Reality Show di Taman Bacaan Kali Pertama Diangkat ke TV - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Minggu, 29 Mei 2022 17:39 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Reality Show di Taman Bacaan Kali Pertama Diangkat ke TV

    Kisah drama perjuangan pegiat literasi TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak pun diangkat ke reality show TV. Apa dan bagaimana kisahnya?

    Dibaca : 833 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Digawangi host Chand Kelvin, program SAFAR RTV mengangkat kisah pegiat literasi dan ibu buta aksara dua episode penuh. Shooting dan tayangan dalam genre “drama taman bacaan” ini terjadi di TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor.

     

    Episode ke-1 berkisah tentang Syarifudin Yunus, pendiri TBM Lentera Pustaka yang mendedikasikan waktu dan tenaganya sepenuh hati di taman bacaan ditayangkan pada Sabtu 28 Mei 2022 pukul 06.30 WIB di Program SAFAR RTV.

    Sedangkan episode ke-2 berkisah tentang Ibu Arniati (salah satu murid berantas buta aksara Syarif Yunus) yang tetap semangat untuk keluar dari belunggu buta huruf ditayangkan pada Minggu 29 Mei 2022 pukul 06.30 WIB di Program SAFAR RTV.

     

    Chand Kelvin menyambangi langsung TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak, Dia mengulik kisah pegiat literasi yang berjuang untuk taman bacaan dan demi peningkatkan kualitas pendidikan masyarakat. Bisa jadi tayangan dua episode di taman bacaan ini adalah untuk pertama kali di industri televisi, khususnya RTV. Ytayangan yang bukan liputa TV, melainkan “reality shoe” seputar taman bacaan. Maklum selama ini, taman bacaan memang tidak banyak dipedulikan orang. Makanya taman bacaan sering disebut sebagai “jalan sunyi Pendidikan”

     

    Kisah pegiat literasi, Syarifudin Yunus diberi tajuk “Berantas Tuna Aksara Dekat Ibukota”. Aksi mulia Syarifudin Yunus berawal dari keprihatinan mendapati orang tua di lingkungan Taman Bacaan Lentera Pustaka tidak bisa membaca dan menulis, di samping tingginya angka putus sekolah. Syarif pun, sejak 5 tahun lalu pun tergerak hatinya untuk mendirikan TBM Lentera Pustaka sebagai tempat membaca buku anak-anak usia sekolah secara gratis dan mengajarkan kaum ibu yang masih buta aksara. Ada pula motor baca keliling, yatim binaan, jompo binaan, dan koperasi simpan pinjam. Semuanya didedikasikan untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat sekitarnya. Sebuah aksi sosial yang tidak banyak dilakukan orang.

     

    Setelah itu, Ibu Arniati dalam episode “Aku Malu Tak Bisa Baca Tulis” diangkat ke drama reality show. Sebagai salah satu murid Gerakan BERantas BUta aksaRA *GEBERBURA) TBM Lentera Pustaka, Ibu Arniati selalu semangat mengikuti pelajaran membaca dan menulis, secara rutin seminggu 2 kali. Di tengah kesibukannya sebagai asisten rumah tangga, ia merasa malu belum bisa baca dan tulis. Semangat belajar itulah yang memperkuat tekadnya untuk menyekolahkan anak setinggi-tingginya.  

     

    Kedua kisah pegiat literasi tersebut dipadu dalam penceritaan yang ciamik untuk mengggugah pemirsa TB, di samping dapat menjadi kisah inspiratif akan pentungnya berbuat kebaikan kepada sesama, khususnya masyarakat yang membutuhkan. Khoirunnaas anfa’uhum linnaas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

     

    Setidaknya melalui tayangan program SAFAR, RTV telah mengangkat akan pentingnya peran taman bacaan di Indonesia. Sebagai kepanjangan tangan pemerintah untuk mengentaskan angka putus sekolah dan memberantas kaum buta aksara. Salam literasi #SafarRTV #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka

     

    Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.