaimana puisi-puisi Chairil Anwar tumbuh di dalam kehidupan sastra yang bersifat propaganda. Segala sesuatunya harus memropagandakan tujuan baik dari kedatangan Jepang untuk mendatangi daerah-daerah Asia yang diduduki mereka. Nilai kesusasteraan sebagai bentuk keindahan tidak begitu diperhatikan, yang penting ialah bagaimana sebuah karya sastra dapat menjadi alat propaganda.

    Sebagaimana diketahui, bentuk-bentuk sastra yang dikembangkan sebelum masuknya Jepang merupakan suatu cara pengucapan yang belum memuaskan. Oleh karenanya, pada masa itu timbullah suatu pemberontakan baru dalam perkembangan puisi Indonesia, baik berupa pemberontakan dalam hubungan isi maupun pemberontakan dalam hubungan bentuk. Hal ini terutama dilakukan oleh Chairil Anwar.

    Secara ilmiah, Reny Heryanti (2005) juga membahas Chairil Anwar dalam tesis yang berjudul “Karakteristik Puisi Chairil Anwar dan Robert Frost (Analisis Kontrastif Gaya Kata dan Gaya Kalimat)”, yang ditulis oleh. Akan tetapi, di dalam tesis tersebut Reny Heryanti lebih memfokuskan kajiannya pada pola struktur kata dan kalimat yang tersusun dalam sebuah puisi, yang dalam hal ini adalah kajian tentangsajak-sajak Chairil Anwar dan Robert Frost. Dengan mengkomparasikan pola-pola dasar struktur kebahasaan yang dimiliki oleh dua penyair tersebut.

    Kajian lain adalah upaya menelusuri karya-karya Chairil Anwar oleh Arif Budiman (2007) dalam bukunya “Chairil Anwar Sebuah Pertemuan.” Secara umum, Arif Budiman mengenalkan teori Ganzeit dalam mendekati karya-karya Chairil Anwar.  Metode yang  dilakukan yaitu melalui psikologis-filosofis karya (puisi) yang ia disebut sebagai sebuah “pertemuan”.

    Metode Ganzeit, berangkat dari rasa ketidakpuasan dan ketidakpercayaan Arif Budiman terhadap berbagai konsepsi yang disebut oleh kebanyakan para kritikus sastra sebagai sesuatu yang indah dan apa yang tidak, mengingat akan kekaburan makna akan kedua hal tersebut. Arif Budiman melihat bahwa sebuah karya seni menjadi “indah” bagi seseorang karena terjadinya sebuah pertemuan yang otentik antara seseorang dan dunia yang diungkapkan oleh karya seni tersebut. Pertemuan itu bersifat pribadi, tidak bisa secara massal, dan oleh karenanya, apa yang disebut “indah” selalu tidak pernah bisa dirumuskan.

    Mustamar (2021) dalam penelitian bertajuk “Menjelajah Genealogi Puisi Indonesia Dari Masa Balai Pustaka Sampai Era Digital”menyatakan bahwa peran Chairil tidak dapat diabaikan kepeloporannya sebagai Angkatan 45 di bidang puisi.

    Puisi yang lahir pada angkatan 45 memiliki konsepsi “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Puisi angkatan 45 memiliki karakteristik yang berbeda dengan puisisebelumnya adapun ciri-cirinya sebagai berikut.  Pertama, puisinya berbentuk bebas artinya tidak terikat oleh jumlah baris dan bait, nama dan tema. Kedua, menggunakan gaya ekspresionisme dan realism. Ketiga,  menggunakan diksi yang mengungkapkan keyakinan bukti yang mendalam dan intensitas arti, dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Keempat, banyak menggunakan gaya bahasa metafora dan simbolik. Kelima, gaya pernyataanpikiran berkembang.Keenam,banyak menggunakan gaya bahasa ironi dan sinisme. Dengan struktur tematis mengekspresikan eksistensi diri penyair.

    Berdasarkan ciri-ciri tersebut, disimpulkan bahwa puisi-puisi Indonesia pada angkatan 45 ini dibentuk karena kondisi sosial masyarakat Indonesia sudah ingin merdeka. Adapun tokoh atau pelopor pembaharu puisi yaitu Chairil Anwar. Chairil terkenal sebagai pembaharu puisi, karena karya-karyanya berbeda dengan angkatan sebelumnya. Puisinya berbicara tentang semangat perjuangan atau pemberontakan, dan pendekatan diri kepada Tuhan, kegagalan cinta. Ungkapan batinnya disampaikan secara lengkap.

    Tentang Hari Puisi

    Membaca grup WA, pagi ini dua sastrawan berbeda dalam menyebut “Hari Puisi.” Penyair Haikuku, Ujang Kasarang Nurochmat menyebut “Hari Puisi” pada 26 Juli. Sedangkan, cerpenis Mochamad Syafei memastikan Hari Puisi bertolak dari wafatnya penyair “sambal pedas” yang  “menikmatkan” tersebut, yakni 28 April.

    Penentuan “Hari Puisi”  sebagaimana dilansir https://haripuisi.id/tentang/dari Hari Puisi Indonesia ditetapkan 26 Juli. Penentuan tanggal itu berdasarkan hari lahir Chairil Anwar. Dideklarasikan di Pekanbaru 22 November 2012 berdasarkan kesepakatan para penyair Indonesia yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Deklarasi “Hari Puisi”dibacakan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. Sejak itu, Hari Puisi Indonesia dirayakan setiap tahunnya. *****

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.