Taufiq Ismail: 69 Tahun Berpuisi - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Taufiq Ismail. Wikipedia

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Kamis, 12 Mei 2022 15:07 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Taufiq Ismail: 69 Tahun Berpuisi

    Taufiq Ismail identik dengan puisi. Ini tidak berlebihan, jika menguntit perjalanan bersastranya: 69 tahun berkutat dengan ragam puisi yang monumental.

    Dibaca : 458 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    (Bagian 1)

    Taufiq Ismail identik dengan puisi. Ini tidak berlebihan, jika menguntit perjalanan bersastranya. Selama 69 tahun,ia istikamah di jalur puisi. 

    Pertama kali memublikasikan puisinya (berupa pantun teka-teki) pada 1953 dan dimuat Sinar Baroe, kala ia duduk di bangku SMA. Lalu berturut-turut memublikasikan puisi-puisinya melalui majalah Gelanggang, Siasat, Siasat Baru, Mimbar Indonesia, dan Kisah. Mulai dikenal luas sebagai penyair sejak ia menulis antologi puisi  “Tirani” (17 puisi) dan “Benteng”  (24 puisi) pada 1966.  Itu berarti 69 tahun sudah  hingga 2022 ini, kreativitasnya dalam bersastra merupakan pilihan hidup.

    Kedua antologi puisi tersebut ditulisnya di tengah-tengah pergolakan mahasiswa di tahun 1966. Berkat kedua antologi puisi tersebut, ”Pemerintah terharu betul dan birokrasi menangis ” akunya dalam Temu Sastra 82 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Namanya melambung dan menokoh sebagai sastrawan penting Angkatan 66.

     

    Pendidik        

    Kemenonjolannya di bidang puisi, membuat orang tidak mengenal perjalanan bersastranya secara utuh. Taufiq Ismail sebenarnya (juga) menulis novel, cerpen, drama, dan berbagai esai budaya. Khusus mengenai novel, ia pernah menulis novel eksperimen yang pertama dan terakhir – jauh sebelum ia menentukan pilihan pada puisi – ketika ia duduk di bangku kelas satu Sekolah Rakyat Indonesia, Bergota, di zaman pendudukan Jepang di Semarang. Novel eksperimen itu ditulis di kertas bergaris dan hanya satu halaman (!) Hingga kini nasib novel itu terbengkelai.

    Cerpen satu-satunya yang dipublikasikan berjudul ”Garong-garong” dan dimuat pada Majalah Horison  No. 3 Th. III, Jakarta, Maret 1968. Sedangkan cerpen keduanya berupa naskah ketikan dan belum dipublikasikan hingga kini, berjudul ”Kembali ke Salemba”.  Naskah drama satu-satunya berjudul ”Langit Hitam”, dimuat Majalah Horison, Agustus 1966. Sedangkan esai budayanya tersebar sejak 20 Juli 1963 dan dipublikasikan lewat Duta Masyarakat  dengan judul ”Pembinaan Teater Masa Kini”. Agaknya, tulisan tentang teater ini terkait dengan kiprahnya sebagai Ketua I Dewan Pengurus Pusat Badan Pembinan  Teater Nasional (1962 – 1964).

    Ketokohannya di bidang puisi menenggelamkan kiprahnya di bidang lain seperti pendidikan. Padahal, melacak jejak benak atau pemikiran Taufiq Ismail di bidang pendidikan merupakan hal yang menarik. Kiprahnya selama 69 tahun di bidang sastra menyiratkan misi pendidikan yang diemban Taufiq Ismail dengan sadar. Pemikiran tersebut diungkapkan melalui puisi dan esai.

    Puisi-puisinya sarat makna tentang pendidikan. Esai-esainya dalam menggagas pendidikan –terutama dalam pengajaran apresiasi sastera–  begitu mencerahkan.

    Kredo Sastra Taufiq Ismail            

    Puisi bertajuk ”Dengan Puisi,  Aku” ditulis  Taufiq Ismail pada tahun 1965. Puisi tersebut terdapat dalam antologi “Buku Tamu Museum Perjuangan.”  Visi kepenyairan Taufiq Ismail tercakup dalam puisi tersebut. Dengan Puisi yang kelak dinyanyikan kelompok musik Bimbo ini Taufiq Ismail ingin: //bernyanyi,… bercinta, … mengenang, … menangis,   …  mengutuk, dan … berdoa.//  

    Dalam sebuah wawancara dengan Redaktur sebuah Majalah SMA, tujuan atau misi bersasteranya tegas, yakni sujud kepada-Nya (lihat: Dua Puluh Sastrawan Bicara, 1984:122)!  Sedangkan melalui “Aku Ingin Menulis Puisi” yang ditulis pada 1970 dan terkumpul pada buku “Sajak Ladang Jagung” merupakan misi Taufiq Ismail dalam menulis puisi.

    Melalui puisi tersebut, ia berkeinginan menulis puisi bermacam-macam tema dan ditujukan ke berbagai kalangan. Mari disimak cuplikan bait (1), (2), dan (3) puisi tersebut!

    Aku ingin

    menulis puisi, yang tidak semata-mata berurusan dengan cuaca, warna, cahaya,

    suara, dan mega.

     

    Aku ingin

    menulis syair untuk kanak-kanak yang melompat-lompat di pekarangan sekolah,

    yang main gundu dan petak umpet di halaman rumah, yang menangis karena tidak

    naik  kelas tahun ini.

     

    Aku ingin

    menulis puisi yang membuat orang berumur 55 merasa 25 berumur 24 merasa 54 tahun,

    di mana pun mereka membacanya,bagaimana pun mereka membacanya: duduk atau berdiri.

    Dalam ”Kata Penutup, Akhir Kalam” antologi puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia” (1998: 198 – 205) Taufiq Ismail memaparkan proses kepenyairannya. Puisi-puisi yang ditulis memiliki pengaruh yang kuat akan seni pedalangan kala Taufiq Ismail bermukim di Yogyakarta dan seni Kaba ketika ia pindah ke Bukittinggi.

    Ritma suluk dalam Pedalangan begitu terngiang-ngiang senantiasa di telinganya, sangat dalam  mempesona. Begitu pula pengaruh Kaba yang menggelora. Ritma dan rima, aliterasi dan asonansi yang ditonjolkan Kaba sangat menghunjamkan pesona bagi Taufiq Ismail.   Demikianlah, melalui puisi-puisi yang ditulis, Taufiq Ismail ingin berkabar. ”Saya mau menyampaikan berita, mendalang dan berkisah lewat puisi saya, kepada pendengar dan pembaca saya.”

    Itu sebabnya, ketika Taufiq Ismail menuliskan buram pertama puisi, ia selalu membayangkan pendengar acara baca puisi yang akan berbagi nikmat menyimaknya. ”Puisi saya terbanyak ditulis dengan kesadaran akan hadirnya audiens” paparnya.

    Puisi yang ditulisnya ingin berkabar, maka wajar bila ia menolak anggapan bahwa puisi harus padat, harus sedikit kata-kata. Tauifq Ismail berargumen: ”Daripada puisi memenuhi syarat padat dan minimum kata tapi tak indah serta gagap berkomunikasi, saya memilih puisi banyak kata tapi cantik, menyentuh perasaan, laju menghilir dan komunikatif.

    Puisi saya wajib musikal. Kata-kata harus sedap didengar. Tentu saja kata-kata itu mengalami ketatnya seleksi. ”Dalam puisi-puisi yang ditulisnya, substansi berkabar selalu dijaganya.         

    Substansi puisinya adalah angan-angan, kenyataan, kepekaan, kekenyangan, kelaparan, nyeri, seri, cinta, keasyikan, penindasan, penyesalan, kecongkakan, kebebalan, tekad, ketidakpastian, kelahiran, maut, kefanaan, ke-Yang Gaiban—semua berbaur di balik lensa luar biasa lebar tempat kita bersama membaca panorama kehidupan masa kini dan sejarah masa lalu lewat sudut pandang berbeda.

    ”Puisi saya puisi berkabar. Sebagai narasi dia menyerap dering crek-crek, gesekan rebab, dan dengung salung di dalamnya sebagai musikalitas kata tersendiri, dengan sentuhan jenaka di sini-sana.”

    Taufiq Ismail telah menulis ratusan puisi sebagaimana terkumpul dalam antologi “Tirani” (17 puisi) “Benteng” (24 puisi), “Buku Tamu Museum Perjuangan” (19 puisi), “Puisi-puisi Sepi” (9 puisi), “Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin dan Langit” (sebuah puisi panjang), “Sajak Ladang Jagung” (37 puisi), “Manifestasi” kumpulan bersama: Armaya, Djamil Suherman, Goenawan Mohamad, Hartoyo Andangdjaya, Mohammad Diponegoro, M. Saribi Afn, dan M. Yoesmanan (Taufiq Ismail menyumbangkan 5 puisi) 16 sajak terjemahan, dan 9 puisi berbahasa Sunda.

    Hingga tahun 1984, Pamusuk Nasution mencatat 39 puisinya yang belum dikumpulkan, dan pada 1998 Taufiq Ismail kembali menerbitkan 100 puisinya bertajuk “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.”

     

    Mengingat hingga kini Taufiq Ismail masih kreatif dan produktif menulis puisi untuk berbagai kesempatan, berbagai tema, dan pada berbagai acara,  maka tidak menutup kemungkinan jutaan puisi (bakal) ditulisnya.

     

    (Bersambung)

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.