Temu Kangen 25 Tahun atawa Reuni Perak - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Persekonglolan Politik. Ilustrasi oleh Gerd Altmann dari Pixabay.com

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Senin, 9 Mei 2022 06:10 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Temu Kangen 25 Tahun atawa Reuni Perak

    Cerpen "Temu Kangen 25 Tahun atawa Reuni Perak" berkisah tentang substansi reuni. Perhelatan tersebut, bisa djadikan ajang temu kangen dan berbagi. Namun, Reuni Perak kali ini, tidak sekadar itu.

    Dibaca : 538 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebuah amplop jingga tergeletak di atas meja kerja, saat aku pulang. Sambil menyediakan segelas kopi, istriku menginformasikan, “Ada Undangan Reuni Perak.”  

    Reuni? Aku, jujur paling malas sama yang namanya helat reunian. Ratusan kali kami berdebat. Itu sebabnya, jika ada reunian aku tidak pernah mengantarnya. Sesekali menjemputnya pakai motor butut, saat dia pulang. Inilah awal mula nyinyirku mendapat tempat.

    “Seru deh, Pah, acaranya. 95% alumni bisa pada datang,” jelas istriku, tanpa kiminta bercerita.

    “Hmm,” responku.

    Seneng bisa ketemu temen-temen lama, Pah!”

    “Ya.”

    “Eh, Pah, tadi ketemu temen yang dulu sekelas dan cemen, sekarang hebat deh.”

    “Hmmm....”

    Anda tahu kelanjutannya, kan? Istriku cerita. Dia datang bersama istrinya yang cantik. Dia yang dulu di kelas suka di-bully karena rambutnya yang mirip dengan sapu lidi yang didirikan tegak. Bila ada tukang balon lewat, temannya itu selalu ditarik minggir, karena takut balon pada meletus gegara rambutnya. Matanya yang belo dan selalu tampak kuyu, karena rumahnya yang jauh dan harus menggowes sepeda bututnya sejauh 25 km melewati hutan dan persawahan.

    “Dia sekarang sudah profesor, Pah! Dia mengajar di perguruan ternama di Jawa tengah, dan jadi dosen tamu di 5 perguruan tinggi mancanegara. Anak-anaknya kuliah di luar negeri...”

    “Cuma itu?”

    “Masih ada lagi.”

    “Papah dari dulu paling  malas dengar orang usai reunian. Ada saja cerita yang CLBK-lah, karena jumpa dengan mantannya. Kebetulan yang sana duda, yang sini janda. Belum lagi soal pamer kekayaan, prestasi, jabatan, pokoknya begitu Mah! Malas aku bahasnya!

    ***

    Sesuai undangan, aku harus datang pukul 10:00 WIB. Tempatnya di hotel berbintang depan Taman Mini. Namun, karena motor butut ini tumben ngadat, jadi datangnya tidak tepat waktu. Kedatanganku rupanya sudah dinanti mereka.

    “Assalamualaikum Pak,” sapa seseorang yang kelak saya tahu, dia bernama Heru.”Bapak masih seperti dulu.”

    Tiba-tiba banyak yang menyalami saya satu per satu. Ada yang memeluk karena kangen, katanya.  Kebanyakan hanya cium tangan.

    Acara demi acara  “Reuni Perak” berlangsung santai.

    “Ibu dan Bapak guru yang kami sayangi. Teman-teman alumni yang saya banggakan, tanpa beliau-beliau, kita bukan siapa-siapa,” ujar Marlin sang Ketua Panitia.  “Untuk itu, kami sangat berterima kasih atas didikan selama di SMP. Terbayang 25 tahun lalu, kami ini anak-anak yang lugu dan takut berimajinasi.”

    Aku terharu. Aku ingat, Marlin ini dulu waktu SMP pernah menjadi Ketua OSIS. Anak cerdas ini, masih juga menunjukkan kecerdasannya dan makin santun dalam bertutur kata.

    “Bapak dan ibu guru, izinkan kami menyampaikan sejak lulus 25 tahun lalu kami melanjutkan ke SMA dan SMK, lalu melanjutkan hingga perguruan tinggi. Alhamdulillah, 90% kami yang hadir disini sukses meniti karier sesuai bidangnya,” lanjut Marlin.

    Tepuk tangan meriah membahana. Marlin lantas merinci: sekian orang sbg politisi, sekian temannya sebagai wira usahawan, sekian orang menjadi guru dan dosen, sekian orang masuk di kedinasan TNI dan Polri. Mereka juga memiliki koperasi alumni.

    Giliran aku diminta menyambut. Hanya dua hal kusampaikan.

    “Pertama, Bapak mewakili guru-guru SMP, bersyukur dan bangga kepada kalian atas sukses dan prestasi yang diraih. Kedua, kami merasa terhormat dan tersanjung, karena kalian masih menjalin silaturahmi ini.”

    Usai acara ”Reuni Perak” ini, guru-guru yang hadir dibawa dengan mobil mewah ke sebuah perumahan mewah tidak jauh dari Taman Mini.

    “Ini salah satu karya alumni pak dan bu,” ujar Anton dan Diah. Aku hapal benar dengan mereka, karena ketika di kls III SMP, aku wali kelasnya. “Ya, murid pendiam yang bapak wali kelasi: Ariyantono.”

    Kami pun diajak berkeliling ke salah satu rumah contoh. Rumah seluas 500 m dibangun dalam 3 lantai. Ada garasi 2 mobil dan ruang tamu di bawah. Ada 4 kamar dan ruang keluarga dan di atasnya, lantai 3 terdapat kolam renang.

    “Sebagai terima kasih,  kami bermaksud ingin menghadiahi bapak dan ibu rumah ini. Mohon berkenan menerimanya dengan senang hati.”

    Entah apa yang ada dalam benak saya dan juga dua ibu guru –ketika menerima kunci tersebut. Mulut serasa terkunci. Tampak kedua ibu guru, temanku haru dan meneteskan air mata.

    ***

    Tumben lama, Pah? Bagaimana acaranya? Senang ya Pah ketemu murid-murid? Masih pada ingat ya Pah mereka alhamdulillah sama Papah,” berondong istriku bertubi-tubi. Entah kenapa, aku kok merasa nada pertanyaan istriku tampak sedang menyindirku.

    Pemahamanku akan kalimat tersebut jadi begini: ‘Ternyata, reunian enak tho?’

    Maka, tak ayal aku menggebrak meja.

    Yo wis, ngopi dulu ya Pah!”

    Ndak usah! Kemasi barang-barang! Kita pindah malam ini juga!”

    Mendengar ribut-ribut begini, putri sulungku keluar dari kamarnya. Sambil menatapku bingung, juga seolah mau ngomong: ‘Mau kemana sih,Pah?’.

    “Papah ini...“

    “Kemasi, kataku!”

    “Ada apa sih sebenarnya? Pulang reunian kok marah-marah.”

    “Kita semua pindah dari kontrakan ini!”

    “Paaah. Mau pindah ke mana? Wong bulan ini aja kita bakal nunggak lagi kok. Untung Nyak Edeh, baik sama kita. Coba, tuh kaya di RT sebelah, telat sehari aja udah disuruh hengkang.

    “Lihat, mah.”

    Apaan, pah?”

    “Mamah lihat kunci ini? Kamu lihat Nduk?” tanyaku kepada putri sulungku. “Aku dihadiahi oleh murid-murid sebuah rumah mewah. Mamah dan Genduk tahu? Itu lho yg dekat Taman Mini. Mamah dan genduk juga tahu? Kita tinggal masuk ke rumah itu. Di dalamnya, sudah tersedia lengkap mulai dari perkakas rumah tangga, mebelair sampai mobil.”

    Mamah dan putri sulungku cengo!*****

    ____________

    Catatan

    seneng = senang

    temen = teman

    cemen =  ejekan untuk orang yg bersifat kekanak-kanakan, lemah

    di-bully = diejek,dicemoohkan, perundungan

    ngadat = mogok

    tho, sih  = berfungsi menegaskan kata sebelumnya

    ndak = tidak

    ngomong  =  bicara

    Yo wis = ya sudah

    nunggak = menunda pembayaran

    tuh  = itu

    apaan = apa

    aja  = saja

    udah  = sudah

    hengkang = disuruh pergi

    cengo = terpesona,kagum, tak bisa berkata apa pun

     

     

     

     

     

     

       

     

     

     

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: masdiyanto

    Sabtu, 14 Mei 2022 16:30 WIB

    Rindu

    Dibaca : 309 kali

    Puisi : Rindu


    Oleh: masdiyanto

    Kamis, 12 Mei 2022 20:48 WIB

    Perempuanku

    Dibaca : 424 kali

    Puisi : Perempuanku





    Oleh: Harna Silwati

    Minggu, 1 Mei 2022 07:53 WIB

    Puisi : Hari Raya

    Dibaca : 745 kali

    Puisi : Hari Raya