Mempertegas Gerakan Literasi dalam Kurikulum Merdeka - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Siswa SD Pelita Mutiara Parulian Medan membaca buku 15 menit sebelum memulai pelajaran. Sejak 2016, Sekolah Parulian telah mendeklarasikam institusinya sebagai sekolah literasi.

Dzakwan Ariqah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Februari 2022

Sabtu, 14 Mei 2022 16:43 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Mempertegas Gerakan Literasi dalam Kurikulum Merdeka

    Sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam pada generasi muda mempengaruhi tingkat keberhasilan dalam jenjang pendidikan maupun dalam berbermasyarakat. Tradisi membaca dan menulis harus terus dikembangkan.

    Dibaca : 432 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Perkembangan dunia tekonologi informasi dan komunikasi diera globalisasi ini begitu pesat. Perkembangannya yang begitu cepat bagaikan pisau bermata dua yang memiliki dampak positif dan negatif. Bila kita tinjau dari dampak negatif yang ditimbukan, perkembangan yang membawa sejuta perubahan juga membuat khawatir kita sebagai bangsa Indonesia. Kekhawatiran itu antara lain adalah pengaruh globalisasi terhadap minat baca di Indonesia. 

    Contoh sederhana yang penulis rasakan saat ini adalah kurangnya minat dan perhatian peserta didik terhadap budaya membaca. Realita yang terjadi dan tidak bisa di mungkiri di sekolah adalah ketika jam istirahat, perpustakaan sekolah lebih sepi dibandingkan halaman sekolah. Pengunjung perpustakaan bisa dihitung dengan jari. 

    Selain itu, berdasarkan sebuah studi Most Littered Nation In The World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, Indonesia berada diperingkat ke 60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Fenomena dan data tersebut merupakan hal yang menyedihkan dan bisa menjadi cermin terhadap minat membaca di Indonesia.

    Generasi saat ini memiliki alasan mengapa buku bukan menjadi satu-satunya bahan bacaan. Remaja berasumsi bahwa ilmu pengetahuan bisa didapat dan diakses dengan mudah lewat telepon genggam mereka. Asumsi tersebut tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Memang, zaman digital ini membuat aktivitas yang kita lakukan tidak bisa terlepas dari gawai. Namun, sangat disayangkan jika sebagian dari pengguna gawai di Indonesia belum mampu memanfaatkannya secara bijak sehingga banyak orang yang sibuk dengan media sosialnya dan terbuai dengan berbagai macam aktivitas di dunia maya sehingga merenggut mereka dari waktu terbaik yang seharusnya mampu dioptimalkan untuk membaca.

    Dalam hal sadar literasi guna meningkatkan sistem pendidikan dan mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas, salah satu upaya yang dilakukan pemerinth adalah menggalakkan budaya literasi (membaca dan menulis). Pemerintah melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 telah menyadari pentingnya penumbuhan karakter peserta didik melalui kebijakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

    Gerakan literasi tersebut bertujuan untuk mewujudkan peserta didik yang unggul melalui budaya literasi (membaca dan menulis). Bahkan saat ini penerapan gerakan literasi tersebut akan kembali dipertegas melalui kurikulum merdeka 2022. Penerapan itu kini tak sebatas kegiatan membaca saja namun juga menulis sebagaimana yang kita ketahui bersama dalam kurikulum 2022 peserta didik yang duduk dibangku sekolah menegah atas harus melewati tahap menulis artikel ilmiah sebagai salah satu syarat kelulusan. 

    Kebijakan diatas merupakan hal positif dan merupakan awal yang baik dalam upaya menumbuhkan gerakan literasi di negara ini. Namun, kegiatan membaca dan menulis tersebut hendaknya tidak terbatas pada ruang dan waktu. Karena hal yang terjadi di lapangan adalah kegiatan membaca dan menulis tersebut hanya berhenti pada kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran. Dengan kata lain banyak peserta didik yang masih menganggap bahwa kegiatan membaca dan menulis merupakan suatu kewajiban didalam kelas semata tanpa menjadikan membaca dan menulis sebgai suatu kebutuhan. Paradigma tersebut harus diubah. Membaca seharusnya tidak lagi dianggap sebagai kewajiban melainkan kebutuhan. Dengan memberinya ruang-waktu yang memadai, yang kalau tidak diadakan akan mengakibatkan minim pengetahuan.  

    Keterampilan membaca pada hakikatnya merupakan suatu kebutuhan utama di era globalisasi ini khususnya generasi muda. Kemampuan membaca yang baik akan memudahkan seseorang dalam memahami berbagai konsep. Selain itu, kemampuan membaca yang baik juga akan mengembangkan kemampuan berpikir seseorang sehingga membuat seseorang tersebut mudah dalam berpikir kritis. Memahami konsep dan pemikiran kritis adalah dua kualitas penting dari seorang individu yang sukses. Selain itu, membaca juga meningkatkan kosa kata seseorang, perintah pada bahasa, dan kemampuan komunikasi.

    Selain membaca, kemampuan menulis dalam dunia literasi juga sangat penting. Membaca dan menulis adaalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bagi mereka yang tidak membudayakan gerakan membaca maka akan sulit untuk menulis karena dua unsur ini merupakan unsur pokok literasi yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Begitupula sebaliknya sesorang yang gemar membaca maka akan memudahkan bagi mereka dalam proses menulis. 

    Menulis dapat mengasah kepribadian dan kemampuan berpikir kritis. Keterampilan menulis merupakan kemampuan seseorang dalam menuangkan ide/gagasan dalam rangkaian aksara. Perlu dipahami bahwa pada hakikatnya menulis bukanlah soal bakat dan kemampuan. Tapi menulis adalah soal tekad dan kemauan. Siapa saja bisa menjadi penulis selama mereka memiliki kemauan dan berusaha membiasakan diri untuk menulis. Penulis pernah mendapat nasihat berharga dari salah satu guru penulis. Beliau mengatakan “Menulis itu bisa karena biasa”. Intinya, keterampilan menulis hanya akan mampu diwujudkan jika seseorang memiliki kebiasaan menulis. Siapa yang tidak membiasakan menulis maka ia tidak akan mampu menjadi penulis yang baik.

    Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sebagian besar proses pendidikan bergantung pada kemampuan dan kesadaran literasi. Budaya literasi yang tertanam dalam diri generasi muda mempengaruhi tingkat keberhasilan baik di jenjang pendidikan maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, tradisi membaca dan menulis harus terus dikembangkan mengingat bahwa melalui membaca, maka kemajuan pendidikan akan lebih pesat.

    Kemudian melalui kegiatan menulis, ide, gagasan, serta ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Kebiasaan membaca dan menulis harus terus ditumbuhkan di sekolah-sekolah sebagai iklim pendidikan di Indonesia. Dalam membentuk gerakan membaca dan menulis harus ada sinergitas antara guru dan peserta didik. Guru harus mampu menjadi role model dan penggerak literasi bagi pesera didik khususnya disekolah. Guru juga harus terbiasa dalam menulis dan menjadi insipirasi bagi peserta didik melalui karya-karya nyata. Dengan demikian, gerakan literasi mampu menjadi wadah untuk mewujudkan pendidikan yang maju dan sumber daya manusia yang berkualitas. Salam literasi.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.