Rembulan Tetap Terang Benderang Ketika Dia Tidak Menghindari Malam - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Kamis, 9 Juni 2022 09:30 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Rembulan Tetap Terang Benderang Ketika Dia Tidak Menghindari Malam

    Purnama di malam hari memang sungguh memesona. Rumi memakainya sebagai metafora yang indah dan penuh makna. Bagaimana penjelasannya? Sila baca terus.

    Dibaca : 777 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

     

    The moon stays bright when it doesn’t avoid the night.  Rembulan tetap terang benderang ketika ia tidak menghindari malam.  Demikian kalimat mutiara dari Maulana Jalaludin Rumi sang sufi dan sastrawan kenamaan dari Konya, Turki.  Mari kita otak atik maksud Rumi dengan kalimat mutiaranya tersebut.

     

    Bulan purnama memancarkan sinar terang benderang yang memesona hanya terjadi di langit malam.  Namun pesona sinar purnama hilang bersama datangnya pagi.  Saya yakin Rumi memakai fenomena alam ini sebagai sanépa (metafora).    Malam merupakan sanépa dari masalah sedangkan bulan adalah sanépa dari solusi atau pemecahan masalah.   Jadi maksudnya solusi akan muncul ketika ada masalah.  Mari kita lihat contohnya.

     

    Saya ingin ambil contoh dari dalam negri.  Di masa lalu nenek moyang kita jatuh dalam kezaliman penjajahan Belanda selama ratusan tahun.  Akibatnya nenek moyang kita sangat menderita.  Banyak orang dibunuh, dianiaya, harta mereka dijarah. Marwah mereka direndahkan.   Dalam masa kegelapan itulah muncul gerakan kemerdekaan di awal abad ke duapuluh yang dipimpin oleh Sukarno.  Setelah melewati perjuangan berat akhirnya Sukarno dan kawan kawan berhasil memerdekakan Indonesia.   Jadi Sukarno ibarat bulan purnama yang menyirnakan gelapnya malam.

     

    Di tahun 1965 keselamatan rakyat dan negara Indonesia terancam ketika PKI melakukan pembunuhan para jendral TNI AD.  PKI saat itu merupakan salah satu kekuatan politik dominan yang dekat dengan pusat kekuasaan.  Hampir saja negara dan rakyat Indonesia tenggelam dalam kezaliman PKI.  Tapi Suharto dengan cepat mengambil tindakan.  Dia berhasil mengatasi kebrutalan PKI sehingga rakyat dan negara Indonesia selamat dari kekejaman PKI.  Suharto saat itu ibarat rembulan yang menyirnakan kegelapan malam.

     

    Dari kedua contoh di atas menjadi jelas bahwa kedua tokoh tersebut ‘bersinar’ karena ada masalah berat yang dihadapi bangsanya.   Mereka memiliki banyak kelebihan sehingga berhasil menjadi ‘purnama’ yang menerangi nasib bangsanya. 

     

    Dalam pandangan saya Rumi ingin mengatakan dengan sanépa tersebut bahwa kita bisa menjadi ‘rembulan’  tatkala  ada masalah.  Justru ‘kegelapan malam’ itulah yang memberi kesempatan buat ‘bulan’ untuk memancarkan sinarnya.  Kalau tidak ada kegelapan, seperti di siang hari, bulan malah tidak nampak.

     

    Jadi tafsir saya, Rumi ingin mengatakan bahwa ketika ada masalah orang harus aktif, harus mengambil  prakarsa, inisiatif, jangan hanya menunggu perubahan nasib.  Sesaat boleh saja kaget dengan perubahan situasi mendadak.  Tapi harus dengan cepat mengambil langkah untuk mengatasi situasi.  Memang resikonya selalu ada, tapi peluang juga pasti ada.  Peluang dan resiko ibarat dua sisi dari satu koin yang sama.  Keduanya harus diambil bersamaan, tidak bisa salah satu saja.  Jadi kalau mengambil resiko maka peluang akan mengikuti.  Jika menghindari resiko, peluang juga tidak ada.  Jadi buat para (calon) rembulan, ketika ‘malam datang’ bersiaplah untuk ‘memancarkan sinarmu’.

     

    Saat ini Indonesia bahkan seluruh dunia berada dalam ‘kegelapan’ gara gara Covid - 19.  Siapakah yang akan menjadi ‘bulan purnama’? Monggo.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali