Shalat sebagai Program Pembinaan Pembangunan Pribadi Muslim - Analisis - www.indonesiana.id
x

sucahyo adi swasono

Pegiat Komunitas Penegak Tatanan Seimbang (PTS); Call Center: 0856 172 7474
Bergabung Sejak: 26 Maret 2022

Senin, 9 Mei 2022 05:57 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Shalat sebagai Program Pembinaan Pembangunan Pribadi Muslim

    Islam sebagai suatu tatanan (manajemen) kehidupan seimbang pada masa Muhammad, dibangun melalui 5 (lima) program pembinaan kepada umatnya (hadits), yang sekarang diistilahkan dengan Rukun Islam, meliputi: syahadat, shalat, puasa, zakat mupun haji. Lima program pembinaan tersebut juga bagian dari ibadah, yang semua itu juga dalam kerangka menjaga, memperbaiki dan membangun sistem keseimbangan di Bumi ini. Artikel kami sebelumnya, telah kami uraikan tentang Puasa sebagai Program Perbaikan Keseimbangan Alam, fisik dan perilaku manusia. Kemudian, zakat adalah program pembersihan (pungutan) dari sebagian harta-harta untuk perbaikan keseimbangan ekonomi. Pada kesempatan kali ini, kami akan mengulas esensi syahadat dan shalat , sebagai bagian dari Program Pembinaan Pembangunan Pribadi Muslim.

    Dibaca : 697 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pembaca yang budiman dan yang berbahagia, Saudara Sebangsa dan Setanah Air ...

    Sudah sama-sama kita ketahui bahwa Tuhan sangat peduli terhadap keseimbangan, sebab pada dasarnya semua ciptaan Tuhan adalah sangat seimbang-sempurna (QS Al-Mulk : 3-4, “Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?” (3); “Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih.” (4)). Mulai dari susunan benda-benda yang memenuhi ruang angkasa hingga berbagai sistem yang ada di Bumi. Kalau timbul berbagai kerusakan dan  bencana di Bumi, serta berbagai penyakit ataupun cacat pada tubuh  manusia dan mahluk biologis  lainnya, itu adalah akibat dari ulah manusia yang telah merusak sistem keseimbangan ciptaan Allah (QS  As-Syura : 30, “Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatanmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu”), Termasuk sistem keseimbangan yang ada dalam tubuh manusia sendiri, baik secara langsung atapun hasil warisan dari manusia-manusia sebelumnya.

    Tuhan menciptakan manusia agar bisa menjadi hamba-hamba yang setia (QS Az-Zariyat : 56, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”), iyyaka na’budu wa iyyaka nasta'inu (Hanya kepada-Mu kami mengabdikan diri serta menggantungkan hidup kami, QS Al-Fatihah : 5). Mengabdikan diri bukan sekedar menyembah dan memuja-muja, yang lebih penting dari itu adalah menjalankan seluruh ketentuannya dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, seluruh aktivitas kehidupan seorang hamba (abdi Tuhan) adalah beribadah, dan  semua ibadah dilakukan dalam kerangka menjaga, memperbaiki dan membangun sistem keseimbangan di Bumi ini.

    Islam sebagai  suatu tatanan (manajemen) kehidupan seimbang pada masa Muhammad, dibangun melalui 5 (lima) program pembinaan kepada umatnya (hadits), yang sekarang diistilahkan dengan Rukun Islam, meliputi: syahadat, shalat, puasa, zakat maupun haji. Lima (5) program pembinaan tersebut juga  bagian dari ibadah,  yang semua itu juga dalam kerangka menjaga, memperbaiki dan membangun sistem keseimbangan di Bumi ini.

    Pada Artikel kami sebelumnya, telah kami uraikan tentang Puasa sebagai Program Perbaikan Keseimbangan Alam, fisik dan perilaku manusia. Kemudian, zakat adalah program pembersihan (pungutan) dari sebagian  harta-harta  untuk perbaikan keseimbangan ekonomi. Pada kesempatan kali ini, kami akan mengulas esensi syahadat dan shalat , sebagai bagian dari Program Pembinaan Pembangunan Pribadi Muslim.

    Menjadi seorang muslim yang sejati, diawali dengan komitmen yang sungguh-sungguh, bersaksi membuat pengakuan untuk menjadi hamba Allah yang setia (tidak ada Tuhan selain Allah), tidak ada Tuhan yang patut disembah, dijunjung tinggi, dipatuhi selain Allah. Inilah yang dinamakan syahadat. Syahadat adalah bentuk pengakuan , komitmen untuk siap menjadi hamba Allah yang setia, menjadi bagian dari Dinul Islam , tatanan kehidupan seimbang. Dengan kata lain syahadat adalah komitmen siap berjuang mencurahkan seluruh hidup untuk menjaga, memperbaiki dan membangun sistem keseimbangan ciptaan Allah.

    Dalam doa iftitah , bacaan awal shalat sebelum Al-Fatihah, juga dinyatakan sebagai berikut: "Sesungguhnya aku menghadapkan wajah (membentuk pandangan) menurut yang telah menciptakan langit dan bumi, setulus hati menjadi muslim dan bukan menjadi bagian dari orang-orang musyrik ..."

    Jadi, syahadat adalah komitmen yang tulus untuk menjadi hamba Allah yang setia , menjadi pendukung Dinul Islam, tatanan kehidupan seimbang dan tidak mendua dengan model hidup apapun. Selanjutnya, setelah kita menyatakan komitmen setia terhadap Allah, tahap berikutnya adalah menguatkan komitmen tersebut melalui shalat.

    Secara etimologis, arti shalat adalah doa, zikir maupun patuh. Dikatakan doa, karena ada bacaan shalat yg bersifat permohonan kepada Allah. Contoh doa yang selalu diucapkan berulang-ulang dalam shalat, dan merupakan doa yang paling penting dan utama bagi setiap hamba Allah :  ihdinash-shirathal-mustaqiim -- Tunjukkanlah (pedomanilah -- melalui Ajaran-Mu) jalan yang benar (menuju kehidupan yang ideal (kehidupan jannah, surga, tatanan kehidupan seimbang, QS Al-Fatihah : 6-7).  Dengan shalat, kita bermohon untuk selalu ditunjukkan jalan yang tepat menuju  jannah (surga fid-dunya wal akhirat), kita juga bermohon untuk diberikan ampunan atas segala kesalahan yang telah kita perbuat, serta dengan doa-doa lainnya.

    Kemudian, shalat juga bermakna dzikir, hal ini sesuai dengan perintah Allah kepada Musa untuk melakukan syahadat dan shalat  (QS Thaha : 14), “ Sesunguhnya Aku ini Allah, Tidak ada Tuhan Selain Aku, maka mengabdilah kepada-Ku (konteks Syahadat), dan tegakkan shalat untuk mengingat-Ku”. Dengan demikian, maka terhadap shalat ini, kita harus selalu mengingat Tuhan untuk mengikuti segala ketentuannya untuk tidak merusak berbagai sistem keseimbangan ciptaan-Nya, serta berjuang memperbaiki dan membangun Tatanan Seimbang di muka Bumi.

    Arti shalat yang lain, adalah patuh, taat  kepada Allah. Bacaan-bacaan dalam shalat sebagian besar merupakan pernyataan kepatuhan terhadap Allah, seperti kata Bismillaahir-rahmaanir-rahiim yang merupakan ayat inti dalam Al-Qur’an, dalam pengertian: saya menyatakan berbuat) atas nama Allah ... Perbuatan atas nama Allah tentunya perbuatan yang sesuai dengan Ajaran Allah, ajaran yang sarat dengan Nilai-Nilai Kebajikan Universal, ajaran yang menjunjung tinggi  Ahlakul Karimah, ahlak yang berlandaskan prinsip-prinsip keseimbangan. Dan, patut untuk disadari secara jujur ilmiah, bahwa kata bismillah bukanlah sebagai mantera, yang harus diucapkan agar keinginan kita terkabul. Sadarilah, bahwa mengucapkan bismillah untuk melakukan perbuatan yang dengan sadar dan berkecenderungan merusak sistem keseimbangan ciptaan Allah, maka sama dengan melecehkan atau mempermainkan Tuhan, dan tentunya Allah pasti akan murka.

    Jadi, shalat yang benar harus melahirkan output yang positif, yakni kepatuhan terhadap ketentuan Allah. Sebagaimana dikatakan dalam QS Al-Ankabut : 45, “ ... sesunggahnya Shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar ...” (45). Artinya apa? Dengan shalat kita harus menjadi manusia yang berahlakul karimah, manusia yang berupaya berperilaku seimbang di seluruh aspek kehidupannya.

    Terakhir, shalat juga bermakna pemujaan kepada Allah, hal ini karena banyak bacaan dalam shalat bersifat sanjungan, oleh karenanya banyak para ulama yang mengartikan shalat dengan kata sembahyang atau kegiatan menyembah Tuhan. Perlu diketahui, bahwa  ritual pemujaan (penghormatan) seorang hamba kepada Tuhannya adalah bagian dari perilaku yang seimbang, sebagai wujud syukur manusia kepada Sang Khaliknya yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Dengan konsekuensinya bahwa sembahyang harus mampu menghantarkan kita untuk berperilaku positif dan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan yang negatif. Namun, jika tidak, maka kita akan tergolong orang-orang yang digambarkan dalam QS Al-Ma’un, yakni  orang-orang yang lalai dalam shalatnya, mereka adalah orang yang riya (menjilat) terhadap Allah, memuja-muja Allah selangit, namun tidak mau berbuat sesuai dengan ketentuan Allah. Mereka termasuk orang-orang  yang munafik, mendustai Allah,  merusak  tatanan dan sistem keseimbangan ciptaan Allah. Bayangkan, kita sebagai manusia saja muak melihat perilaku orang yang suka menjilat atasannya, apalagi Allah. Bagaimana murkanya terhadap orang-orang yang selalu menjilat terhadap diri-Nya ... Jadi, agar kita tidak tergolong orang-orang yang suka menjilat Allah, maka shalat (sembahyang)  kita harus selalu dibarengi dengan perilaku-perilaku yang positif di seluruh aspek kehidupan.

    Dari keseluruhan ulasan di atas, maka kita bisa menarik esensi dari makna shalat, yakni sebagai berikut:

    • Sebuah ritual pembinaan diri untuk menanamkan kepatuhan (ketaatan) di bawah ketentuan Ajaran Allah. Ajaran yang mengajarkan Nilai-Nilai Kebajikan Universal, ahlakul karimah , ahlak yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip  keseimbangan.

    Dengan demikian, shalat bukan sekedar melafalkan bacaan dan melakukan gerakan seperti yang dicontohkan dalam berbagai hadits, namun esensinya harus dipahami dengan benar, bacaan dan gerakan-gerakannya  harus dipahami maknanya, sehingga shalatnya menjadi berisi, bukan sekedar bacaan dan gerakan kosong yang tak bermakna. Bahkan, yang lebih memprihatinkan, permasalahan teknis dalam shalat yang tidak terlalu prinsip, justru menjadi penyebab keributan antar kelompok,  saling mengejek, saling mengolok-olok, saling menyalahkan antar sesama umat.

    Secara prinsip shalat ini identik dengan berbagai kegiatan upacara pada korps militer. Yang mana tujuan upacara selain menanamkan disiplin , juga menguatkan doktrin-doktrin militer kepada anggota korpsnya. Dan, perlu diketahui institusi militer merupakan institusi yang solid dibandingkan dengan isntitusi-institusi lainnya, termasuk berbagai institusi keagamaan.  Dengan kata lain, tradisi upacara dalam militer lebih berhasil, dibandingkan dengan shalat yang dilakukan umat muslim saat ini dalam membentuk kedisiplinan, kepatuhan terhadap nilai (ketentuan) yang digariskan, serta kesolidan dalam membangun korps atau organisasi. Padahal shalat yang benar seharusnya akan menghasilkan output positif yang lebih baik dibandingkan upacara militer, karena doktrin-doktrin yang ditanamkan dalam shalat bersumber dari Allah Tuhan Yang Maha Esa.

    Dengan shalat yang benar, berarti kita sudah siap melakukan seluruh aktivitas sesuai ajaran Tuhan, aktivitas yang sarat dengan nilai-nilai kebajikan, perbuatan yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip keseimbangan. Yakni, menjalani kehidupan yang bersih dari hal-hal yang tercela atau yang bisa merusak keseimbangan. Oleh karenanya, dalam beberapa ayat, kewajiban menegakkan shalat selalu diikuti dengan melaksanakan zakat (QS Al-Baqarah : 43, 110,  Al-Mujadalah : 13, dan lain-lain).

    Sedangkan zakat dalam arti secara umum dan khusus adalah membersihkan diri yang meliputi, sebagai berikut:

    1. Membersihkan fisik. Dalam penjelasan tentang puasa, dipaparkan bawah hakikat puasa adalah untuk penggelontoran racun-racun dalam tubuh dengan harapan tubuh menjadi lebih bersih sehingga terjadi perbaikan metabolisme dan sistem keseimbangan tubuh .
    2. Membersihkan perilaku dari perbuatan yang tercela, yaitu melalui latihan pengendalian berbagai hawa nafsu dalam kegiatan puasa,  antara lain  nafsu keserakahan, nafsu syahwat,  nafsu emosional (amarah) yang tak terkendali, dan lain-lain.
    3. Membersihkan harta-harta dari yang bukan menjadi hak kita, melalui kegiatan zakat dalam arti khusus. Jadi, zakat dalam arti umum adalah pembersihan diri yang meliputi kegiatan puasa, bersih fisik dan perilaku, serta kegiatan zakat dalam arti khusus, yaitu bersih harta (pendapatan).

    Dengan semua yang serba bersih (suci) “IDUL FITRI”, ini akan menjadi modal kita kita untuk mewujudkan tatanan keseimbangan (Dinul Islam), yang berarti kita sudah siap memasuki gerbang surga (jannah), fid-dunya wal akhirat.

    Demikianlah gambaran sistematis pembinaan Islam, yang diawali dengan syahadat, berkomitmen atau melakukan ikatan kontrak dengan Allah untuk siap menjadi hamba-hamba yang setia (QS Al-fatihah : 5). Selanjutnya dibina melalui shalat (upacara-upacara) ritual untuk menanamkan kedisiplinan, rasa persatuan, serta spirit yang kuat untuk patuh menjalankan semua ketentuan (ajaran) Allah. Kemudian, membersihkan kehidupan kita dari berbagai kekotoran fisik, perilaku dan harta ekonomi melalui zakat dan puasa. Dan, yang terakhir adalah melakukan kegiatan haji.

    Bagaimana dengan makna haji? Silakan mengikuti pemaparan di Artikel kami selanjutnya. Sekian dan Terima Kasih.

    Salam Satu Bangsa Indonesia_Nusantara, Salam PANCASILA ...

    Kota Malang, Mei hari ketujuh, Dua ribu dua puluh dua.

    Selebihnya dan selanjutnya, silakan kunjungi Channel Youtube: @penegak tatanan seimbang. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.