Sesal - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Foto oleh ArtTower dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Senin, 6 Juni 2022 09:51 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sesal

    Penyesalan seorang mahasiswa di kehidupan kampusnya dan cara dia menghanguskan bara sesal di lubuk hatinya.

    Dibaca : 570 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Malam hari, pikiranku selalu mengingat kejadian itu. Aku sering dibuatnya tidak tertidur sampai jam dua pagi. Aku tidak pernah akan lupa tentang kejadian itu. Perkenalkan sebelumnya, aku Almanico. Panggil saja Nico. Aku adalah seorang mahasiswa biasa. Mahasiswa yang sedang melewati sebuah ujian tertentu. Ujian yang sangat berat menurutku. Aku memang sering menjadi penolong bagi mereka yang sedang mengalami ujian ini, namun aku tidak begitu hebat dan masih ada dari rekan angkatanku yang ditelan oleh ruangan itu.

    Pikiranku selalu pergi ke sana saat aku sedang tidak melakukan apa-apa. Apakah ini sebuah penyesalan akan ketidakmampuanku menyelamatkan rekan-rekanku? Aku mencoba menutup mataku agar dapat tertidur, tetapi wajah mereka yang sedih dan kesal selalu tergambar di kepalaku. Aku harap suatu saat nanti aku dapat menebus kesalahan ini agar aku dapat tidur dengan nyenyak.

    “Nico, bantulah kami melewati ujian ini. Aku ingin bebas setelah melalui ini semua,” ujar teman-temanku. Tangisan minta tolong mereka masih terngiang di kepalaku. Aku sangat ingin membantu mereka. Hal ini sangat bermanfaat juga bagi diriku, tetapi kekuatan satu manusia sangatlah terbatas. Aku tidak bisa melakukan apa-apa waktu itu. Aku hanya bisa menyelamatkan diriku sendiri untuk melewati ujian di kehidupan kampus kami.

    “Apakah kalian masih dendam kepadaku?” Aku tidak mendengar respon apa pun. Aku terus memikirkan semua skenario yang seharusnya bisa aku lakukan untuk menyelamatkan mereka semua, namun semua sudah sia-sia. Rasa sesalku tetap akan menghantuiku di setiap tidurku.

    “Saudara Hafiz! Maju ke depan!” teriakan itu juga selalu terngiang di kepalaku. Aku dan Hafiz hanya bisa saling menatap wajah kami masing-masing, meratapi keteledoran kami. Dia terpaksa harus tersingkir dari ujian itu. Aku melanjutkan ujianku dengan lancar tanpa gangguan lagi. Aku memang sangat egois berpikiran seperti itu di waktu itu.

    “Bagaimana kalau satu piring lontong?” Keheningan tetap aku rasakan di malam itu. Aku memang bisa mengakui kesalahanku juga dan maju bersamanya, tetapi aku juga punya tujuanku sendiri dalam melewati ujian ini. Aku ingin mengajak Santi untuk pergi jalan-jalan ke kebun binatang. Aku tidak bisa kalah di tempat seperti itu. Itulah isi pikiranku saat melalui ujian itu.

    “Dua piring lontong dan satu gelas the tarik!” Aku menghela napas yang panjang sambil meratapi semua penyesalanku di malam itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku mau tidak mau harus mendengarkan bisikan setan itu. “Baiklah, aku akan membelikannya besok, jadi berhentilah diam seperti itu! Kita ada presentasi di kelas ekonomi besok! Ayolah Hafiz!” Dia kemudian menghadap ke arahku. Dia kemudian melihat ke arah kalender. “Hari Sabtu dan ditambah dengan dua giga paket internet,” ujarnya dengan wajah seperti iblis.

    Aku memegangi dompetku. Aku kemudian melihat ke sebuah foto di hp milikku. Foto Sinta dengan sebuah maskot yang lucu. “Ah, apakah aku akan bisa tidur nyenyak di esok hari?” Air mata tidak sengaja mengalir dari mataku, jatuh ke bawah, seperti rencanaku bersama Sinta.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Merta Merdeka

    1 hari lalu

    Haha huhu~

    Dibaca : 119 kali







    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.478 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi