Adian Napitupulu Tanggapi Fahri Hamzah: Saya Tak Pernah Usil Mengkritik Saat Dia Jadi Anggota DPR - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Adian Napitupulu dan Fahri Hamzah.

Aisyah Hetra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Januari 2021

Sabtu, 14 Mei 2022 12:29 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Adian Napitupulu Tanggapi Fahri Hamzah: Saya Tak Pernah Usil Mengkritik Saat Dia Jadi Anggota DPR

    Nama Adian Napitupulu mendadak trending di media sosial Twitter. Adian merespon pernyataan Fahri yang seolah-seolah mempertanyakan komitmen perjuangan serta komitmen kerakyatan dirinya dan Budiman setelah 24 tahun reformasi lewat sebuah surat terbuka.

    Dibaca : 777 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nama Adian Napitupulu mendadak trending pada Jumat (13/5) di media sosial Twitter. Bukan tanpa alasan anggota DPR RI fraksi PDIP itut rending. Itu terjadi setelah dia memberikan reaksi atas tweet politikus Partai Gelora, Fahri Hamzah. Reaksi itu berupa surat terbuka yang diunggah di akun Twitter @Paltiwest.

    Awalnya, Fahri Hamzah merespon sebuah tweet yang menampilkan foto Adian Napitupulu dan Budiman Sudjatmiko. Lebih lanjut fahri juga menambahkan pesan untuk kepada generasinya, yang secara tidak langsung juga generasi Adian.

    Pesan tersebut terangkum dalam 6 poin yakni diantaranya: jangan biarkan kebebasan terancam, jangan biarkan rakyat sakit dan menderita, jangan biarkan penguasa menganiaya, jangan biarkan pengusaha mengatur Negara, jangan jadi corong penguasa dan bantu serta lindungi mahasiswa dan oposisi.

    Maksud Adian merespon pernyataan Fahri adalah dirinya ingin mengetahui kepada siapa pesan Fahri tersebut ditujukan. Apakah untuk semua generasi atau hanya kepada dia dan Budiman? Karena foto dalam tweet Fahri itu menunjukkan dirinya dengan Budiman dan bukan foto orang banyak. 

    Adian merasa Fahri seolah-seolah mempertanyakan komitmen perjuangan serta komitmen kerakyatan dirinya dan Budiman setelah 24 tahun reformasi.

    Dalam surat terbuka Adian bercerita perbedaan perjalanan hidupnya dengan Fahri Hamzah. Di tahun 1999, setahun setelah kejadian ‘98, Fahri sudah menjadi staf ahli di MPR hingga 2004 resmi dilantik menjadi anggota DPR.  

    Sedangkan Adian kala itu masih dipukuli dan ditangkap bahkan hingga 2008 ketika kantor pengacaranya di segel polisi. Di tahun 2010 pun Adian masih mendapatkan perlakuan kekerasan dari polisi.

    Lebih lanjut, Adian mengungkapkan pula kekecewaan kepada Fahri. Terutama saat tahun 2007, anggota DPR RI memutuskan untuk tak melanjutkan penyidikan terhadap kasus Trisakti dan Semanggi. Padahal Fahri yang merupakan anggota DPR mengaku sebagai aktivitas ‘98.

    "Fahri, kita beda pilihan, beda jalan dan yang saya pilih adalah jalan yang sulit, menyakitkan dan tidak menyenangkan, walau demikian, toh, saya tidak pernah usil mengkritik dan mempertanyakan pilihan politik masing masing orang, termasuk mengkritik Fahri saat itu sedang menikmati kursinya sebagai anggota DPR RI," tulis Adian.

    Dan di tahun 2014, saat Adian pun juga terpilih menjadi anggota DPR, meski Fahri sudah terpilih untuk ketiga kalinya, kekecewaan pun kembali Adian rasakan. Kala menuju pemilihan pimpinan DPR, Fahri dan sebagian anggota mengubah UU MD 3 agar partai pendukung capres yang kalah bisa menguasai seluruh pimpinan DPR. Hal inilah yang kemudian mengantarkan Fahri menjadi salah satu pimpinannya. Adian menganggap cara ini tidaklah sportif. 

    "Sekali lagi saya kecewa, bagaimana mungkin Fahri yang mengaku aktivis 98 bisa menggunakan cara-cara yang bagi saya tidak mencerminkan cara berdemokrasi yang sehat, dewasa dan sportif?" ujar Adian.

    Perbuatan mengecewakan terus silih berganti datang dari Fahri. Sempat mengatakan bahwa anggota DPR rada bloon, Adian heran mengapa Fahri mencela proses demokrasi yang sudah memberikannya kesempatan menjabat tiga periode. Atau saat ratusan pekerja taman dan kebersihan DPR gajinya tidak dibayar sebelum Idulfitri 2017, yang mana saat itu Fahri masih merupakan salah satu pimpinan.

    Adian pun juga mempertanyakan di mana keberadan Fahri saat dirinya melewati banyak hal demi perjuangan membela hak rakyat. Dari mulai memperjuangkan hak masyarakat Pongkor agar bisa ikut sejahtera dari tambang emas milik Antam atau ketika dirinya berjuang bersama masyarakat Konawe Utara memperjuangkan 400 ha lahan milik Antam agar bisa dikelola Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe Utara. Jerih payah Adian bersama masyarakat berhasil memenangkan persoalan tersebut meski tanpa Fahri di dalamnya. 

    Adian juga mempertanyakan apakah Fahri pernah menjenguk para aktivis dan mahasiswa saat mereka ditahan di Polda pada Oktober 2020 karena demonstrasi UU Cipta Kerja? Dan untuk kejadian ‘98, ketika dirinya dan beberapa alumni Trisakti mencoba meyakinkan banyak orang untuk mau membantu memberikan bantuan rumah dan modal kerja kepada 4 keluarga korban ‘98, Fahri tidak ikut membantu.

    "Kenapa justeru yang menyiapkan 4 rumah untuk keluarga Korban penembakan Trisakti bukan Fahri yang konon aktivis 98 tapi Erick Thohir yang mungkin tidak ada di jalan tahun 98.

    Kenapa yang membantu modal kerja senilai Rp 750 juta per keluarga bukan Fahri tapi Agus Gumiwang yang mungkin juga tidak berjuang bersama mahasiswa Trisakti yang ditembak mati 24 tahun lalu?" tanya Adian.

    Fahri pun juga tidak ikut saat Adian dan aktivis ‘98 ke Lembaga Pemasyarakatan Sulawesi Tengah dan juga meyakinkan Presiden Jokowi untuk membebaskan Eva Susanti Bande yang divonis 4 tahun penjara karena memperjuangkan para petani sawit di Sulteng. Fahri tak ada saat aktivis ‘98 bolak-balik meyakinkan Jokowi agar menggunakan kewenangan untuk membebaskan tahanan politik di Papua.

    Di akhir surat terbuka, Adian kembali mengingatkan Fahri untuk tidak menghakimi dan mempertanyakan pilihan perjuangan, terutama untuk orang-orang yang memperjuangkan negara di tahun ‘98 lalu.

    "Saya hanya ingin mengingatkan Fahri bahwa ada waktu dimana kita bicara tapi ada juga banyak waktu dimana bekerja tanpa suara. Karena seringkali satu perbuatan lebih berarti dari sejuta ucapan," tanda Sekjen Pena 98 itu.

    Ikuti tulisan menarik Aisyah Hetra lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.