Citra Laki-Laki dalam Tiga Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A. A. Navis - - www.indonesiana.id
x

Sumber: Dokumen pribadi

Elis Susilawati

Mahasiswi UIN Jakarta
Bergabung Sejak: 23 Desember 2021

Senin, 9 Mei 2022 18:50 WIB

  • Topik Utama
  • Citra Laki-Laki dalam Tiga Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A. A. Navis

    Artikel ini akan membahas citra laki-laki yang tampak pada tiga cerpen karya A. A. Navis, yaitu "Angin dari Gunung", "Menanti Kelahiran", dan "Penolong".

    Dibaca : 354 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Citra adalah kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah kata, frasa, atau kalimat, dan merupakan unsur dasar yang khas dalam karya prosa. Salah satu citra yang timbul dalam satu kesatuan cerita, yakni citra laki-laki. Citra tersebut memandang tokoh laki-laki dari berbagai posisi, antara lain, di ranah publik, biologis, dan domestik. Citra laki-laki dapat ditemukan dalam berbagai tokoh, baik utama maupun pelengkap.

    Sejarah Kumpulan Cerpen Robohnya Surau Kami

    Robohnya Surau Kami merupakan judul cerita pendek yang juga menjadi judul kumpulan cerpen karya A.A Navis. Cerpen Robohnya Surau Kami, pertama kali terbit dalam majalah Kisah di Jakarta pada tahun 1955. Cerpen ini kemudian terbit dalam buku kumpulan cerpen Navis pada tahun 1956 oleh Penerbit NV Nusantara. Pada tahun 1986 kumpulan cerpen ini diterbitkan kembali oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama hingga beberapa kali cetak ulang. Edisi kedua kumpulan cerpen ini diterbitkan oleh PT Gramedia, Jakarta pada tahun 1986. Terdapat sepuluh judul cerpen dalam buku kumpulan cerita pendek Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis, antara lain, "Robohnya Surau Kami", "Anak Kebanggaan, "Nasihat-Nasihat", "Topi Helm",  "Datangnya dan Perginya", "Pada Pembotakan Terakhir", "Angin dari Gunung", "Menanti Kelahiran", "Penolong", dan "Dari Masa ke Masa".

    Citra Laki-Laki dalam Cerpen Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, dan Penolong

    1. Citra laki-laki di ranah publik

    Gambaran citra laki-laki di ranah publik dapat ditemukan melalui tokoh pemimpin agung, Haris, Sidin, dan Anak Muda dalam cerpen Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, dan Penolong.

    a. Laki-Laki Pemberani

    Haris merupakan tokoh yang memiliki sifat pemberani dalam membangun cerita pendek Menanti Kelahiran. Sikap pemberaninya dibuktikan ketika dirinya dan Lena bertemu dengan sekumpulan anak-anak dan tukang-tukang becak yang sedang bersukacita. Haris tidak merasa takut dan jijik untuk menghampiri mereka, jika dibandingkan dengan Lena. Haris merasa ada suatu keganjalan yang perlu ia selesaikan. Dia melihat anak bisu yang tinggal di rumahnya sedang bergabung di antara mereka. Anak itu terlihat tidak bisu dan sedang meledek Lena. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.

    Dia mau pergi cepat-cepat. Ditariknya tangan Haris. Tapi Haris masih tertegak di situ. Kemudian ia melangkah mendekati kerumunan orang-orang yang bergembira itu. (halaman 110)

    Di ranah publik, tokoh Haris terlihat sangat membela istrinya, Leni yang sedang menjadi bahan tertawaan sekumpulan manusia. Ia menjadi tokoh laki-laki yang pemberani dalam bertindak dibandingkan sebelumnya. Pada mulanya, tokoh Haris disebutkan sebagai sosok laki-laki yang pendiam dan hanya berkutat dengan bacaannya saja. Akan tetapi, ia dapat berubah menjadi sosok yang pemberani ketika ada sesuatu yang tidak menyenangkan hatinya. Sikap Haris yang berani membela istrinya itu menyuarakan kewajiban laki-laki dalam melindungi istrinya, seperti firman Allah berikut ini.

    "Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. . . ." (An-Nisa:34)

    Sidin dan anak muda memiliki citra pemberani yang dibuktikan ketika keduanya menolong orang yang mengalami musibah, kecelakaan dalam cerpen Penolong. Mereka membantu orang tanpa memandang kekerabatan. Keduanya bekerja sama untuk mengevakuasi sekumpulan manusia yang terhimpit gerbong. Pada awalnya, Sidin tidak memiliki keberanian yang besar karena melihat banyaknya cucuran darah yang mengalir. Akan tetapi, keberaniannya itu berhasil menutup rasa takut. Walaupun pada akhirnya diketahui bahwa anak muda yang membantunya itu merupakan orang yang terkena gangguan jiwa. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.

    Berdua mereka mengangkati korban yang telah mati itu dan mengeluarkannya melalui jendela gerbong. Tapi tak ada yang menyambutnya. (halaman 124)

    b. Laki-laki pengatur

    Citra laki-laki pengatur tampak pada tokoh pemimpin agung yang tidak disebutkan namanya dalam cerpen Angin dari Gunung. Pemimpin agung merasa bahwa kedudukannya sebagai laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini disebabkan dengan adanya konstruksi gender yang bersifat patriarki, yakni menempatkan wanita sebagai sosok yang lemah dan harus patuh atas ucapan laki-laki. Hal itu terbukti pada kutipan berikut.

    “Kalau pemimpin agung datang di fron, di waktu tak ada pertempuran, aku menjadi sibuk. Aku diminta mengatur tempat tidur mereka, makan mereka.” (halaman 90)

     

    2. Citra laki-laki di ranah biologis

    Citra laki-laki di ranah biologis yang direpresentasikan melalui tokoh Haris, yaitu  menjadikan Lena sebagai objek seks. Haris tidak memandang Lena sebagai wanita yang rendah. Ia memperlakukan istrinya itu dengan baik. Ia juga bertanggung jawab terhadap sesuatu yang diperbuatnya. Hal tersebut dibuktikan dengan kutipan berikut.

    "Tak baik marah-marah, Len. Ingatlah akan anak kita yang dalam kandunganmu itu." (halaman 100)

    Kutipan di atas membuktikan bahwa Haris memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap Lena. Setelah menyalurkan hasrat biologisnya, Haris tidak ingin istrinya itu terbawa emosi karena hormon yang tidak stabil. Haris dan Lena melakukan tindakan tersebut dengan tidak adanya ikatan yang sah dalam agama. Meskipun mereka melakukan perkawinan dengan baik tanpa adanya paksaan, hal tersebut memandang perempuan hanya dijadikan sebagai alat pemuas hasrat laki-laki.

    Darman merupakan salah satu tokoh yang membangun satu kesatuan cerita dalam cerpen Menanti Kelahiran. Ia merupakan tokoh laki-laki yang berpura-pura bisu untuk diajak meminta-minta dan menipu. Darman tinggal di rumah Lena dan Haris. Selama tinggal di sana, Darman melakukan tindakan yang kurang baik karena mengintip Lena ketika mandi. Hal tersebut memandang bahwa sosok laki-laki hanya dapat menjadikan perempuan sebagai objek pemuas seksual. Berikut kutipannya.

    “Hampir setiap hari, kalau dia mandi, aku intip dari lubang itu. Aduuh, Mak, putihnya bukan main. Seperti singkong berkubak pahanya. Tapi perutnya, bukan main.” (halaman 109)

    Sidin merupakan tokoh laki-laki dalam cerpen Penolong. Ia merupakan sosok yang dapat menahan hasrat biologisnya serta memandang bahwa perbuatan tersebut kurang baik. Citra laki-laki dalam cerpen ini tidak terlalu mementingkan hasrat biologisnya. Hal tersebut terjadi karena zaman sudah maju dan banyak gerakan wanita yang menyerukan bahwa dirinya tidak boleh dengan semena-mena dibuat menjadi objek pemuas hasrat. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.

    Hampir seluruh perempuan yang telah mati, kainnya telah tiada. Hingga kakinya sampai ke pangkal paha terbuka. Sidin cepat-cepat memalingkan pandangannya. (halaman 120)

    3. Citra laki-laki di ranah domestik

    a. Laki-laki Penurut

    Citra laki-laki penurut melekat pada penokohan tokoh Haris dalam cerpen Menanti Kelahiran. Haris dianggap sebagai laki-laki penurut ketika dirinya melakukan tindakan atas ucapan yang disebutkan oleh istrinya. Setelah kawin, Haris hanya berdiam diri di rumah dan berkutat dengan isi koran. Lena menyinggung Haris yang tidak pernah lagi mengajak dirinya pergi. Akhirnya, Haris berani mengajak Lena untuk pergi. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.

    "Ayolah, Len. Kenapa kau diam saja? Tukarlah pakaianmu." (halaman 106)

    Dalam kutipan di atas, Haris digambarkan sebagai laki-laki yang tidak mementingkan gender sebagai peninggi kedudukan. Posisi laki-laki dan perempuan dianggap setara. Tidak ada perbedaan yang spesifik di antara keduanya. Laki-laki boleh saja mengikuti kemauan perempuan dan sebaliknya.

    b. Laki-laki Pengambil keputusan

    Tokoh Haris dalam cerpen Menanti Kelahiran sebagai pihak yang tidak dominan dalam menentukan pengambilan keputusan. Ia berpikir panjang terkait ajakan Lena untuk pergi keluar rumah. Haris memberikan kesempatan kepada istrinya untuk ikut berpikir. Sikap haris itu, termasuk bentuk penyetaraan perempuan dan laki-laki dalam ranah domestik.

    Berbeda dengan tokoh Haris yang tidak menunjukan dominasinya di ranah domestik, tokoh Har dalam cerpen Angin dari Gunung dibentuk sebagai pihak yang dominan dalam menentukan keputusan. Hal tersebut terbukti dengan sikapnya yang bertemu dengan masa lalu tanpa sepengetahuan istrinya. Ia pergi ke sana dan tenggelam dalam kenangan bersama wanita yang bernama Nun. Sikap Har tersebut, termasuk bentuk merendahkan perempuan dalam ranah domestik.

     

    Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa citra laki laki yang tampak dalam cerpen Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, dan Penolong, yaitu laki-laki pemberani dan pengatur dalam ranah publik. Di ranah biologis, tidak semua laki-laki digambarkan sebagai sosok yang menjadikan wanita sebagai alat pemuas hasrat. Selain itu, Citra laki-laki penurut dan pengambil keputusan terlihat pada ranah domestik.

    Objek Kajian

    Navis, A.A. Robohnya Surau Kami. Jakarta: PT Gramedia. 2010.

    Daftar Pustaka

    Ensiklopedia Sastra Indonesia Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Robohnya Surau Kami (1955) diakses pada 4 Mei 2022 pukul 17.27 WIB.

    Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V. Citra diakses pada 4 Mei 2022 pukul 17.35 WIB.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.