21 Catatan untuk (Hari) Pendidikan Nasional  - Analisis - www.indonesiana.id
x

Wajah siswa-siswa SD Negeri 11 Rantau Selatan saat belajar sambil bermain

Kisaur Panjaitan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 16 Maret 2022

Jumat, 13 Mei 2022 15:32 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • 21 Catatan untuk (Hari) Pendidikan Nasional 

    Sudah terlalu lama kita memandang pohon pendidikan yang tumbuh di negara lain. Kita bermimpi bahwa dengan mengadopsi dan mengacu pada model-model pendidikan asing,  Indonesia dapat membangun sumber daya manusia dan mampu sejajar dengan negara yang ditiru tersebut.

    Dibaca : 389 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Ki Dr. Saur Panjaitan XIII, Sekretaris Jenderal Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa.

    Memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei sebagai penghormatan kepada sosok Bapak Pendidikan Nasional, yaitu Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang selanjutnya dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara. Aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia ini lahir dari keluarga keraton di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Jejak perjuangannya adalah mendirikan Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Berikut ini beberapa catatan terkait Hari Pendidikan Nasional yang tidak bisa dilepaskan dari pemikiran pahlawan nasional tersebut.. 

     

    1. Sudah terlalu lama kita memandang pohon pendidikan yang tumbuh di negara lain. Kita bermimpi bahwa dengan mengadopsi dan mengacu pada model-model pendidikan asing,  Indonesia dapat membangun sumber daya manusia dan mampu sejajar dengan negara yang ditiru tersebut.

    2. Tentu saja pohon pendidikan itu bisa kita tanam di Indonesia, namun hasilnya tidak bisa menyamai jika tanaman tersebut tumbuh di tanah, iklim, dan lingkungan negara aslinya. 

    3. Pendidikan itu seperti setiap pohon yang berbunga, kemudian buahnya melimpah. Ia tumbuh subur di habitat budayanya.

    4. Bangsa Indonesia hanya bisa sejajar dengan bangsa-bangsa maju jika pendidikannya berlandaskan budaya, filosofi, dan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tentu saja yang perlu kita lakukan bukannya menggantikan mangga, durian, rambutan, salak, dan duku sebagai tanaman khas Indonesia dengan tanaman pir, apel, serta anggur. Tapi yang seharusnya dilakukan adalah menyandingkan tanaman bangga dan sejenisnya itu dengan pir, apel, serta anggur.

    5. Di tengah serbuan budaya asing berbungkus globalisasi, semakin diperlukan usaha serius untuk membenahi pendidikan Indonesia berlandaskan iklim, lingkungan, dan kebutuhan nasional bangsa Indonesia demi kelanjutan eksistensi NKRI. Kita tidak antiasing. Kita terbuka dengan tetap mempertahankan habitat kebudayaan Indonesia. 

    6. Semangat Hari Pendidikan Nasional, perlu menghidupkan Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara  tentang pendidikan sebagai proses pembudayaan agar anak-anak Indonesia tetap berpijak kokoh pada budaya bangsanya, budaya Pancasila. 

    7. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara  sangat visioner, menembus abad, dan milennium. Sebelum Indonesia merdeka, dasar-dasar pendidikan sebagai proses pembangunan manusia, proses pembudayaan Pancasila telah diletakkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Salah satunya  melalui Tri-kon, yaitu untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia, harus kontinyu, artinya terus menerus dan berkesinambungan. Di sisi lain kebudayaan juga konvergen, yaitu dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman dan konsentris di mana pengembangan harus tetap berdasarkan kepribadian Indonesia. Masih banyak pemikiran lainnya yang sangat relevan apabila dilaksanakan. Khususnya tentang kepemimpinan, yaitu yang dikenal dengan sewmboyan  “Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, dan Tutwuri handayani” (Di depan memberi contoh, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang memberi dorongan) . 

    8. Bagi Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah mendorong munculnya daya cipta atau kreativitas dengan cara  mengasah rasa untuk membedakan yang baik dari yang buruk, mempertajam nalar untuk membedakan yang benar dari yang salah, dan menuntun karsa untuk membedakan yang bagus dari yang jelek. 

    9. Yang pertama diperoleh melalui pembelajaran etika. Yang kedua, logika, dan yang ketiga estetika dengan cara mengembangkan kecerdasan emosional, meningkatkan kecerdasan intelektual, dan menumbuhkan kecerdasan sosial. Irisan ketiganya, menjadi persemaian kecerdasan spiritual. Dari kecerdasan yang ingin dituai inilah diturunkan mata pelajaran-mata pelajaran sebagai hard skills.     

    10. Polemik tentang kurikulum, asesmen nasional, kompetensi guru dan lain-lain adalah masalah ke hilirnya. Hulunya yang perlu dicermati. Mari kita kembali ke Pembukaan UUD 1945, alinea 3 dan 4.

    11. "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." 

    "Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: 

    Ketuhanan Yang Maha Esa, 

    kemanusiaan yang adil dan beradab, 

    persatuan Indonesia, dan 

    kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan 

    mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." 

     

    1. Berkaitan dengan pendidikan manusia Indonesia: Dua ungkapan yang perlu kita cermati adalah 1. Berkehidupan kebangsaan yang bebas dan  2. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Inilah landasan kokoh pendidikan Indonesia.

    2. Yang pertama, menyangkut kedaulatan dan martabat bangsa, yang secara jelas disebut dalam Konsep Trisakti Presiden Soekarno, 1963: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, berkepribadian secara sosial budaya. Kedua, menyangkut konsep pendidikan itu sendiri, “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, bukan “Mencerdaskan Bangsa” 

    3. Dalam hal Ajar, Ki Hadjar Dewantara   sangat tegas, “ …pengajaran harus bersifat kebangsaan… . Kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tak mungkin mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama terpisah dari bangsanya, kemudian barangkali menjadi lawan kita… . (1928)” Mari kita renungkan, apa yang terjadi sekarang? Di mana anak-anak kita dewasa ini?

    4. Adaptasi tentu diperlukan mengingat kita berada di dunia global dan konektivitas menjadi suatu keharusan. Namun demikian, kita secara tegas perlu meletakkan Pancasila sebagai dasar filosofi pendidikan untuk mencapai suatu tatanan kehidupan yang cerdas, baik secara secara politik-ekonomi maupun sosial-budaya. Pancasila bukan untuk dihafalkan, sebagaimana yang kita lakukan dan banggakan selama ini. 

    5. Dalam Taksonomi Bloom, menghafal itu, C1, tataran berpikir paling rendah. Kita perlu beranjak ke C2 dan C3, yakni memahami dan menerapkan Pancasila dalam kehidupan. Naik ke tataran berpikir tingkat tinggi, C4 menganalisis, C5 mengevaluasi, dan akhirnya C6 menciptakan tatanan kehidupan Pancasila, menghasilkan Pelajar Pancasila.

    6. Kita pasti bisa mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi melalui diklat dengan narasumber ahli bangsa sendiri, yang di dalam dirinya mengalir darah merah-putih.

    7. Mengambil momentum Hardiknas 2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memiliki  kesempatan untuk menghidupkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara   dan membumikan Pancasila di sekolah. Tujuannya menghasilkan pemimpin-pemimpin Indonesia berbudi luhur, berbudaya tinggi, dan bermasyarakat gotong royong pada 2025 – 2045, di puncak transisi demografi, sebagai bonus, bukan bencana. 

    8. Pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjawab pertanyaan, “Mau dibawa ke mana Pendidikan Indonesia?” dengan kata lain, “Manusia macam apa yang ingin dihasilkan Pendidikan Indonesia demi kelangsungan eksitensi bangsa dan negara Indonesia?” 

    9. Ki Hadjar Dewantara merajutnya, “Manusia yang merdeka pikirannya, bahagia jiwanya, sehat sejahtera hidupnya.” Itulah perwujudan visi kemerdekaan, “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. 

    10. Pertanyaannya berikutnya, guru-guru macam apa yang bisa membelajarkan anak untuk mencapai tujuan tersebut?  Ki Hadjar Dewantara juga sudah punya jawabannya, Guru-Pemimpin. Bagi Ki Hadjar Dewantara, Guru adalah pemimpin. Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa dan tutwuri handayani. 



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.