Mengenang 76 Tahun S. Tidjab si Tutur Tinular - Hiburan - www.indonesiana.id
x

S. Tidjab. Wikipedia

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Minggu, 15 Mei 2022 19:37 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Mengenang 76 Tahun S. Tidjab si Tutur Tinular

    Sandiwara radio "Tutur Tinular" populer di era akhir 1980 dan awal 1990-an. Penulisnya: S. Tidjab, jarang diketahui sosoknya yang inspiratif.

    Dibaca : 1.545 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nama S. Tidjab, identik dengan “Tutur Tinular.” Judul sandiwara radio ini mulai disiarkan pertama kali pada 1 Januari 1989. Walaupun banyak karya lainnya, namun "Tutur Tinular"  mengukuhkan namanya sebagai penulis andal skenario sandiwara radio. Sekitar 400-an radio di seluruh Nusantara menyiarkan sandiwara radio karyanya.

    Pria dengan talenta luar biasa ini lahir pada S. Tidjab 14 Mei 1946. Beliau tutup usia pada 1 Maret 2019 di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak, Depok, Jawa Barat.

     

    Sejumlah karya Skenario

    Pemilik nama lengkap Stanislaus Tidjab ini semasa hayatnya banyak menulis skenario. Melansir dari korantempo.co, pria kelahiran 14 Mei 1946 ini merupakan penulis skenario baik radio, sinetron, maupun film. Karya-karya S.Tidjab mampu membuat para pendengar atau penonton terbawa suasana ke cerita sandiwara radio garapannya. Beberapa karya sandiwara radio terkenal milik S. Tidjab antara lain “Tutur Tinular”, “Mahkota Mayangkara”, “Kaca Benggala”, “Kidung Keramat”, “Pelangi di atas Glagahwangi”, “Kasih Sepanjang Jalan”, dan “Asmara di Tengah Bencana.”

     

    Karya “Tutur Tinular” menjadi karya yang melekat dari sosok S. Tidjab. Sebuah kisah kolosal dengan tokoh utamanya, Arya Kamandanu beserta tokoh-tokoh lainnya, seperti Arya Dwipangga, dan Mpu Tong Bajil. Saking terkenalnya sandiwara radio ini, “Tutur Tinular” kemudian diadaptasi menjadi serial televisi. Kisah ini mengambil latar belakang sejarah ketika runtuhnya Kerajaan Singasari dan berdirinya Kerajaan Majapahit. Sandiwara radio ini mulai disiarkan pertama kali pada 1 Januari 1989.

     

    Melansir dari filmindonesia.or.id, karya-karya sinetron dan film tulisan S. Tidjab pun tidak kalah menarik. Beberapa judul sinetron dan film yang ditulisnya seperti “Mahkota Majapahit”, “Mahkota Mayangkara”, “Tutur Tinular: Pedang Naga Puspa” (1989), “Babad Tanah Leluhur I: Rahasia Bukit Tengkorak” (1990), “Babad Tanah Leluhur II: Banyu Cakra Buana” (1991), dan “Tutur Tinular II: Naga Puspa Kresna” (1991), “Tutur Tinular III: Pendekar Syair Berdarah” (1992), dan “Tutur Tinular IV: Mendung Bergulung di Atas Majapahit” (1992).

     

    Populer di Radio

    “Tutur Tinular” karya S. Tidjab sebgai sandiwara radio sempat berjaya pada awal disiarkan, yakni 1989. Salah satunya adalah, stasiun radio Atmajaya Palembang yang  merupakan satu-satunya stasiun radio yang menyiarkan sandiwara radio di Palembang. Baru 10 bagian dari cerita ini disiarkan, sandaiwara besutan S.Tidjab ini mampu membuat pendengar terkesima. Ini bisa ditengarai lewat penelusuran lapangan yang dilakukan oleh staf Atmajaya disejumlah pasar, jalan-jalan, dan kampong di Palembang. Stasiun radio Atmajaya menerima hingga 8-10 surat perharinya, dari para pendengarnya yang menanggapi atau mengagumi cerita sandiwara radio ini.

    Apa kisah “Tutur Tinular” yang dialihwahanakan ke stasiun MNC itu?

    Tutur Tinular merupakan  bahasa Jawa yang bermakna ‘nasihat atau petuah yang disebarluaskan.’ Sandiwara  “Tutur Tinuar” berkisah tentang perjalanan hidup dan pencarian jati diri seorang pendekar: Arya Kamandanu.  Seting cerita adalah Kerajaan Singasari yang mulai runtuh hingga mulai berdirinya Kerajaan Majapahit.

     

     Dengan menampilkan dua tokoh kakak beradik: Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga, kisah ini dimulai. Berawal dari kisah cinta Arya Kamandanu dan Nari Ratih.  Mereka saling mencintai.

    Suatu ketika terjadi kesalahpahaman antara Arya Kamandanu dan Nari Ratih, setelah itu mereka tak lagi saling berjumpa.  Kerenggangan hubungan keduanya,  memancing Arya Dwipangga memasuki konflik tersebut.

    Arya Dwipangga selaku kakak kandung dari Arya Kamandanu bermaksud untuk menyatukan lagi cinta mereka berdua yang sedang dilanda amarah. Ia ingin mereka berdua tidak lagi saling amarah dan hubungan mereka berdua akan kembali baik-baik saja. Arya Dwipangga mencoba mengirimkan sajak-sajak cinta yang ditujukan untuk Nari Ratih.

    Nari Ratih pun sangat senang menerima sajak-sajak cinta tersebut. Ia segera datang dan menemui Arya Kamandanu untuk meminta maaf atas perilakunya selama ini. Namun, ketika bertemu, ia tidak mengakui bahwa sajak cinta tersebut dikirimkan olehnya untuk Nari Ratih. Hal ini tentu membuat Nari Ratih sangat marah, karena ia merasa telah dibohongi oleh seseorang yang baginya telah membuatnya malu karena telah menurunkan harga dirinya untuk datang menemui Arya Kamandanu.

    Sajak-sajak cinta yang dibuat oleh Arya Dwipangga malah membuat kisah percintaan Arya Kamandanu dengan Nari Ratih semakin keruh. Hubungan mereka yang sudah buruk malah diperburuk lagi dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh Arya Dwipangga.

    Arya Kamandanu menegur Arya Dwipangga agar tidak mencampuri urusan cintanya. Arya Dwipangga mengakui atas kesalahannya. Ia pun segera menemui Nari Ratih untuk meminta maaf dan mengakui bahwa sebenarnya yang mengirimkan sajak cinta itu adalah dirinya.

    Hal ini membuat Nari Ratih sangat marah. Namun,  hal ini membuat Arya Dwipangga tidak pernah putus asa untuk mendapatkan maaf darinya. Ditambah lagi setelah perjumpaannya yang pertama dengan Nari Ratih, membuatnya jatuh cinta.

    Kisah percintaan mereka pun semakin kearah yang serius. Ditengah perbincangan ayah Arya Dwipangga dengan ayah dari Nari Ratih, akhirnya bersepakat agar kedua segera untuk dinikahkanKabar tersebut terdengar oleh Arya Kamandanu.

    Ia kesal dan sakit hati atas berita tersebut. Akhirnya, Kamandanu meninggalkan rumah. Di perjalanan, Kamandanu bertemu dengan Ranubaya. Arya Kamandanu yang mengetahui Ranubaya adalah seorang pendekar sakti yang memilik ilmu kanuragan, memutuskan berguru ilmu kanuragan kepada Ranubaya.

     

    Kesengsem

    Salah satu penggemar menulis melalui blog. Ia kesengsem (terkesan) kepada karakter tokoh utama Arya Kamandanu. Melalui akun https://arifkoes.wordpress.com penggemar ini menuliskan,  di tengah krisis teladan lokal dan referensi jagoan negeri sendiri, rupanya Kamandanu tetap bisa jadi panutan, terutama buat para pria. , seperti enam karakternya berikut ini: kekasih yang ikhlas, saudara yang sabar, pendekar yang tekun, pegawai yang menjaga etika, suami yang setia, dan Ayah yang tabah.

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 598 kali