Keuangan yang Maha Esa - Urban - www.indonesiana.id
x

Yang Dicari dan dibutuhkan

jendry Kremilo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 21 Mei 2022

Senin, 30 Mei 2022 06:28 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Keuangan yang Maha Esa

    Saat ini kita hidup di mana secarik kertas mampu mengontrol hampir seluruh segi kehidupan.Kertas itu adalah uang.

    Dibaca : 1.248 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cuap cuap pada hari ini  secara khusus  berkutat pada pembicaran tentang uang, mengapa harus uang? Karena memang pada dasarnya uang sangat sensitif dalam konstelasi perekonomian dunia termasuk di negara kita.

    Tetapi alasan utama saya membahas topik ini  bukan itu. Karena memang saat ini tanggal tua, tanggal yang cukup kronis, dan tragis bagi anak kos dan kontrakan, mengingat persediaan uang hanya cukup untuk membeli tiga bungkus Indomie. Asupan vitamin dan kalori saat tanggal tua sangatlah tidak mungkin. Maka sembari menahan lapar ijinkan saya bercerita sedikit tentang uang.

    Saya klarifikasi dulu bahwasannya saya hanya seorang mahasiswa dan pengangguran terselubung yang hanya ingin membahasnya sebatas pada apa yang saya pahami, dan mengusulkan proposal reflektif dari referensi yang sudah saya dapat.

    Saat ini kita hidup di mana secarik kertas mampu mengontrol hampir seluruh segi kehidupan. Kertas itu adalah uang. Dimanapun dan kapanpun  kita butuh uang, entah untuk berbelanja, nge-date bareng cewe, bayar karcis parkir, mandi bahkan berak dan kencing di toilet umum saja kita perlu membayarnya dengan uang. 

    Benda ajaib ini menentukan status kekayaan seseorang dan juga harga diri dari setiap orang, uang juga menjadi privilege bagi oknum tertentu tertentu untuk menyuap para polisi dan jaksa agar tutup mulut terhadap korupsi, hhh...

    Jika anda tak mempunyai sepeserpun uang ,maka  anda masuk kategori miskin, sebaliknya jika punya banyak uang maka masuk kategori orang kaya.se simpel itu hidup kita. Seorang penulis terkenal  Bernama Anthony Sampson mengkategorikan uang sebagai "agama baru" bagi manusia. Filsuf Adam Smith juga menyebut dengan nada hiperbolis, bahwa pembeda antara manusia dan hewan adalah uang.

    Namun yang paling ironi, justru manusia dapat berperilaku seperti hewan karena uang. Manusia dapat saling mencintai atau membenci karena uang; begitupun makan, tidur, bekerja, sakit, dan seluruh aktivitas berkaitan dengan uang. Kajian jejak referensi yang saya dapat dari berbagai literatur mau menunjukan bagaimana manusia itu sebetulnya bisa menjadi homo homini lupus, serigala bagi sesamanya.

    Mengapa tidak,uang berada pada tempat yang signifikan dalam sebuah struktur sosial, Uang menjadi parameter sekaligus  afirmasi bagi posisi sosial tertentu. Karena orang memiliki uang, ia berkuasa. Untuk itulah ilmuwan politik aliran Weberian, Prof Jeffrey Winters menempatkan kepemilikan uang---basis material--- sebagai salah satu sumber kekuasaan.

    Makna Secarik Kertas 

    Jika dipikir-pikir uang cuman secarik kertas dengan desain  gambar yang bernuansa pluralisme dan persatuan, dibilang estetik juga tidak, dibilang buruk juga tidak.Entahlah. Dari secarik kertas ini kita kemudian bisa membangun sistem perekonomian dan sosial yang sampai saat ini masih terus berjalan.

    Uang memiliki pelbagai macam makna dalam kehidupan sosial, Uang juga dapat memacu setiap orang untuk meningkatkan kapasitas diri, karena tinggi rendahnya nilai uang yang akan dihasilkan, berbanding lurus dengan kualitas diri seseorang. Hasil karya/ usaha seseorang dapat dihargai dengan jumlah besarnya uang yang dihasilkan. 

    Namun uang juga memberikan implikasi buruk dalam kehidupan, eksistensi uang membuat meningkatnya sinisme dan sikap acuh. Sinisme terjadi ketika aspek tertinggi dan terendah dari kehidupan sosial diperjualbelikan, direduksi menjadi alat tukar umum (uang). Sehingga kita bisa "membeli" kecantikan, kebenaran, ataupun kecerdasan semudah membeli cemilan.

    Dengan kondisi seperti ini apapun bahkan siapapun memiliki  standar harga yang ditetapkan dengan satuan nominal tertentu, miris bukan? Ini hanya secuil fakta yang memang sampai saat ini masih terjadi.Sehingga tidak heran jika banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan uang dengan cara apapun, termasuk dengan cara yang salah.

    Saat ini banyak kasus-kasus kemanusiaan seperti human trafficking,aborsi, dan sebagainya dengan dalih masalah uang sebagai penyebab, sebut saja  salah satu kasus di Tangerang Selatan, seorang ibu rumah tangga, SI (27). Dia harus berurusan dengan polisi karena menggugurkan janin dalam kandungannya. 

    Aksinya ketahuan , karena  janin yang dibuang pelaku di tempat sampah toilet Mal, tempatnya bekerja dilaporkan ke Polsek Pagedangan. perbuatan nekat SI terhadap janinnya itu, dilatarbelakangi kekhawatiran pelaku tidak mampu membiayai kehidupan sang bayi akibat himpitan ekonomi yang keluarganya alami (Merdeka.com).

    Bukan Tujuan Akhir

    Pada akhirnya kita dihadapkan pada pertanyaan reflektif, tentang makna uang terhadap diri kita, apakah uang sebagai sarana mencapai tujuan atau justru sebagai tujuan akhir dari diri kita. Konsep yang perlu dibangun sebetulnya tentang makna uang adalah sifatnya sebagai sarana mencapai tujuan. 

    Sebagai benda, uang mengobjektifikasi, serta mengkalkulasi atas nilai benda-benda lainnya. Wujud penghargaan uang terhadap benda adalah price. Benda-benda yang dipertukarkan, semakin langka dan besarnya pengorbanan, semakin tinggi pula harganya. 

     

    Tetapi uang bukan menjadi tujuan akhir dari hidup kita, karena jika demikian kita justru hanya membangkit kepercayaan baru dan mendewakan uang sebagai suatu agama baru. Sebab uang hanyalah secarik kertas bukan yang maha kuasa.Di akhir kata, sebelum saya membuka bungkusan indomie untuk direbus, saya hanya mau mengingatkan kita dengan adagium kuno yang cukup terkenal, uang bisa membeli segalanya, tapi uang bukanlah segalanya.

     

     

    Ikuti tulisan menarik jendry Kremilo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 466 kali