Perkembangan Karakteristik Sastra Angkatan 2000 di Indonesia - Analisis - www.indonesiana.id
x

Rahmada Yani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Mei 2022

Minggu, 15 Mei 2022 08:31 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Perkembangan Karakteristik Sastra Angkatan 2000 di Indonesia

    Ide munculnya sastra angkatan 2000 karena Korrie Layun Rampan yang memberikan idenya untuk memunculkan sastra angkatan 2000. Ide tersebut muncul setelah ketidak berhasilanya wacana tentang lahirnya sastra angkatan reformasi akibat tidak memiliki juru bicara.

    Dibaca : 1.005 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Semakin berjalannya waktu maka akan terjadi yang namanya perubahan. Perubahan terjadi karena terdapatnya perkembangan dari waktu ke waktu. Perkembangan tersebut dapat berupa cara berfikir orang, teknologi bahkan sampai perkembangan sastra di Indonesia. Perkembangan sastra di Indonesia cukup beragam dimana sastra sudah ada sejak sebelum abad ke-20. Karakteristik sastra beragam seperti pada sastra angkatan ’45 memiliki karakteristik mengutamakan isi dalam pencapaian tujuan yang nyata dan revolusioner dalam bentuk dan isi sedangkan pada angkatan 80-an sastra tersebut memiliki bahasa yang cenderung Bahasanya realistis dan romantic dan isinya yang condong membahas tentang hak asasi manusia.

          Pada era saat itu sastra sudah berkembang dengan pesat. Salah satu sastra yang mengalami perubahan yang pesat adalah sastra angkatan 2000. Bahasa yang digunakan pada sastra 2000 sudah menyesuaikan bahasa yang biasa kita gunakan sehari – hari. Pada sastra angkatan 2000 sudah mulai bermunculan pengarang – pengarang wanita dimana mereka sudah mulai berani memberikan ide kreatif dan pendapatnya di dalam sastra. Sastra yang dikarang oleh penulis wanita didominasi oleh ungkapan perasaan dan pikiran mereka yang tajam dan bebas sehingga dapat menjadi warna baru bagi sastra angkatan 2000. Namun, sayangnya munculnya perubahan yang pesat pada sastra angkatan 2000 menyebabkan mulai bermunculan sastra yang menampilkan nuansa erotic dan unsur – unsur seksual.

          Sudah banyak karya – karya sastra yang diterbitkan di angkatan 2000 yang mengandung unsur seksual dan vulgar. Novel karya Ayu Utami yang berjudul Saman merupakan salah satu novel dari banyaknya novel di Indonesia yang mengandung unsur seksual. Hal tersebut dapat terjadi karena gaya dari kepenulisan Ayu Utami yang cenderung terbuka dan bahkan bisa dikatakan vulgar menjadi ciri khas dari penulis tersebut. Namun, tidak semua novel – novel angkatan 2000 mengandung unsur seksual dimana masih banyak novel angkatan 2000 yang bernuansa religius. Salah satu contoh dari novel angkatan 2000 yang mengusung tema religius adalah novel berjudul Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi.

          Ide munculnya sastra angkatan 2000 karena Korrie Layun Rampan yang memberikan idenya untuk memunculkan sastra angkatan 2000. Ide tersebut muncul setelah ketidak berhasilanya wacana tentang lahirnya sastra angkatan reformasi akibat tidak memiliki juru bicara. Sebuah buku yang diterbitkan oleh Gramedia Jakarta memasukan lebih dari seratus penyair, novelis, esais, cerpennis dan kritikus sastra ke dalam buku tersebut.

          Perjalanan sastra angkatan 2000 di Indonesia memasuki era reformasi. Karya – karya pada angkatan tersebut mengalami perubahan yang pesat lantaran terjadinya perubahan yang terjadi pada pemerintahan Indonesia pada masa tersebut. Pada masa tersebut pemerintahan Indonesia membebaskan masyarakatnya untuk berkarya yang menyebabkan kehidupan sastra Indonesia pada angkatan 2000 seperti berada dalam pentas terbuka dimana seolah – olah para sastrawan boleh berbuan dan melakukan apa saja pada masa tersebut. Pada masa tersebut cerpen di Indonesia pada awal – awal masa reformasi mengalami pembludakan dibandingkan dengan puisi, novel dan drama. Hal tersebut dapat terjadi karena terjadinya perubahan dari cara berfikir masyarakat dalam memandang pekerjaan seorang pembuat cerpen.

    Pada masa tersebut seseorang yang bekerja untuk membuat cerpen tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang lebih rendah daru novelis atau penyair. Meskipun pada masa tersebut cerpenis cenderung sedang banyak dicari akan tetapi, dalam hal regenerasi belum cukup dikatakan signifikan. Penyebabnya karena secara substansi cerpenis muda yang mulai bermuculan pada masa tersebut masih cenderung mengusung tema yang mainstream sehingga para peminat cerpen pada masa tersebut masih terpaku kepada cerpenis yang sudah lama bergelut di dunia sastra

    Ikuti tulisan menarik Rahmada Yani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.