Silaturahmi Tanpa Batas untuk Ikatan yang Berkualitas - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Silaturahmi Tanpa Batas untuk momen saling memaafkan yang berkualitas\xd (dok. IG Heni Oktavia)

Achmad Humaidy

Seorang narablog yang menyalurkan hobi membaca dan menulisnya melalui INDONESIANA supaya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja. Kepoin blognya: https://www.blogger-eksis.my.id II IG @me_eksis II Twitter @me_idy
Bergabung Sejak: 23 Februari 2022

Kamis, 12 Mei 2022 20:50 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Silaturahmi Tanpa Batas untuk Ikatan yang Berkualitas

    Silaturahmi dengan siapa saja bisa membuka cara pandang kita terhadap mereka yang berada di sekitar. Hubungan persaudaraan akan makin erat saat komunikasi kian dekat. Momen lebaran jadi momentum saling memaafkan yang menyenangkan.

    Dibaca : 324 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

              Tibalah sudah pesta lebaran

              Hari raya Idul Fitri

              Jiwa yang baru, pakaian baru

              Cermin kebahagiaan

     

              Sanak saudara, handai, dan taulan

              Saling bersilaturahmi

              Peluk dan cium, tangis dan tawa

              Saling memaafkan . .  .

             

         Untaian kata di atas bukan pantun, melainkan lirik lagu religi yang berjudul “Lebaran”. Sebagai pendengar setia lagu dangdut dari Bang H. Rhoma Irama, penulis memutar lagu ini berulang kali untuk momen lebaran Idul Fitri 1443 Hijriyah. Ada momen silaturahmi tanpa batas yang tercermin dari lagu tersebut sehingga siapa saja yang memaknainya harus ikhlas menghapuskan kesalahan atau kekhilafan yang telah berlalu.

          Kembali dekat setelah lebaran memang jadi suatu keharusan. Selalu ada perubahan dalam aktivitas dan hubungan silaturahmi ke depan. Khususnya, terhadap orang-orang terdekat disekeliling kita.

         Hari demi hari yang lalu, aku sadar betul kadang mulut ini masih keceplosan untuk membicarakan kekurangan dari salah satu sepupuku. Semua berawal dari kesalahpahaman atau perbedaan persepsi saja. Hubungan keluarga yang pernah erat akhirnya punya sekat karena masing-masing dari kami menggerutu di belakang. Sepertinya sedih sekali saat menengok momen perselisihan saat itu. Apalagi momen tersebut jarang banget terjadi.

         Untungnya, momen lebaran bisa menjadi pengumpulan amunisi kata ‘maaf’. Dalam tiap salaman untuk saling memaafkan ada keberkahan didalamnya. Maka, sangat merugi bagi mereka yang melewatkan momen lebaran dan tak berhasil menyambung kembali tali silaturahmi yang telah putus.

         Setelah silaturahmi tanpa batas, aku dan sepupu biasanya menghabiskan waktu untuk aktivitas bersama. Pada momen lebaran kali ini, kami menjamin quality time yang lebih bermakna. Alasannya? Karena sempat ada keretakan hubungan diantara kami. Makanya, momen kumpul bareng sepupu selalu jadi hal menyenangkan yang aku tunggu.

         Namun, beberapa sepupu baik dari keluarga almarhum papa dan mama nyatanya masih ada yang berjarak. Bukan karena saling bermusuhan, tapi memang tempat tinggal kami yang berbeda. Aku di Jakarta, mereka ada yang di Bandung, Sukabumi, Lampung, Riau, dan Medan. Kalau sudah begini, momen silaturahmi tanpa batas secara virtual juga harus dilakukan. Bukankah zaman serba digital seharusnya membuat tak ada jarak diantara kita?

         Munculnya internet menyatukan Indonesia membuat silaturahmi punya bounding time yang tepat. Biasanya cuma saling berbalas pesan via chat saja. Kini, jaringan internet stabil memudahkan siapapun untuk sapa virtual melalui fitur video call. Kami pun tak lupa saling bertukar cerita supaya momen jadi seru. Ada yang saling mendoakan, ada yang berbagi kisahnya di sekolah, curhat tentang pekerjaan atau sharing ilmu parenting bagi yang sudah menikah. Namanya juga momen silaturahmi tanpa batas jadi bebas bahas apa saja dong. Salah satu tujuan silaturahmi pun membantu keluarga yang sedang merasa sulit atau butuh pendengar setia untuk sesi curhat.

         Setelah jam berputar untuk temu kangen virtual, mau tidak mau aku juga mengingatkan kepada sanak saudara lainnya. Keinginanku hanya satu agar silaturahmi yang sudah diikat kembali tak lagi putus. Kalau bisa, silaturahmi dilakukan tak harus menunggu lebaran tiba. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran surah An-Nahl ayat 90:

    Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

         Beberapa sabda Rasulullah juga identik dengan menekankan betapa penting silaturahmi. Malah hadis populer menyebut bahwa silaturahmi bisa membuka pintu rezeki dan memanjangkan umur para pelaku didalamnya. Terbukti sih soalnya aku dan sepupu juga biasa tukar informasi lowongan kerja saat acara kumpul keluarga. Sungguh! Nikmat mana lagi yang kamu rasakan setelah bersilaturahmi.

     

    Di hari raya, miskin dan kaya

    Semua sama gembira

    Zakat fitrah dan zakat harta

    Yang mempersatukan kita

     

    Pandai-pandailah mengambil hikmah

    Di hari raya yang mulia

    Tingkatkan iman, amal, dan takwa

    Serta perkuat ukhuwah

     

         Alunan lagu dari raja dangdut Indonesia masih diputar seiring aku menulis pengalaman lebaran tahun ini. Momen silaturahmi saat lebaran terbukti tak mengenal kasta. Mau dari golongan kelas ekonomi yang mana, kita harus saling membantu satu sama lain. Seperti kewajiban membayar zakat saat Ramadan yang juga menyimpan makna silaturahmi antar golongan. Ada bentuk relevan antara konsep hablum minallah dan hablum minannas yang mempersatukan kita, bak internet menyatukan Indonesia.

         Buat para pembaca yang masih selow atau anggap sepele terkait makna saling memaafkan, ada baiknya segera ubah mindset Anda. Selama kita masih dilumuri atau dibayangi dosa, percayalah selama itu pula kesehatan mental kita akan terganggu. Mesti deh, ada saja hambatan yang terjadi ke depannya. Walau kita semua tak pernah tahu kapan semua itu akan terjadi. Setidaknya, jangan ulur waktu lagi untuk menunda silaturahmi. Masa sih, harus menunggu tahun depan buat memaafkan kesalahan. Ujungnya, momen lebaran dengan hati bersih akan terlewatkan dengan percuma.

         Bukan soal momen lebaran yang konsepnya harus selalu dihubungkan dengan momen silaturahmi. Ada hubungan baik yang memang harus terjaga setiap hari. Efek kemajuan teknologi tentu tak ada lagi alasan untuk merekatkan silaturahmi. Semua bentuk silaturahmi bisa dilakukan dengan mudah, dari mana saja, dan kapanpun saat kita siap untuk saling memaafkan. Apalagi situasi pandemi yang sudah melanda tiga tahun belakangan ini membuat kita jaga jarak dan tak leluasa saat berjabat tangan.

          Alhamdulillah, jaringan internet dari IndiHome telah mendukung momen silaturahmi tanpa batas yang dilakukan aku dan keluarga pada tahun ini. Meski berbeda kota dan pernah ada sekat karena perselisihan dimasa lalu, kami bisa menjadi lebih dekat untuk momen lebaran kali ini. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang sering merajut tali silaturahmi menjadi makin asyik. Misal, dengan foto bareng atau sungkem virtual saat momen lebaran di dunia maya berlangsung.

         Berhubung momen lebaran sudah lewat dari 10 hari, sekarang buruan deh kita mengingat lagi kepada siapa kita pernah berbuat khilaf dan salah. Jangan sampai kendor tali silaturahmi yang sudah terikat. Bersyukurlah bila masih diberi kesempatan untuk saling memaafkan pada momen lebaran tahun ini. Bukankah kita tak pernah tahu, masih bertemukah kita dengan momen lebaran tahun depan?!

     

    Makan minumlah sepuas hati

    Namun jangan berlebihan

    Bergembiralah, berbahagialah

    Namun tetap dalam iman

     

    Bikin meriah, bikin gembira

    Di hari raya lebaran

    Kepada Allah panjatkan syukur

    Jangan buka pintu setan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.