Jangan Berlebihan Menyanjung atau Memaki - Analisis - www.indonesiana.id
x

ilustr: KlikDokter

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Selasa, 7 Juni 2022 17:09 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Jangan Berlebihan Menyanjung atau Memaki

    Jangan berlebihan menyanjung atau memaki siapa pun. Kelak, yang kamu lakukan berbalik. Dari benci jadi rindu. Dari memuji berubah menjadi mencaci. Nalar waras, selalu diperlukan dalam bersikap.

    Dibaca : 640 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

     

    “Membaca  celoteh, cuit, status, cuap, sampai gombalan hari ini adalah memahami sekaligus menikmati sebagian kecil budaya Indonesia dari warung kopi kaki lima pinggir jalan raya nan macet dan bising di sebuah kota.” Begitu cakap awal Si  Pongah sambil menikmati sajian khas warung Mpok Nunung yang menunya menyajikan Kopi dan sarapannya  Pakai Ketan (KPK).

     

    “Maksudku, menyimak berita radio, menonton tv, membuka situs online di dunia maya, hingga membaca pemberitaan media massa cetak semua beragam menyoroti pencapresan. Gimana Bang Maja?”

     

    Bang Maja, Satpam sekolah tetangga—sambil memainkan cincin berakik safir, cuma tersenyum. Dengan lahap ia nikmati sarapan pagi bermenu KPU (Kopi Pake nasi Uduk).

     

    “Mas … hasil sebuah survei kandidat Aan  masih mengungguli kandidat Mbakpu” ujar Bang Maja.

     

    “Survei bisa prediktif bisa spekulatif!” sambut Si Pongah.

     

    “Masa lalu kandidat juga ngaruh kali, Mas!”

     

    “Iya, dan ini yang jadi beban para penyanjung pendukung capres. Masa lalu dan perjalanan hidup seseorang, mengesankan dipaksa harus mewujud dalam keindahan, bahkan sempurna. Jika sedikit ternoda, itu akan dijadikan celah bagi sang pesaing untuk memasukinya dan membuatnya kocar-kacir.

     

    “Mereka saling metani –ibarat gajah di pelupuk mata tak tampak sementara kuman di seberang lautan malah tampak (tegas dan jelas!). Mulailah sang kandidat yang seumpama waktu kecil suka nimpukin buah mangga milik tetangga aja dikorek. Kandidat yang masa lalunya suka ngemplang di kantin sekolah dan ngampleng teman mainnya disebutnya melanggar HAM (Hak Asasi  Manusia).

     

    Persaingan untuk naik tahta ke tampuk jabatan empuk membuat orang nanar, mabuk. Ketika zaman berganti dan kandidat sudah dipromosikan, beginilah konsekuensinya. Jika dikaitkan dengan pencapresan,  pada masa Orde Baru, tiap lima tahun pergantian capres selalu saja adem ayem tak sesemarak kini, karena tiga hal.

     

    Pertama, puluhan partai yang berkoalisi dalam dua partai besar: PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dan PDI (Partai Demokrasi Indonesia) serta  Golongan Karya yang mayoritas, cuma punya satu capres. Kedua,  “persyaratan” yang diusung MPR sebagai pemandat pun cukup bikin capres selain incumbent mikir kecut dan mundur seketika.

     

    Mengapa? Karena syaratnya: sang capres harus pernah menjadi Presiden (!) Ketiga, pada masa itu semua bisa dibungkam—jangankan rakyat biasa, pakar hingga lembaga wakil rakyat juga bisa dibikin tak punya nyali. Semua akan setuju dan semua baik-baik saja.

     

    Siapa pun capresnya, berapa pun capresnya pasti akan terpilih satu nama yang berhak menjadi presiden. Hiruk-pikuk,  ingar-bingar para pendukung yang pro dan kontra, pasti akan kembali sedia kala.

    Mereka yang biasa mangkal di tukang ojek akan kembali ngojek, yang biasa mikul dawet akan mencari rejeki halal di lapaknya atau berkeliling ke kampung-kampung. Tokoh dan pakar yang suka cuap-cuap kembali mingkem karena sudah tak lagi ada topik sanjung-caci bagi capres yang didukung atau tak didukung.

     

    Para penyanjung yang bernasib baik, bakal dapat kue nikmat dan kursi empuk. Namun, yang selalu mengenaskan adalah massa penyanjung yang gigih secara rela atau berbayar  –kembali menjadi rakyat biasa. Ada hal yang kadang mengerikan, penyanjung fanatik yang frustrasi entah karena sesuatu, berbalik menjadi pemaki.”

     

    “Lalu?” sambar Yanto Caing dan Asep Chepot yang sejak tadi rupanya nguping, bereaksi mendengar analisis sok pakar Si Pongah.

     

    “Hmmm, makin seru aja ni obrolan” sela Mas Nakurat, “Gabung … ah. Kopi gak pakai gula, Mpok.”(pintanya kepada Mpok Nunung).

     

    “Bagaimana menurut Mas Nakurat?” timbrung Aria.

     

    “Saya lebih suka fokus ngomongin sama yang suka nyanjung dan caci-mencaci. Ya para fanatikus."

     

    “Kenapa?” desak Aria menutup notebook-nya.

     

    Kali ini Mas Nakurat membuka notes-nya dari ponsel.

     

    “Persaingan untuk mendapatkan kemuliaan, seharusnya dengan beradu kemuliaan. Penyanjungmu suatu saat bisa menjadi pemakimu. Demikian sebaliknya. Maka, jangan berlebihan menyanjung atau memaki. Begitu petuah K.H A. Mustofa Bisri.” Papar Mas Nakurat serius.

     

    Asep Chepot,  Bang Maja, Aria Purbaya, dan Yanto Caing  jadi ikut serius. Jalanan makin dikebuli debu dan asap knalpot angkot, buskota, bajaj dan ojol yang bersliweran. Matahari terasa menggerahkan. Kebisingan semakin menggairahkan pinggiran kota.

     

     

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.