Tentang Arus Mudik dan Arus Balik - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan berjalan menaiki bus yang akan membawa mereka ke Terminal Pulogebang, Jakarta, di Pintu Tol Cikarang Barat, Bekasi, Kamis, 21 Mei 2020. Para pemudik diarahkan kembali menuju Jakarta karena penerapan larangan mudik Lebaran. ANTARA/Nova Wahyudi

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Senin, 9 Mei 2022 14:46 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Tentang Arus Mudik dan Arus Balik

    Arus Mudik dan Balik tidak hanya memperkaya kosa istilah bahasa Indonesia. Sebagai tradisi lebaran, ia merupakan laku budaya khas Indonesia.

    Dibaca : 1.151 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Tentang Arus Mudik dan Arus Balik

    Arus Mudik dan Arus Balik, merupakan dua istilah yang populer saat pra dan pascaidulfitri atau lebaran. Pelaku dari aktivitas tersebut adalah “pemudik” dan inti dari  pemudik adalah “mudik.”

    Menurut survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan alias Balitbang Kemenhub, pemudik tahun 2022 ini diperkirakan ada 85,5 juta orang yang akan melakukan perjalanan mudik Lebaran tahun ini. Jumlah pemudik terbanyak diperkirakan berasal dari Jawa Timur, yakni 14,6 juta orang. Angka itu setara dengan 17,1% dari total jumlah pemudik pada Lebaran tahun ini. Jabodetabek menempati peringkat kedua dengan perkiraan jumlah pemudik 14 juta orang atau sekitar 16,4% dari total pemudik. Sejumlah  12,1 juta orang pemudik diprediksi berasal dari Jawa Tengah, 9,2 juta pemudik dari Jawa Barat, dan 4 juta pemudik dari Sumatera Utara.

    Arus Mudik dan Arus Balik sebagai fenomena memang menarik, hingga pengelolaan arus mudik akan selalu berkesinambungan dengan pengelolaan arus balik. Tahun ini boleh dikatakan spesial. Setelah jeda dua tahun akibat pandemi covid-19, seperti yang sudah diperkirakan, mudik Lebaran kali ini benar-benar membeludak. Hingga H-1 Lebaran, Minggu (1/5), bahkan juga pada H+1 Lebaran, Selasa (3/5), arus mudik masih tinggi. Ini terutama terlihat dari kepadatan jumlah kendaraan keluar dari Jakarta menuju Jawa Barat sampai Jawa Timur yang melalui Tol Trans-Jawa, Purbaleunyi, maupun Jagorawi. Juga kendaraan yang menuju Pulau Sumatra melalui Pelabuhan Merak-Bakauheni

     

    Ragam Kajian

    Arus Mudik dan Arus Balik sebagai fenomena memang menarik, hingga pengelolaan arus mudik akan selalu berkesinambungan dengan pengelolaan arus balik. Tahun ini boleh dikatakan spesial. Setelah jeda dua tahun akibat pandemi covid-19, seperti yang sudah diperkirakan, mudik Lebaran kali ini benar-benar membeludak.

    Hingga H-1 Lebaran, Minggu 1Mei, bahkan juga pada H+1 Lebaran, Selasa 3Mei,  arus mudik masih tinggi. Ini terutama terlihat dari kepadatan jumlah kendaraan keluar dari Jakarta menuju Jawa Barat sampai Jawa Timur yang melalui Tol Trans-Jawa, Purbaleunyi, maupun Jagorawi.

    Kendaraan yang menuju Pulau Sumatra melalui Pelabuhan Merak-BakauheniMasyarakat Jawa, megartikan “mudik” dengan ‘mulih dhisik atau mulih diluk’ Arti lainnya, pulang dulu atau hanya sebentar untuk melihat keluarga setelah mereka merantau. Masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai ‘kembali ke udik’. Dalam bahasa Betawi, “udik” berarti kampung. Saat orang Jawa hendak pulang ke kampung halaman, orang Betawi menyebut “mereka akan kembali ke udik”.

     

    Mengutip dari laman historia.id, Yuanda Zara, mengungkapkan bahwa setelah Ibukota RI dipindahkan kembali ke Jakarta, pasca Agresi Militer Belanda 2, masyarakat Indonesia beramai-ramai datang ke Jakarta. Data menunjukan, di tahun 1948 penduduk Jakarta hanya berjumlah 800 orang, setelah adanya arus urbanisasi ke Jakarta. Angka tersebut kemudian melambung naik menjadi 1,4 juta jiwa di tahun 1950-an, dengan mayoritas pendatang dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

     

    Pesatnya pertumbuhan penduduk ini dilatarbelakangi oleh ketersediaan fasilitas dan lapangan pekerjaan oleh pemerintah saat itu. Pemerintah Indonesia, saat itu tengah memfokuskan dana untuk pembangunan Jakarta, sehingga masyarakat yang tinggal di daerah merasa bahwa Jakarta lah tempat mereka mengadu nasib dan peruntungan.

    Seiring berjalannya waktu, setelah beberapa tahun, pendapatan masyarakat daerah yang bekerja di Jakarta meningkat, saat itu sebagian besar dari mereka sudah mulai merindukan kampung halaman. Karenanya, di tahun 70-an, terjadi fenomena mudik masal dari Jakarta ke daerah-daerah di semua pulau  di Indonesia. Sejak saat itulah, "Mudik" mulai menjadi tradisi umum setiap tahun, khususnya di momentum hari besar seperti Idulfitri.

    Syarifani Herdianti (2018), menjelaskan bahwa tradisi   mudik   lebaran    sebenarnya   terkait   erat   dengan   sistem kekerabatan  yang  melihat  keluarga  sebagai  keluarga  luas. Dengan  demikian,  menjadi tidak  aneh  ketika  setiap  lebaran  akan  selalu diselenggarakan   pertemuan-pertemuan   yang   melibatkan   keluarga   luas tersebut.   Hal   inilah   yang   menyebabkan   orang   akan   terdorong   untuk berkumpul dengan para kerabatnya.

    Kebiasaan mudik dimulai sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.  dahulu wilayah kekuasaan Majapahit begitu luas hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Kerajaan Majapahit pun, menempatkan para pejabatnya di titik-titik kekuasaan mereka. Hingga pada suatu ketika, pejabat tersebut akan kembali ke pusat kerajaan untuk menghadapi raja dan mengunjungi kampung halaman.

     

    Dalam konteks lain,  Tantan Hermansah (2021) menyatakan pemudik juga mewakili realitas sosial yang berlapis. Meski mereka menuju ke arahnya masing-masing yang secara geografis berbeda, namun tujuan mereka umumnya tunggal: kampung halaman. Oleh karena itu, proses menuju ke kampung halaman ini semakin menarik untuk didalami lebih jauh.

     

    Pertama, para pemudik menampilkan visualisasi kelas sosial. Mereka ada yang merupakan kelas elit/ atas; menengah, dan bawah. Ketiga entitas kelas ini bisa diwakili dari berbagai hal yang secara kasat mata terlihat seperti: kendaraan yang dipergunakan, penampilan, proses selama di perjalanan, dan bahkan “bekal” yang dibawa. Kelas atas biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Kadang dalam menuju destinasi mereka singgah di hotel/ penginapan berkelas. Perjalanan mudik mereka jadikan ruang untuk berwisata dan menikmati perjalanan meski harus mengeluarkan biaya yang cukup besar.

     

    Kedua, para pemudik juga merupakan wujud dari reproduksi budaya yang sangat lokal. Karena mereka ada dan hadir dalam kultur Indonesia/ Nusantara yang khas. Sebab, seperti kita ketahui, bahwa negara-negara yang jumlah masyarakat penganut agama Islamnya besar, belum tentu memiliki budaya mudik seperti di Indonesia. Budaya mudik di Indonesia direproduksi secara cerdas oleh bangsa ini sehingga memberikan makna mendalam bagi sistem sosial dan tata kelola kehidupan bangsa ini.

     

    Dahulu antara mudik dan lebaran tidak terdapat korelasi. Akan tetapi, kini pengertian mudik dikaitkan dengan kata “udik” yang artinya kampong, desa, atau lokasi yang menunjukan antonim dari kota. Kemuian, pengertian ini ditambah menjadi ‘mulih udik’ yang berarti ‘kembali ke kampung atau desa saat lebaran.’

    Mudik juga bisa menjadi semacam terapi yang menguatkan hubungan kekeluargaan. Dalam aspek psikologis, mudik akan membangkitkan kesegaran dan tenaga baru bila mereka kembali bekerja di kota. Oleh karena itu mudik lebaran, selain menjadi tradisi tahunan juga memiliki efek perbaikan hidup atau terapi untuk rasa kehilangan bagi mereka yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga.

    Dalam konteks Idulfitri,  “arus mudik” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna ‘pergerakan para pemudik pulang ke kampung halaman, baik melalui jalur darat, laut, maupun udara’ Sedangkan “arus balik”  menurut KBBI bermakna ‘pergerakan para pemudik dari kampung halaman kembali ke tempat asalnya, baik melalui jalur darat, laut, maupun udara.’ *****



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.