Multatuli: Madu Aceh Berbalas Tuba Belanda - Analisis - www.indonesiana.id
x

Lukisan Kota Banda Aceh pada 1665 dengan Istana Sultan. Wikipedia

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Selasa, 17 Mei 2022 07:29 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Multatuli: Madu Aceh Berbalas Tuba Belanda

    Negara berdaulat yang pertama-tama mengakui lahirnya suatu negara Belanda yang baru saja merdeka di zaman itu secara de jure dan de facto adalah Kerajaan Aceh. Bahkan, ekonomi dan hubungan internasional Belanda begitu tertolong oleh Aceh. Oleh karenanya, Multatuli sangat mencela tindakan Belanda terhadap Aceh.

    Dibaca : 534 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di tahun 1872, ketika Belanda sibuk bersiap-siap hendak menyerang Aceh, Multatuli dengan sedih mengingatkan sebuah peristiwa pengakuan ketika berbicara dalam suatu pertemuan di Wiesbaden. Katanya, “Ketika Belanda memperjuangkan kemerdekaannya dari Spanyol, Kerajaan Aceh-lah yang pertama mengakui Belanda sabagai satu bangsa yang merdeka. Namun, kini Belanda-lah satu-satunya negara yang ingin manghapuskan kedaulatan Aceh. Madu dibalas tuba.”

    Sekitar dua abad sebelumnya, pada 23 Agustus 1601, tiba rombongan Belanda yang ketiga yang dipimpin oleh Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker. Mereka datang dengan empat buah kapal, yakni Zeelandia, Middelborg, Langhe Bracke dan Sonne di Pelabuhan Aceh. Kedatangan mereka adalah atas perintah Pangeran Maurits untuk memberikan sepucuk surat dan beberapa hadiah kepada Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Saidi Mukammil.

    Surat tersebut tertulis dalam bahasa Spanyol yang berisi penyesalan Pangeran Maurits atas kelakuan jelek orang-orang Belanda di Aceh; meminta diadakannya perbaikan hubungan antara Belanda dengan Aceh; kesediaan membayar ganti rugi untuk menebus kelakuan jelek orang Belanda sebelumnya di Aceh, dan mengantarkan berbagai hadiah. Surat tersebut berbentuk piagam yang dihiasi ukiran tangan cantik dengan huruf-huruf bunga, huruf-huruf yang terbuat dari air emas, dan ditanda-tangani Prins Maurits sendiri.

    Menurut De Roo, surat Pangeran Maurits ini kelak ditemukan ketika Keraton (Dalam) diduduki Belanda tahun 1874 dan tersimpan dalam keadaan baik. Surat tersebut ditemukan seorang fuselir Belanda ketika berlangsung penyerbuan. Surat itu lalu dijualnya kepada L de Scheemaker yang telah membeli naskah itu untuk pemerintah “Hindia Belanda”. Selain membawa surat dari Pangeran Maurits, rombongan de Roy dan Bicker juga membawa surat introduksi dari raja di Pulau Amasyuan, di Afrika Timur.

    Tampaknya, Pangeran Maurits telah mengetahui adanya hubungan baik antara Aceh dengan raja di Afrika Timur, dan ia memanfaatkannya untuk keperluan diplomatik Belanda dengan Aceh. Demikian surat dari Pangeran Maurits, pun disambut dengan upacara kebesaran di Aceh.

    Dalam audiensi dengan Sultan, Bicker menunjukkan rasa kecewa dan menyesal atas perbuatan van Caerden. Dia menjanjikan sepulangnya ke Belanda nanti akan menuntut maskapai cukongnya van Caerden supaya membayar ganti rugi kepada pemilik kapal Aceh yang telah dibajak oleh van Caerden. Sesudah di Belanda, janji Bicker ini dipenuhi dan kemudian dibayarkan kepada pemilik kapal Aceh yang telah dirampok van Caerden.

    Melalui misi diplomatik ini Bicker juga dapat membebaskan Frederick de Houtman dan 8 orang tawanan Belanda lainnya di Aceh. Sebelumnya Frederick dan saudaranya, Cornelis de Houtman, ditangkap akibat kelakuan buruk mereka. Frederick dipenjara dan de Houtman dieksekusi.

    Usai kedatangan delegasi Belanda, Kesultanan Aceh ganti mengirim utusan untuk meninjau langsung negeri Belanda. Tanggal 20 Juli 1602, rombongan kapal Belanda bersama delegasi Aceh tiba dengan selamat di Zeeland, negeri Belanda. Utusan Aceh yang berangkat bersama kapal Belanda ini terdiri dari Abdul Hamid sebagai ketua delegasi, sebagai anggotanya adalah Sri Muhammad, Laksamana Aceh dan Mir Hasan. Selain itu, seorang juru bahasa bernama Loenard Werner alias Pusque Camis, asal Luxemburg turut dalam rombongan delegasi Aceh. Juga turut dalam rombongan para pengiring seperlunya dan tidak ketinggalan saudagar-saudagar Arab.

    Maksud kepergian utusan Aceh ini, selain muhibah, juga untuk mempelajari sejauh mana Aceh dapat mengadakan hubungan dengan Belanda apabila Aceh sabagai gantinya memutuskan sama sekali tali dagang dengan Portugis. Emmanuel Van Meteren menceritakan adanya keinginan Sultan melalui delegasi Aceh untuk mengetahui benar tidaknya cerita Portugis yang mengatakan bahwa: “datter geen witte menschen sijn, dan alleen de Ondersaten van den Coningh van Spaengien ende Portugael, waeromme sde onsen voor zeerroovers geacht hadden totdat se straks beter dienaengaende werden onderricht” (bahwa tidak ada orang berkulit putih selain dari warga yang bernaung di bawah Raja Spanyol dan Portugis, dengan sebab mana mereka menganggap bahwa bangsa kita adalah bajak laut belaka, sampai nanti mereka sendiri mendapat tahu hal sebenarnya).

    Ketika masa kunjungan delegasi Aceh, Pangeran Maurits berada di medan pertempuran yang bermarkas besar di suatu kampung bernama Grave, dan delegasi Aceh berkeinginan untuk langsung menemui Maurits di tempatnya. Dengan diiringi oleh pihak Belanda, pada tanggal 1 September 1602, berangkatlah delegasi dari Middelburg menuju markas Maurits. Dan, Pangeran Maurits telah mengurus upacara sambutan yang cukup mentereng.

    Dalam kesempatan itu diserahkan surat-surat dan segala bingkisan. Salama bersama Maurits, dalegasi dipertunjukkan hasil-hasil perang menghadapi Spanyol dan turut pula memperhatikan medan perang. Delegasi Aceh juga menggunakan kesempatan itu untuk meninjau kota dan kampung-kampung di Belanda. Kemudian, sesudah berada kurang lebih 16 bulan (hingga 18 Desember 1603), delegasi Aceh yang berkunjung ke Belanda pun pulang bersama rombongan Steven van der Hagen.

    Dalam perjalanan pulang, rombongan Steven van der Hagen juga menyinggahi India, di mana dengan ini Belanda berhasil pula memperoleh dari Sultan Aceh surat perkenalan (introduksi) untuk Sultan Akbar, salah seorang raja besar di India pada zaman itu. Di masa ini, Sultan Aceh memang mempunyai hubungan yang sangat rapat dengan Sultan Akbar. Sehingga, dengan surat perkenalan itu Belanda mendapat fasilitas dagang di bandar-bandar besar di India, seperti Cambay (Gujarat). Juga, Sultan dengan rela telah memberi surat perkenalan kepada utusan Belanda itu untuk Raja Kalikut, Raja-raja Benggali dan Sailan. Sedangkan di Aceh, Belanda diizinkan untuk mendirikan satu kantor dagang oleh Sultan, yang dibuka di ibukota Aceh Darus-Salam.

    Sehubungan dengan keberangkatan utusan Aceh ke Belanda, maka dapat diketahui bahwa negara berdaulat yang pertama-tama mengakui lahirnya Belanda sebagai negara yang baru saja merdeka di zaman itu, secara de jure dan de facto adalah Kerajaan Aceh. Bahkan, ekonomi dan hubungan internasional Belanda begitu tertolong oleh Aceh. Oleh karenanya Multatuli sangat mencela tindakan Belanda terhadap Aceh.

    Ikuti tulisan menarik Bayu W |kuatbaca lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Priskila Naomi

    19 jam lalu

    Asa

    Dibaca : 79 kali