Menyikapi Perubahan Jaman - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 19 Mei 2022 08:19 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menyikapi Perubahan Jaman

    Kita hidup di jaman yang sedang berubah dengan cepat. Dalam lima tahun saja sudah terjadi perubahan pesat dalam iptek, finek, sosial budaya dll. Banyak orang tidak siap menghadapinya. Bagaimana kita harus bersikap? Sila baca terus.

    Dibaca : 871 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono

    Cobalah tengok ke belakang, lima tahun yang lalu.  Pasti Anda akan menemukan banyak sekali perubahan.  We live in a changing world kata orang bule.  Kita hidup di dunia yang sedang berubah.  Perubahan di banyak bidang sedang terjadi pesat sekali.  Owah gingsiring jaman kata orang Jawa.

    Dulu di era perang dingin (cold war) dunia terbelah dalam dua kutub politik.  Di satu sisi ada kubu Barat yang dikomandani Amerika Serikat dan di sisi lain ada kubu Timur atau komunis yang dipimpin Uni Soviet.  Keduanya saling berebut pengaruh di seluruh dunia.   Ketegangan sangat meningkat sehingga hampir saja pecah perang.  Kawasan yang paling potensial menjadi medan tempur adalah Eropa Barat.  Indonesia masih relatif aman dari bahaya peperangan. Meskipun kalau pecah perang dunia pasti kita kena dampaknya juga.

     

    Perkembangan terkini di dalam politik internasional sangat mengkhawatirkan karena terjadi di depan rumah kita.  Sekarang ini dunia kembali terbagi dalam dua kubu yang saling bertentangan.  Di satu sisi ada Cina yang mengklaim wilayah laut Cina selatan sebagai wilayahnya. Akibatnya klaim itu mengiris wilayah banyak negara dan bahkan wilayah laut internasional.  Maka Amerika Serikat, Eropa barat, Australia, Jepang, Korea Selatan, India dll menentang dan bahkan menyiapkan kekuatan militer mereka.  Sampai saat ini sudah ada dua kapal induk (aircraft carrier) Amerika di laut Cina selatan. Di sisi lain Cina didukung Rusia, Iran, Pakistan dan Korea Utara. 

     

    Jika sampai pecah perang di laut Cina selatan maka seluruh negara Asia Tenggara dan Asia Timur akan terdampak.  Dampaknya pasti akan sangat dahsyat.  Tidak hanya kerusakan fisik tapi ekonomi juga akan sangat terpukul.  Jalur laut akan terputus.  Maka ekspor impor di kawasan akan berhenti.  Indonesia yang sangat tergantung komoditi impor pasti akan sangat menderita.  Itulah resiko yang kita hadapi dari politik internasional.  Semoga para pemimpin dunia mampu menemukan jalan keluar yang bijaksana agar semua pihak diuntungkan.

     

    Perubahan lain di dalam negri juga banyak.  Salah satu yang saya amati adalah aspek kebudayaan, khususnya bahasa.  Kekayaan kultural kita yang berupa bahasa daerah mengalami kemerosotan tajam.  Banyak bahasa daerah yang sedang dalam proses hilang. Hanya bahasa suku besar saja yang masih relatif aman tapi sayang kualitasnya juga merosot. Dalam bahasa Jawa misalnya, sudah jarang orang yang menguasai dengan baik kromo inggil alias bahasa halus.  Hampir semua orang omong bahasa ngoko alias bahasa akrab.  Tidak sedikit yang omong bahasa kasar.  Apa artinya?

     

    Di dalam bahasa sejatinya terkandung kearifan lokal.  Maka bersama berlalunya suatu bahasa ikut hilang juga kearifan itu.  Sayang sekali sebenarnya.  Semoga ada orang yang berminat mengkaji dan menuliskan kearifan berbagai suku Indonesia. 

     

    Bagaimana kita menyikapi owah gingsiring jaman ?  Paling tidak ada dua cara.  Pertama dengan banyak membaca.  Saya terkesan dengan pakar seperti Kenichi Ohmae yang di tahun 80’an sudah menulis buku Borderless World (dunia tanpa batas).  John Naisbitt juga seorang futurolog dan penulis buku yang mengesankan. Demikian juga Alvin Toffler.  Mereka mampu memahami dan memaparkan perubahan yang akan terjadi.  Membaca buku mereka akan membantu kita memahami perubahan besar yang sedang dan akan terjadi. Pemahaman itu akan membuat kita mampu menemukan langkah antisipasi yang tepat kepada perubahan jaman.

     

    Tentu saja sebaiknya kita bersikap terbuka terhadap pemikiran baru. Kalau pikiran Anda tertutup ya ibarat memakai filter.  Sia sia saja masukan yang didapat. 

     

    Kedua adalah dengan banyak berwisata. Rajinlah berwisata ke manca negara, jangan hanya di Indonesia.  Apa manfaatnya?  Anda akan mendapatkan masukan berharga. Anda akan melihat dari perspektif lain.  Anda akan melihat dan mengalami kebudayaan lain yang akan menjadi ‘pembuka mata’.   Dengan sikap terbuka Anda akan banyak belajar.  One’s destination is never a place but a new way of seeing things kata Henry Miller.  Destinasi seseorang sejatinya bukan tempat tapi cara pandang baru. 

     

    Monggo sila banyak baca dan banyak berwisata agar Anda mampu menyikapi owah gingsiring jaman dengan tepat.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.