Kota Tanpa Cermin - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi foto sunset. Condy Lever dari Pixabay.com

Em Fardhan

Penulis Indosiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Minggu, 22 Mei 2022 05:51 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kota Tanpa Cermin

    Sebab tak ada cermin, penduduk di sana tidak pernah tau seperti apa rupa dirinya. Ia hanya tau dari kata orang-orang saja. Yang katanya begini dan begitu, seumur hidup dari lahir hingga mati mereka tidak pernah tau wajah asli dirinya sendiri seperti apa. Hingga kata orang adalah satu-satunya hal yang paling diyakini dan dipegang kuat-kuat oleh mereka.

    Dibaca : 1.047 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kota itu bernama Armuk. Jangan sekali-kali mencari di peta atau gps, sebab kota itu tak pernah tercatat dalam rekam jejak peradaban manusia.

    Konon, apa saja yang puja-puja manusia akan terpenuhi di sana. Mulai dari harta, tahta, dan wanita. Semua menghampar begitu banyaknya. Hanya saja, ada satu hal yang tidak tersedia, yakni cermin.

    Benar, sebuah cermin. Barang itu di sana tidak pernah ada dan andai saja ada orang yang membawa ke sana dari tempat lain, di kota itu tetap tidak dapat difungsikan sebagaimana mestinya.

    Sesuatu hal yang mirip cermin, misalnya adalah air, pun tak tak bisa memantulkan bayangan. Ia hanya berupa gumpalan-gumpalan zat cair berwarna bening tetapi tak dapat memantulkan bayangkan sebagaimana layaknya air di kota-kota lain.

    Sebab tak ada cermin, penduduk di sana tidak pernah tau seperti apa rupa dirinya. Ia hanya tau dari kata orang-orang saja. Yang katanya begini dan begitu, seumur hidup dari lahir hingga mati mereka tidak pernah tau wajah asli dirinya sendiri seperti apa. Hingga kata orang adalah satu-satunya hal yang paling diyakini dan dipegang kuat-kuat oleh mereka.

    Kesadaran untuk tahu pun tidak pernah terbesit dalam benak mereka, mereka pun tidak pernah tahu bahwa di dunia ini selain di kehidupan mereka ada benda bernama cermin atau sesuatu yang fungsinya seperti cermin.

    Pada suatu ketika, datanglah seseorang tua asing yang kelihatannya seperti pengembara. Entah datang dari mana. Yang pasti, dilihat dari caranya berpakaian dan berpenampilan, jelas bukanlah salah satu warga kota Armuk.

    Lelaki itu singgah di sebuah kedai, sejenak ia merebahkan diri di kursi teras kedai itu. Lelaki tua itu terlihat begitu kelelahan, tetapi anehnya senyum di bibirnya seperti tidak mau lepas, selalu bertengger menghiasi bibirnya yang sedikit pucat.

    Kepada pelayan, lelaki pengembara itu melambaikan tangan, pertanda hendak memesan sesuatu.

    "Silahkan, Tuan. Mau pesan apa?" tanya pelayan wanita berpenampilan seksi sembari tergopoh-gopoh menghampiri sang pemesan.

    "Air putih saja …," kata lelaki itu sembari tersenyum.

    "Baik, Tuan. Silahkan tunggu sebentar."

    Tak berlangsung lama, pelayan itu membawa sebuah nampan berisikan sebuah minuman.

    Lelaki itu langsung menyambar minuman itu dan hendak ditenggaknya, tetapi ia tersentak sejenak lalu mengurungkan niatnya dan kemudian bertanya kepada si pelayan.

    "Saya memesan air putih, Nona. Bukan air comberan," kata lelaki itu keheranan.

    "Comberan bagaimana, itu air putih, Tuan. Semua di sini menyebutnya air putih, apa Tuan tidak percaya kata orang?"

    "Tidak, Nona, ini air comberan. Air putih tidak seperti ini. Ini jelas-jelas air comberan. Aku tidak mau meminumnya. Lebih baik aku pergi saja," lanjut pria tua itu sembari bangkit dari duduknya dan mulai melangkah keluar kedai.

    Si pelayan nampak tak suka. Ia kemudian berlari ke arah dalam kedai dan berbisik-bisik kepada lelaki berkumis melintang yang kelihatannya adalah pemilik kedai itu.

    "Tuan, lelaki tadi tidak percaya bahwa itu adalah air putih. Ia tidak percaya kata orang,"

    "Sepertinya dia bukan orang sini. Kasihan sekali ia tidak percaya kata orang. Biarkan dia jadi gelandangan seumur hidupnya. Sudah kamu kerja lagi, layani pak lurah, dia minta sup kambing!"

    "Baik, Tuan."

    Pelayan wanita itu bergegas ke dapur menuruti perintah majikannya. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan membawa semangkuk sup berbentuk daging panjang yang bersisik.

    "Silahkan, Pak Lurah. Ini pesanan sup kambingnya. Masih hangat. Tentu dengan bumbu spesial kesukaan Pak Lurah," ujar pelayanan wanita itu begitu tiba di meja Pak Lurah.

    Pak Lurah tampak riang. Kemudian ia menyantap makanan pesanan itu dengan lahap.

     

    Tamat

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Em Fardhan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.