Orang Miskin Adalah Orang yang Rakus, Bukan Orang Kurang Harta - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Sabtu, 14 Mei 2022 16:47 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Orang Miskin Adalah Orang yang Rakus, Bukan Orang Kurang Harta

    Kebanyakan orang memiliki opini bahwa orang miskin adalah orang yang kekurangan harta. Ternyata Seneca berpandangan lain. Orang miskin adalah orang yang rakus, katanya. Bagaimana keterangannya? Silahkan baca terus artikel ini.

    Dibaca : 380 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Orang Miskin Adalah Orang yang Rakus, Bukan Orang Kurang Harta

     

    Bambang Udoyono

     

    Setelah membahas banyak kearifan lokal, sekarang mari kita bahas lagi kearifan dari manca negara agar luas wawasan kita.  Kali ini kita bahas kalimat mutiara dari Seneca, seorang filsuf Romawi kuno yang hidup antara tahun 4  – 65 AD.

     It is not the man who has too little, but the man who craves for more, that is poor (Seneca).  Orang miskin bukanlah orang yang memiliki terlalu sedikit, tapi orang yang rakus. Itulah terjemahan bebas dari kalimat mutiara Seneca tersebut.  Sepintas agak aneh tapi kalau kita cermati tidak aneh.  Orang rakus itu merasa miliknya masih kurang.  Meskipun dia sudah memiliki rumah empat, mobil tiga bahkan lebih dari itu tapi kalau dia masih ingin lagi dan lagi maka sejatinya dia miskin.  Dia merasa tidak cukup. 

    Apapun yang dipikirkan tentang dirinya adalah benar, kata Henry Ford. Maka kalau seseorang merasa kecukupan dia benar.  Sebaliknya kalau dia merasa masih kekurangan, dia juga benar.

    Bagaimana pandangan muslim tentang kaya miskin ini?

    Ada sebuah Hadist dari Abu Hurairah RA, Nabi saw bersabda ,”Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia, tapi kekayaan yang hakiki itu adalah kaya akan jiwa” (HR Al Bukhari - Muslim)

    Jadi mungkin saja dia memiliki banyak harta dibandingkan masyarakat sekitarnya. Tapi dia pelit. Dia merasa ingin menggusur milik orang lain atas nama pembangunan misalnya.  Sedangkan sejatinya dia ingin memiliki harta sebanyak banyaknya. Kalau isi hatinya sudah seperti itu maka dua gunung emaspun tidak akan memuaskannya. Dia masih ingin memiliki lebih banyak lagi.  Ibarat meminum air laut. Semakin banyak yang diteguk bakal semangkin haus.  Hakekatnya dia semangkin miskin.

    Silahkan mengevaluasi pandangan Anda selama ini.  Apakah Anda berpandangan bahwa orang kaya adalah orang yang memiliki harta banyak?  Apakah Anda ingin memiliki harta sebanyak banyaknya?  Atau apakah Anda selalu ingin menolong orang lain  tanpa menunggu kaya dulu?

    Idealnya memang kita menjadi orang tajir melintir dan sekalgus dermawan.  Kalau kita kaya raya maka kita akan mampu membantu banyak orang karena kita bisa membaya zakat, infak dan sedekah dalam jumlah besar.

    Kita akan bisa memberi pancing dan ikan sekaligus.  Kita mampu membangun sekolah atau menyumbang sekolah dan berbagai lembaga pendidikan. Kita juga mampu menyumbang atau membangun lembaga kesehatan masyarakat. Kita mampu membangun atau menyumbang lembaga amal yang bergerak di berbagai bidang.

    Kita juga mampu memberi makan dan minum gratis untuk kaum dhuafa dan anak yatim yang membutuhkan bantuan.  Kita bisa melunaskan hutang orang yang kepepet. Kita bisa membiayai perawatan kesehatan kaum dhuafa yang membutuhkan pertolongan dll.

    Silahkan berihtiar di bidang masing masing.  Semoga kita menjadi orang kaya lahir batin, kaya banyak harta dan banyak amal.

     

      

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.