Mengatasi Kekhawatiran - Humaniora - www.indonesiana.id
x

illustr: Wellmark Blue Cross and Blue Shield

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Selasa, 10 Mei 2022 14:26 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Mengatasi Kekhawatiran

    Banyak orang menderita kekhawatiran tentang banyak hal. Ada yang khawatir dengan masalah keuangan. Ada yang khawatir dengan masalah keamanan. Ada yang khawatir dengan masa depan anak anak mereka dsb. Bagaimana mengatasi rasa khawatir tersebut? Silahkan baca terus.

    Dibaca : 442 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mengatasi Kekhawatiran

     

    Bambang Udoyono

     

    Mboya gadah manah ingkang kumarasan.  Apakah Anda paham kalimat tersebut?  Bahasa apa itu?  Apa artinya?  Demikian mungkin Anda bertanya.   Itu kalimat dalam bahasa Jawa.  Memang sudah tidak lazim kalimat itu.  Wajar saja kalau Anda kurang paham.

    Tidak punya hati yang kuatir.  Itulah arti kalimat tersebut.  Itu adalah bahasa Jawa jadul yang tidak biasa dipakai.  Sebagian besar orang Jawa sudah tidak memahami artinya.  Kalimat itu sering dipakai dalam pertunjukan wayang kulit.  Biasanya dalam adegan jejer atau sidang kabinet di kerajaan Ngestino (Hastinapura).  Ketika itu patih  Sengkuni bertemu Suyudono alias Duryudono sang raja Ngestino.  Setelah menyapa sang raja menanyakan kabar.  Sengkuni menjawab tidak ada kecemasan setelah bertemu dengan raja. Meskipun awalnya cemas setelah bertemu raja hilang kecemasan berkat perlindungan sang raja.  Jadi itu adalah kalimat pujian.

    Sengkuni baru menghadap raja saja sudah merasa ayom ayem (tenang hatinya).  Apalagi Muslim yang menghadap sang penguasa jagad raya.  Tidak ada yang perlu dicemaskan.   Kekuasaan tertinggi se jagad raya ada di tangan Allah swt.  Tidak ada selembar daun jatuh yang lolos dari pantauanNya.  Semua kejadian bisa terjadi hanya dengan ijinNya.  Bumi langit dan  semua mahluk (ciptaan) adalah milik sang khalik (pencipta).  Termasuk hidupmu bukanlah milikmu.

    Hidupmu adalah milik sang khalik (pencipta).  Maka terserah sang penciptalah jalan hidupmu.  Bahkan dalam teologi jabariyah manusia digambarkan seperti wayang kulit yang setiap detil gerakannya dikontrol oleh dalangnya.    Jadi manusia tinggal menjalani saja kehidupan ini.  Seperti wayang, ceritanya sudah ditulis, dalangnya yang memainkan. Siapa jodohmu, siapa anakmu.  Apa peranmu di dunia ini sudah ditentukan. 

    Meskipun demikian ada lagi perspektif yang memandang manusia tidak seperti boneka yang tidak punya kemerdekaan.  Manusia diberi kebebasan memilih.  Mereka bisa memilih ‘jalur kiri’ atau ‘jalur kanan’.   Tapi manusia tidak bebas dari konsekwensinya. Jalur kiri menuju ke tempat kembali yang buruk di alam akherat.  Sedangkan jalur kanan menuju ke tempat kembali yang penuh kenikmatan.  Jadi manusia diberi ganjaran atau hukuman atas pilihannya.

    Jadi jelas jika manusia melewati ‘jalur kanan’ hatinya akan tenang karena arahnya sudah jelas.  Dia juga akan mendapatkan perlindungan, petunjuk, bimbingan, rejeki dll.  Memang belum tentu dia menjadi milyuner atau petinggi, tapi hidupnya bahagia.  Jadi dia tidak akan kuatir. Hatinya akan tenang. Dia akan merasa ayom ayem.

    Kesadaran bahwa semuanya adalah milik sang khalik membuat hati tenteram.  Sesungguhnya tidak ada kerugian, apalagi kalau cuma kerugian yang belum nyata.     Misalnya ada sejumlah order yang lolos lantaran pandemi.  Sejatinya tidak ada kehilangan.  Hanya hati saja yang merasa getun (menyesali).  Tapi kalau menyadari bahwa semuanya milik sang khalik, maka hati akan kembali tenteram.

    Sesungguhnya kekuatiran itu asalnya dari individualisme dan bahkan egoisme. Orang merasa bahwa harta dunia dan kekuasaan adalah milik pribadinya. Maka dia tidak mau atau tidak rela jika hartanya berkurang, apalagi hilang.  Dia tidak rela melepaskan pangkat dan jabatan.

    Jadi cara mengatasi kekuatiran itu adalah dengan mengikis individualisme dan egoisme.  Bangkitkan kesadaran dalam hati bahwa dunia seisinya, termasuk kehidupan kita adalah milik Allah swt. Kita adalah hamba Allah yang dipinjami saja harta dan kekuasaan.

    Bagaimana cara menanamkan kesadaran itu? Ya dengan terus menerus setiap hari membaca sembari menghayati ayat ayat Al Qur’an. Di sana ditegaskan bahwa solatku, hidup matiku, adalah milik Allah SWT.

    Semua yang kita miliki sejatinya milik Allah. Manusia hanya meminjam. Dan semua orang yang meminjam harus bertanggungjawab. Dia harus menjaga dan memakai barang yang dipinjamnya sesuai dengan kehendak dan aturan sang pemilik. Bukan kemauan peminjam.

    Apabila kebiasaan itu dijalani dengan sepenuh hati insya Allah hati dan pikiran kita akan mampu mengambil jarak dengan harta dan kekuasaan duniawi.   Kita tetap memiliki tapi tidak dikuasai. Jadi kehidupan dunia ini juga tidak dilupakan.  Kita tetap kecukupan tapi tidak dikuasai oleh harta duniawi.

    Don’t worry, be happy.  Everything is gonna be alright



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.