Anti Makan Hewan? - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Hewan Kurban

Faiz Jamaluddin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Juni 2022

Kamis, 9 Juni 2022 09:28 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Anti Makan Hewan?


    Dibaca : 773 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pemikiran manusia dari waktu ke waktu selalu dinamis dan berkembang terus. Manusia terus menemukan pola pemikiran dan logika yang baru. Ideologi yang baru-baru ini muncul ke permukaan adalah veganisme. Sebenarnya sudah lama muncul, sekitar tahun 1970-an di dunia barat, namun karena pekembangan media sosial yang masif, hal ini menjadi ramai diperbincangkan. Sebenarnya di beberapa kepercayaan telah ada pemikiran seperti ini. Namun dewasa ini, justru banyak melahirkan ekstremis. Gerakan ini membawa pemikiran untuk tidak memakan produk hewani sama sekali. Jadi dalam kehidupannya hanya memakan produk nabati saja. Bahkan yang lebih seru lagi, ada yang menolak sama sekali produk hewani, bukan hanya makanan, namun juga peralatan rumah tangga.

    Di beberapa negara barat juga sudah sering kita melihat kampanye aktivis vegan hingga ramai di media sosial dan mencemooh para pemakan hewan. Padahal manusia sendiri dikategorikan sebagai makhluk omnivora yaitu pemakan hewani dan nabati. Dari strutktur morfologinya saja, misalkan gigi manusia yang memiliki gigi taring dan juga gigi seri yang proporsional, tidak besar taringnya saja seperti karnivora. Dari enzim pencernaan, manusia juga memiliki enzim protease misalnya, untuk mengelola protein. Bahkan sesungguhnya sebagian besar hewan (termasuk manusia) tidak dapat memproduksi enzim selulase untuk mencerna dinding sel tanaman.

    Anti-makan-hewan kebanyakan didasari pada perasaan kasihan pada hewan. Hewan-hewan juga merasakan sakit, nyeri, kesehatan mental, dan seterusnya. Namun bagaimana jika orang seluruh dunia tidak mengonsumsi hewan? saya mencoba mengambil contoh hewan ternak karena yang paling banyak dikonsumsi. Keberadaan ayam cukup lazim di sekitar kita, ia juga dapat hidup berdampingan dengan manusia, dari ratusan tahun lalu. Berbeda dengan singa atau kuda nil. Artinya ayam mudah untuk didomestikasi dan memang habitat ayam adalah berada di sekitar manusia. Seandainya manusia tidak lagi mengonsumsi ayam, kepunahan ayam bisa sangat dekat.

    Sejak dini kita semua sudah diajarkan agar makan seimbang, seimbang antara hewani dan nabatinya. Penerapan pola makan yang seimbang sudah bagus untuk membantu kelestarian hewan dan tanaman. Dalam praktiknya, peran pemerintah harus lebih ditegaskan lagi terkait pemenuhan hak-hak hewan. Misalnya dalam regulasi peternakan, hewan ternak tidak boleh diberi makan hingga tersiksa, dalam penyembelihannya juga harus memenuhi standard hak-hak hewan. Dalam penelitian yang menggunakan subjek hewan pun terdapat bioetika untuk memenuhi etika kehidupan. Begitu juga dengan situs konservasi luar habitat seperti kebun binatang, hewan seyogyanya mendapatkan perawatan yang layak di dalamnya dengan diawasi oleh pemerintah.

    Jika memang kasihan terhadap hewan yang dibunuh untuk dimakan, lantas makanlah hewan itu dengan penuh khidmat karena sudah berkorban untuk diri ini dan tidak menyia-nyiakannya. Lantas bagaimana dengan tanaman yang sedang asyik berfotosintesis kemudian kamu cabut untuk kamu makan?

     

    Ikuti tulisan menarik Faiz Jamaluddin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.