Akhirnya Ia Berjabat Tangan dengan Realita - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Media Sosial. Image dari Gerd Alatman dari Pixabay

Ali Mufid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Maret 2022

Minggu, 22 Mei 2022 06:35 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Akhirnya Ia Berjabat Tangan dengan Realita

    Siap untuk bergeser dari satu tempat ke tempat lainnya hanya dalam sekejap. Siap untuk menghayati satu peristiwa menjadi ruang belajar yang harus diselesaikan hingga tahap ujian. Siap untuk tidak sakit dan siap untuk menulis dalam kondisi genting sekalipun

    Dibaca : 1.050 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setiap sudutnya tak ada yang berubah, pun dengan ruang serta seisinya berikut formasi kursi masih sama seperti terakhir kali meninggalkan satu dekade lalu. Warna gedung, pepohonan di setiap sudut taman, ruang dosen, musholla tempat berpura-pura sakit karena (saat itu) menolak tradisi senioritas tatkala orientasi studi dan pengenalan kampus. 

    Saat itu hanya mengalokasikan waktu satu hari untuk Ospek di hari pertama. Hari kedua dan seterusnya selalu cari-cari alasan agar tak terlibat serangkaian acara membosankan.

    Ya, di periode itu memutuskan berpisah lebih awal dari tempat ini. Bersikap lebih dini untuk menyapa dunia nyata. Menggali jawaban diluar sana atas pernyataan banyak orang bahwa hidup tak semudah menyalin catatan dosen. Sikap yang diambil terlalu cepat itu justeru memperkaya catatan demi catatan. 

    Lebih dari itu, rentetan peristiwa kehidupan tertulis dengan baik dalam buku kecil. Goresan tentang dinamika sosial, budaya, pendidikan, politik, pemerintahan, bahkan seringkali belajar dari si miskin tentang cara bertahan hidup yang sewajarnya.

    Idelaisme harga mati. Tak ada celah bagi siapapun bernegosiasi agar melucuti apa-apa yang diyakini. Berfikir, bersikap, berucap hingga bertindak kala itu menjadi satu instrumen tak terpisahkan. Semacam alat kelengkapan orkestrasi, tak boleh ditinggalkan satupun agar menghasilkan satu pertunjukan apik hingga usai. 

    Keyakinan terhadap sesuatu terlalu kokoh untuk dirobohkan. Kemerdekaan berfikir tak ada tepian, seluruhnya bebas tentukan arah kemana akan singgah. Bahkan ancaman terhadap diri sekalipun acapkali dimaknai sebagai lelucon, "Urip mung mampir ngombe". 

    Filosofi itu yang menjadi energi agar memaknai peristiwa sebagai olah komunikasi manusia dengan Tuhan.

    Perjalanan itu mengajarkan tentang berani, kritis dan peka terhadap situasi kondisi di lapangan. Tak ada figur pengantar materi ilmu pengetahuan setiap pagi hingga larut malam. Transaksi itu malah dilakukan oleh mereka kaum-kaum marjinal, dengan tulus hati menumpahkan ilmu titen terhadap kami yang setiap saat hanya bisa berucap siap. 

    Siap untuk bergeser dari satu tempat ke tempat lainnya hanya dalam sekejap. Siap untuk menghayati satu peristiwa menjadi ruang belajar yang harus diselesaikan hingga tahap ujian. Siap untuk tidak sakit dan siap untuk menulis dalam kondisi genting sekalipun.

    Kini diizinkan kembali menyapa ruang kelas setelah terlalu lama berjalan dan pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Setelah idealisme pada akhirnya siap sedia berjabat tangan dengan realita. Pada akhirnya kembali ke ruang belajar dengan pendamping sesuai ahlinya merupakan cara terbaik memperbaiki pijakan dan cara berpikir.

    Terimakasih diizinkan kembali menyapa, setelah banyak cerita penuh rupa diluar sana.

    Ikuti tulisan menarik Ali Mufid lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali