Partai Mahasiswa? Mahasiswa kok Berpartai - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi demonstrasi. Sumber foto: tribunnews.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 6 Mei 2022 17:24 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Partai Mahasiswa? Mahasiswa kok Berpartai

    Selama ini, gerakan mahasiswa tidak berpolitik praktis. Sebagai kekuatan moral, gerakan mahasiswa justru merupakan kritik terhadap politik praktis yang seringkali lebih diwarnai oleh kepentingan kelompok.

    Dibaca : 710 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Masyarakat ramai membicarakan kemunculan Partai Mahasiswa Indonesia. Dalam sejarah Indonesia, boleh jadi baru kali ini ada mahasiswa yang masih aktif di kampus membentuk partai politik dengan nama yang mencantumkan kata mahasiswa pula. Ini partai politik loh, bukan organisasi ekstra mahasiswa, bukan pula organisasi kemasyarakat.

    Kemunculan partai baru ini begitu tiba-tiba dan mendadak. Bahkan menurut media massa, partai ini sudah mengantongi surat pengesahan dari Kemenkumham sebagai organisasi politik. Lha kapan verifikasi persyaratannya dilakukan, sebagaimana dulu-dulu dilakukan pada partai politik baru. Apakah Partai Mahasiswa ini sudah punya kantor cabang dan pengurus di seantero wilayah tanah air?

    Mengapa masyarakat heboh? Dalam konteks waktu, munculnya nama partai ini dan terbitnya surat dari Kemenhukham berdekatan dengan aksi-aksi demonstransi mahasiswa. Media massa juga melaporkan bahwa ketika demonstrasi mahasiswa berjalan, mahasiswa yang kemudian menjadi ketua umum partai ini bertemu dengan Wiranto, politisi yang sedang menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Presiden.

    Agenda apa yang sedang dimainkan sebagian elite? Inilah pertanyaan yang juga beredar di masyarakat. Di samping soal-soal tadi, ada hal lebih mendasar yang dipertanyakan: bukankah pembentukan partai politik oleh mahasiswa bertentangan dengan karakter dasar gerakan mahasiswa yang berbasis kekuatan moral. Selama ini, mahasiswa tidak melanggar karakter dasar ini, sebab sebagai kekuatan moral gerakan mahasiswa tidak berpolitik praktis.

    Sebagai kekuatan moral, gerakan mahasiswa justru merupakan kritik terhadap politik praktis yang seringkali lebih diwarnai oleh kepentingan kelompok. Politik praktis kerap bersifat transaksional—kalkulasi untung dan rugi berkaitan dengan kepentingan kelompok. Jika menguntungkan kelompok, kepentingan masyarakat boleh saja diabaikan.

    Selama ini, mahasiswa dinilai oleh rakyat sebagai kekuatan yang mewakili rakyat tanpa pamrih kepentingan sendiri maupun kelompok. Basis pergerakan mahasiswa ialah tanggungjawab moral terhadap rakyat. Pendekatannya tanpa pamrih atau kepentingan kelompok yang parsial, melainkan sepenuhnya untuk rakyat. Ini berbeda dengan partai politik, yang memperjuangkan kepentingan tertentu walaupun kerap mengatasnamakan rakyat.

    Seperti apa gambaran historis sosok mahasiswa? Sejak zaman dulu kala, sejak zaman pergerakan nasional melawan kolonialisme, mahasiswa adalah penggagas dan pejuang ide, memimpin rakyat untuk berjuang melawan kolonialisme, membangkitkan kesadaran berbangsa untuk merebut kemerdekaan, dan mendongkrak harga diri rakyat yang lama tertindas.

    Bila kemudian, saat ini, ada mahasiswa—entah berapa banyak dan dari mana—hendak berpolitik praktis, sungguh wajar bila rakyat mempertanyakan: apa motif sebenarnya? Apakah motifnya hendak menghancurkan citra gerakan mahasiswa yang bersifat moral, sehingga kemudian terbangun persepsi di masyarakat bahwa mahasiswa pun tidak terbebas dari kepentingan praktis, yang mungkin berjangka pendek, partisan atau kelompok? Lihatlah, mahasiswa ternyata sama saja dengan politisi—citra inikah yang diinginkan terbentuk?

    Apakah pembentukan partai politik mahasiswa ini dimaksudkan untuk memecah mahasiswa, menimbulkan perselisihan di antara eksponen gerakan mahasiswa sehingga terbentuk pro dan kontra di antara mahasiswa tentang masa depan gerakan mahasiswa? Apakah ini dimaksudkan untuk mencemari gerakan mahasiswa dengan kepentingan politik praktis?

    Melihat respons masyarakat yang mempertanyakan pembentukan dan pengesahan yang begitu cepat partai mahasiswa ini, boleh jadi partai mahasiswa tidak akan mudah memperoleh kursi untuk duduk di kursi parlemen Senayan. Kecilnya kemungkinan partai ini untuk mendapat kursi parlemen boleh jadi disadari benar oleh para penggagas partai ini, baik yang menyatakan diri sebagai mahasiswa maupun pihak lain yang mendukung. Tujuannya mungkin saja memang bukan untuk memperoleh kursi parlemen, melainkan untuk mengacaukan gerakan mahasiswa yang selama ini menjadi parlemen jalanan karena parlemen kantoran yang di Senayan lebih menyuarakan kepentingan elite politik dan ekonomi ketimbang kepentingan rakyat banyak. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.