Kisah-kisah Heroik Pasukan Garuda Sang Penjaga Perdamaian - Analisis - www.indonesiana.id
x

Prajurit Kontingen Garuda TNI mengikuti upacara pelepasan Kontingen Garuda di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat, 31 Agustus 2018. Sebanyak 850 personel Satuan Tugas RDB Kontingen Garuda XXXIX-A Kongo dan 120 personel Satuan Tugas MTF Kontingen Garuda XXVIII-K Lebanon akan bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Republik Kongo dan Lebanon. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Yustisia Putri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Desember 2021

Rabu, 18 Mei 2022 17:14 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kisah-kisah Heroik Pasukan Garuda Sang Penjaga Perdamaian


    Dibaca : 350 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Akhir-akhir ini drama Korea atau drakor menjadi hal yang digandrungi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Para pemain yang tampan dan cantik serta alur cerita yang menarik membuat penonton drama Korea begitu melejit. Drama Korea memiliki alur dan tema cerita yang berbeda satu sama lain sehingga membuat drama itu menjadi sangat khas. Tema yang diangkat oleh drakor pun luas tak sebatas kisah cinta remaja SMA, tetapi ada juga yang bertema militer, perdamaian, hukum, kesehatan, kerajaan, dan sebagainya. 

    Drama Korea bertajuk Descendants of The Sun yang populer pada tahun 2016 menyajikan alur cerita baru bagi dunia perdrakoran yaitu kisah cinta Kapten Yoo Shi-Jin, ketua pasukan tim Alpha, tentara penjaga perdamaian PBB dengan dokter dari rumah sakit besar Korea Selatan, Kang Mo-Yeon. Drakor yang diperankan aktor Song Jong-Ki ini tak hanya menyajikan kisah cinta tapi juga kisah menarik dirinya sebagai pasukan perdamaian PBB.

    Membahas mengenai pasukan perdamaian PBB, dalam dunia nyata Indonesia juga memiliki pasukan penjaga perdamaian PBB sejak tahun 1957.  Pasukan Tentara Nasional Indonesia yang ditugaskan untuk menjaga perdamaian di negara lain bernama Konga kependekan dari Kontingen Garuda atau Pasukan Garuda. Konga merupakan salah satu bentuk dari realisasi tujuan negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 aliniea keempat yaitu “... dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”

    Indonesia pertama kali mengirim Konga I ke Mesir pada tanggal 8 Januari 1967 yang pada saat itu mengalami konflik militer skala besar dengan Inggris, Prancis, dan Israel. Sama seperti perjuangan yang dialami Kapten Yoo Shi-Jin dalam DOTS, Kontingen Garuda juga memiliki cerita menarik tersendiri saat memperjuangkan perdamaian di negara tempat bertugas. Berikut top 3 perjuangan Konga paling menarik menurut saya. 

    1. Konga III Sang Les Spiritesses 

    Konga III berkekuatan 3.457 pasukan yang dipimpin oleh Brigjen Kemal Idris ditugaskan ke Alberville, Kongo pada tahun 1962. Wilayah  tersebut dikenal berbahaya karena adanya kelompok pemberontakan yang dipimpin oleh Moises Tsommbe. Tugas Konga III kali ini merupakan tantangan bagi mereka. Konga III harus menghadapi serangan pemberontakan berkekuatan 2.000 orang pada tengah malam hingga dini hari. Kontak senjata tak bisa dielakan, tapi Konga III berhasil memukul mundur pemberontak. 

    Konga III pun segera menyiapkan serangan balasan. Mereka menggunakan strategi yang memanfaatkan kepercayaan masyarakat setempat tentang adanya hantu putih atau Spiritesses. 30 personel RPKAD dikerahkan untuk membuat panik para militan. Mereka menggunakan jubah putih bak hantu yang siap menggemparkan pemberontak. Para pemberontak panik karena mereka merasa diserbu oleh Spiritesses. Pada akhirnya, lokasi berhasil dikuasai personel RPKAD dan Konga III mendapat julukan Les Spiritesses atau hantu putih dari orang-orang Kongo.

    2. Konga II Melawan Tank Prajurit Kongo

    Pada tahun 1960 Pasukan Garuda II dikirim ke Kongo. Pasalnya di wilayah tersebut masih terjadi konflik meskipun Kongo sudah merdeka. Belgia yang dulunya menjajah Kongo masih belum rela jika harus melepas Kongo seluruhnya. Kemudian timbullah konflik antar suku yang ditunggangi Belgia. Menanggapi hal tersebut, PBB mengirim pasukan UNOC (United Nations Operations in Congo) dan Konga II turut menjadi bagian pasukan tersebut.

    Suatu hari Markas Berkas UNOC di Leopodoldville diserang oleh pasukan ANC (Army Nation of Colongese). ANC menyerang menggunakan tank-tank bermanuver di dekat Markas UNOC yang kebetulan dijaga pasukan Indonesia. Dengan sigap tentara Indonesia langsung mengeluarkan enam buah senjata antitank siap tembak. ANC yang terkejut karena rencananya tak sesuai dugaan langsung mundur meninggalkan Markas UNOC PBB.

    Pasukan Indonesia pun mendapat pengakuan internasional. Para petinggi UNOC mengakui Konga II sebagai pasukan tempur berkualitas yang tak hanya sigap, tetapi juga mampu menciptakan kedekatan dengan rakyat di wilayah itu.

    3. Sapaan “Garuda” Masyarakat Lebanon untuk Konga

    Tak melulu soal perang, suasana keakraban masyarakat di wilayah Konga bertugas pun memiliki kisah menarik tersendiri. Konga tergabung dalam UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Menariknya, Pasukan Garuda dapat menjalin keakraban dengan masyarakat Lebanon. Nama “Garuda” menjadi hal yang familiar di masyarakat sana bahkan menjadi panggilan sapaan untuk Pasukan Garuda. Penduduk lokal yang berpapasan dengan prajurit TNI akan menyambut dengan teriakan bersahabat “Garuda!” kemudian dibalas oleh prajurit TNI dengan teriakan yang sama. Tentu saja masyarakat Lebanon mudah mengenali prajurit Indonesia dari lambang bendera Merah Putih yang melekat di lengan kiri baju prajurit. 

    Kolonel Kav Jala Argananto yang menjabat sebagai Komandan Kontingen Garuda 2015-2016 selalu menekankan kepada Prajurit Garuda untuk menjalin silahturahmi dengan warga setempat selain menjaga hubungan dengan sesama Pasukan Penjaga Perdamaian. Namun, tentu harus tetap memperhatikan prinsip imparsial serta kewaspadaan. 

    Menjadi salah satu prajurit Pasukan Garuda merupakan sebuah kebanggaan bagi seorang TNI. Mereka mengemban tugas menjadi perwakilan negara untuk menjaga perdamaian. Medan perang tak lagi menjadi tempat yang asing. Berbagai perjuangan mereka lewati dan menjadi pengalaman yang tak bisa tergantikan. Meskipun begitu mereka harus rela meninggalkan orang-orang terkasih di Indonesia demi menjaga perdamaian di negara bertugas.

    Di samping itu, film Indonesia berjudul I Leave My Heart in Lebanon yang dirilis pada tahun 2016 juga menceritakan tentang prajurit Pasukan Garuda yang bertugas menjaga perdamaian di Lebanon. Film ini pun tak lepas dari unsur romantis yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik intensi masyarakat untuk menontonnya. Penikmat drakor DOTS wajib menonton film yang disutradarai oleh Benni Setiawan dan T.B. Silalahi ini untuk kembali merasakan sensasi kisah cinta di dunia militer.

     

    Ikuti tulisan menarik Yustisia Putri lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.