Milenial dan Societas Kesadaran - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ose Mau

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Desember 2021

Selasa, 10 Mei 2022 07:44 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Milenial dan Societas Kesadaran

    Manusia adalah pribadi yang unik oleh akal dan budi. Dia mampu berpikir dan merasakan apa yang ada dalam diri pun di luar dirinya. Namun, keunikan itu kian terkikis. Pertanyaan mendasar: apakah ini terjadi akibat perubahan zaman atau kurangnya kesadaran manusia?

    Dibaca : 546 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Manusia pada dasarnya merupakan  makhluk yang bebas. Kebebasan itu membuat manusia menemukan kesejatian dirinya. Oleh kesejatian itu manusia mampu mengesposisikan apa yang ada dalam pikiran sebagai sebuah ide, dan dieksplorasi sedemikian rupa menjadi suatu kontinuitas yang real. Dapat dilihat, dirasakan dan dianalisis sedemikian agar tercapai suatu konsensus. 

    Telah  menjadi sebuah kenyataan bahwa apa yang terjadi saat ini merupakan suatu tindak lanjut dari yang terjadi sebelumnya. Budaya, misalnya menjadi contoh bagaimana manusia bertransformasi dari keberadaannya sebagai manusia berbudaya kepada kebudayaan manusia. Tentu menjadi suatu makna yang berbeda ketika hal ini ditelusuri secara mendalam melalui kesadaran manusia.

    Budaya berkaitan dengan cara hidup sedangkan kebudayaan berkaitan dengan masyarakatnya yang secara kolektivitas telah menghidupi seluruh cara hidup yang ada (tradisi leluhur). Hasil dari pencaharian ini akan menjadi tolok ukur bagaimana manusia memahami dunia di mana ia berada dan berelasi di dalamnya. Sehingga coggito ergo sum menurut Descartes tidak hanya menjadi sebuah abstraksi biasa, tetapi juga menjadi inti dari keberadaan manusia yang sadar akan diri dan realitas di mana kesejatian dirinya dibentuk dan ditransformasikan.

     Manusia makhluk bebas. Ia diciptakan atas prakarsa Allah demikian sebuah prinsip penciptaan yang dapat dilihat dari Kitab Suci sebagai buku iman (bdk Kej. 1:1-31).Terlepas dari kisah penciptaan yang telah berlangsung berabad-abad lamanya, manusia kemudian jatuh dibawah arus kebudayaan. Pergulatan manusia menembusi zaman merupakan sebuah histori yang tidak dapat dihilangkan dari muka bumi. Manusia selalu ada dalam ruang dan waktu. Ruang dan waktu akan keberadaan sebagai manusia masa lalu (Past), masa sekarang (present) dan masa depan (future).

    Itulah budaya dari eksistensi manusia sejak zaman ia diciptakan sampai saat ini, ia masih bergulat dalam ruang dan waktu yang sama. Manusia tidak bisa dilepaskan dari peziarahan hidupnya, sebab tubuh manusia adalah kreativitas jiwa. Hal ini ingin menunjukan bahwa peziarahan manusia tidak bisa terlepas dari manusia secara keseluruhan (badan dan jiwa). Walaupun pada prinsip utama, keduanya merupakan dua entitas yang berbeda namun satu dalam peziarahan dalam ruang dan waktu yang kelihatan.

     Pernyataan-pernyataan di atas sengaja diangkat untuk melihat suatu proses permasalahan umum yang kerap terjadi dari perspektif historisitas manusia itu sendiri. Manusia masa lampau menciptakan takdir untuk dirinya tetapi juga untuk generasi-generasi sesudahnya. Dapat dibayangkan jika Heideger mengatakan kelahiran adalah sebuah ketelemparan, maka zaman milenialpun merupakan sebuah ketelemparan dari zaman-zaman sebelumnya.

     Zaman milenial sebuah babak baru akan ketelemparan dari masa postmodern. Masa di mana seluruh ilmu pengetahuan telah diobrak-abrik oleh rasionalitas manusia, hingga mencapai abad ke 21. Manusia dikatakan sebagai manusia pada era milenial ataupun yang kerap dihubung-hubungkan dengan masa revolusi 4.0. Sebuah revolusi di mana segala sesuatu yang berhubungan dengan akses kehidupan manusia digenggam oleh jejaring connected atau sistem berbasis internet.

     Ini merupakan suatu penemuan yang tidak bisa ditolak oleh dunia di zaman milenial. Sebab-sebab dari penemuan di zaman ini adalah adanya kesenjangan sosial dalam hidup manusia. Jika zaman dahulu manusia adalah makhluk sosial, kini dan saat ini (hic et nunc) manusia adalah makhluk individualis. individualitas manusia tidak berarti manusia jatuh ke dalam ketertinggalan pengetahuan, namun sebaliknya. Dia menjadi pribadi yang ekstern (keluar) dari dirinya, namun in of life (menetap dalam dirinya). mengartikan bahwa kesadaran dirinya keluar tanpa adanya perjumpaan dengan pihak lain di luar dirinya. Mereka ada secara virtutal namun merekan nyaman dengan keadaan itu. inilah problem yang sedang dihadapi oleh dunia dewasa ini. 

    Singkat kata, sejatinya zaman milenial tidaklah miskin akan pengetahuan, tetapi miskin akan kata-kata. Pernyataan ini, ingin menunjukan bahwa adanya ketidak sadaran kaum milenial untuk sesamanya. Ia (kaum milenial) tidak memahami konsep keberadaannya sebagai seorang manusia yang sosialis. mereka memang ada tetapi terpaku dalam dunia bayang-bayang yang semu insibilitas antara ada dan tiada.

    Oleh sebab itu, artikel ini akan mencoba menguraikan tentang suatu tantangan kaum milenial, yang kerap mendominasikan dirinya akan segala hal, tetapi jauh dari itu, ia tidak menyadari bahwa ia telah berada pada ambang keabsuran. Ambang di mana dirinya ditantang untuk menyadari dan mengerti sejauh mana dirinya terlibat pada suatu fenomen tentang apa itu kasih dari kasih seorang manusia yang manusiawi untuk memanusiakan setiap keberadaan di zaman milenial.

     

    Kaum Milenial dan Kesadaran

    Berbicara tentang kaum milenial di zaman ini tentu menjadi sebuah pernyataan sulit, karena akan mengundang pernyataan-pernyataan antara pro dan kontra terhadap kaum milenial. Persoalan antara pro dan kontra dapat ditinjau dari bebagai aspek kehidupan yang sedang terjadi saat ini. Sebagai seorang manusia milenial, saya tidak dapat mengatakan setuju ataupun tidak setuju dengan  keberadaan  manusia milenial.

    Manusia milenial telah menjadi manusia-manusia yang akan menjadi agen pembaharu bangsa bahkan dunia. Kaum Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y, Gen Y atau Generasi Langgas) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen X). tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir  dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. (Milenial-Wikipedia…id.m.wikipedia.org.)

    Penelitian yang demikian memberikan pengaruh luar biasa kepada kaum milenial sebagai hasil dari generasi-generasi sebelumnya. Tentunya harus diakui bahwa pada masa ini dan masa sebelumnya terdapat perbedaan yang sangat signifikan. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dilihat dari cara dan ciri kehidupan generasi X dan Y.

     Generasi X dan Y, sangat menyadari bahwa mereka hidup dalam keterbatasan material, dan bahkan miskin untuk berkomunikasi secara digit. Persoalan ini menunjukan eksistensi waktu (kala itu),  mereka masih hidup dalam revolusi industry 3.0. Sudah ada sistem komputerisasi, namun sitem jejaringan masih sangat terbatas tidak seperti sekarang ini. Kemiskinan mereka akan dimensi material mengubah pola pikir. Bila awalnya segala sesuatu dilakukan dengan mendikte dari para leluhur sebagai suatu tradisi, maka kini mereka mencoba mencetus generasi-generasi baru yang bukan hanya mendikte dari apa yang telah mereka alami, tetapi lebih kepada sebuah pencaharian.

    Kaum milenial menemukan dirinya dalam pencaharian akan kehendak bebas dan jati diri, sebagai seorang mansusia yang berziarah. Kaum milenial pada prinsipnya bukan hanya manusia konsumtif tetapi sebagai agen pembaharu yang mencoba menemukan berbagai ilmu pengetahuan sebagai sarana pengubah dan pembaharu dunia.  Sebagai agen pembaharu maka ia tidak pernah terlepas dari apa yang disebut kesadaran.

    Awal dari sebuah kesadaran adalah dengan mengenal siapa dirinya. Dia tidak harus bergulat dengan dirinya sebagai pribadi yang runtuh di ambang keemasan (zamannya), tetapi dia haruslah menjadi manusia yang tunduk di bawah payung kesadaran akan kasih kemanusiaan itu sendiri. Semakin kaum milenial menekuni zamannya, semakin dia menyadari bahwa dirinya eksis dibawah payung keemasan digitalitas dan sosialitas.

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.