Merawat Sugesti Positif, Singkirkan Komentar Negatif - Urban - www.indonesiana.id
x

Sumber gambar: Brilio

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Senin, 9 Mei 2022 06:15 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Merawat Sugesti Positif, Singkirkan Komentar Negatif

    Ketika rencana aksi sudah ditetapkan, jangan dengarkan lagi komentar masyarakat yang sebagian besar subyektif dan negatif. Teguhkan pendirian. Selektiflah pada omongan orang. Tolak bujukan, omongan dan tulisan yang tidak ada harganya.

    Dibaca : 527 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Les chiens aboient, la caravane passe.  Anjing menggonggong kafilah berlalu.  Demikian arti peri bahasa Prancis tersebut dalam bahasa Indonesia.  Apa kira kira maksudnya? Mari kita bahas.

    Peri bahasa tersebut menganjurkan kita agar teguh pada rencana aksi yang sudah kita susun dengan cermat.  Itu adalah anjuran agar kita tidak mau didikte oleh pendapat orang lain yang sebagian besar hanya komentar negatif.  Itu adalah anjuran agar kita menutup mata dan telinga pada komentar tidak berkualitas agar jangan sampai menjadi afirmasi negatif ke bawah sadar.  Tentu saja itu bukan anjuran untuk menutup diri kepada masukan yang berkualitas. Jadi bedakan antara keras kepala dengan teguh pendirian. Kalau keras kepala itu menolak semuanya termasuk masukan yang thoughtful sekalipun.  Merasa paling benar tentu rugi sendiri.

    Dalam wayang Jawa ada seorang tokoh bernama Cakil.  Dia seorang buto (raksasa) tapi bertubuh kecil.  Wajahnya merah dan sangar. Tingkahnya selalu usil.  Dia seorang lurah prajurit (komandan kalau sekarang) yang memimpin sebuah kesatuan para buto.  Cakil sering mengganggu Arjuno dan para satria.  Ketika Arjuno dalam perjalanan si Cakil sering mencegat dan menghalangi langkah Arjuno.  Tapi sejatinya kekuatannya tidak seberapa.  Dengan mudah Arjuno bisa menghajar Cakil dan anak buahnya. 

    Sejatinya Cakil adalah sanépan (metafora) dari orang usil yang kerjanya menjadi pengganggu.  Meskipun demikian kekuatannya kecil saja jadi tidak usah dikuatirkan. Dengan sikap mental yang benar seperti dianjurkan oleh peri bahasa tadi, gangguan orang usil mudah saja ditepis.

    Jangan takut dengan gambaran pesimis meskipun dari pakar yang memakai teori dan data dalam analisisnya.  Dulu ada teori dependency yang intinya mengatakan hampir tidak ada harapan buat negara berkembang karena tetap bergantung pada negara maju dan dieksploitasi.  Nyatanya sekarang negara Asia berkembang maju bahkan mengancam dominasi Barat.  Dulu orang Belanda mengatakan Indonesia tidak bisa merdeka. Nyatanya Indonesia merdeka dan terus tumbuh.  Dulu orang meragukan Vietnam bakal menang perang melawan AS, nyatanya tentara AS lari ketakutan terkencing kencing dari Vietnam.

    Kadang ada orang menganjurkan kita tidak usah kuliah S1 selepas SMA. Alih alih S1 dia anjurkan kita kuliah di program diploma saja atau bekerja saja.  Itu salah satu contoh komentar orang berpikiran picik yang tidak ada harganya.  Kita harus menutup telinga terhadap komentar negatif semacam itu.  Itu adalah sampah yang harus dibuang jauh.

    Adanya keterbatasan, kelemahan, ancaman, kendala, gangguan, beratnya persaingan dan tantangan yang akan dihadapi bukanlah alasan untuk menyerah. 

    Kita tidak cukup bersikap realistis saja, tapi harus juga bersikap hyper realistis.  Apa itu?  Hyper realistis adalah memperhitungkan faktor kekuasaan Allah dalam kalkulasi kita.

      Sikap teguh ini berlaku di semua bidang baik bisnis maupun pemerintahan.  Jangan dengarkan komentar orang bahwa produk anda kemahalan, kurang baik, tidak akan laku dsb.  Ingat bahwa sebagian besar komentar adalah subyektif dan dangkal. Jadi tidak ada harganya.

    Tetaplah miiki sugesti positif. Jangan dengarkan komentar negatif.

    Tetaplah optimistis.  Sikap optimis artinya berbaik sangka kepada Allah.  Yakin bahwa Allah akan memberi rejeki, pertolongan, perlindungan dll.

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.