Cateks atau Menyontek sebagai Fenomena Nyanyi Gaya Baru   - Analisis - www.indonesiana.id
x

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Minggu, 12 Juni 2022 23:38 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Cateks atau Menyontek sebagai Fenomena Nyanyi Gaya Baru  

    CATEKS atau membaca teks setara dengan menyontek. Kedua istilah tersebut digunakan dalam konteks yang berbeda. Cateks lebih bersentuhan dengan dunia tarik suara dari penyanyi dadakan yang belakangan kian marak. Salah satu cirinya adalah membacateks saat didaulat naik panggung dan menyanyi. Sedangkan menyontek berkaitan dengan perilaku pelajarsaat ujian. Cara yang dilakukan dengan membaca catatan atau buku sesuai dengan soal yang sedang diujikan.

    Dibaca : 683 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dalam sebuah acara arisan, ketika didaulat menyanyi, seseorang dengan pede-nya langsung sambar pelantang dan menyanyi. Soal suara bagai blik kosong tempat kerupuk, nomor sekian. Masalah ketika intro menandai si penyanyi sudah tarik suara, lalu si penyanyi abai sehingga nggak nyambung, tak urus.

    Pokoknya “semangka” alias “semangat kakak!” Suara dengan vokal ngepas terus saja berdendang. Apalagi lagu yang dibawakan adalah tembang dangdut yang digiring ke aroma koplo. Riuh kawan-kawannya pun langsung heboh. Mereka berjoget ria. Melupakan sejenak dari kepenatan hiruk pikuk problema keseharian.

    Ada hal yang menarik yang sering kita jumpai pada suasana seperti ini. Lihatlah si penyanyi dadakannya. Ia menyanyi tanpa hirau. Tak ada komunikasi dengan penonton, ia nyerocos suka-suka. Musik kemana-mana, suara kemana. Kasihan itu lirik yang melow jadi berubah suasana.

    Kok Cateks?

    Fenomena Cateks atau “membaca teks” atau setara dengan menyontek ketika menyanyi mulai marak sejak kepemilikan telepon seluler (ponsel) dimiliki oleh warga netizen +621. Cermati sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020.

    BPS mencatat, pelanggan telepon seluler di Indonesia sebanyak 131,66 per 100 penduduk pada 2020. Jumlah itu meningkat 2,3% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 128,7 per 100 penduduk. Data itu menunjukkan bahwa ada 131,66 pelanggan telepon seluler pada setiap 100 penduduk Indonesia. Dengan demikian, satu penduduk Indonesia bisa berlangganan lebih dari satu kartu subscriber identity module (SIM).

    Seiring hal tersebut, pelanggan mobile broadband di Indonesia meningkat 13% dari 92,02 per 100 penduduk pada 2019 menjadi 104 per 100 penduduk pada 2020. Pelanggan fixed broadband juga meningkat 12,8% dari 3,51 per 100 penduduk pada 2019 menjadi 3,96 per 100 penduduk pada 2020. Individu yang menggunakan internet di tanah air mencapai 53,73 per 100 penduduk. Jumlah itu meningkat 12,67% dibandingkan pada 2019 yang sebesar 47,69 per 100 penduduk.

    Kembali ke fenomena cateks,  apakah ini dapat disebut sebagai gaya? Bisa saja ini fenomena gaya hidup. Sebab, hampir di setiap acara dangdutan, juga saat bukan dangdutan, cateks menggejala. Cirinya: berani tampil, buka ponsel, lalu menyanyi dengan cateks.   

    Fenomena ini juga bisa disebabkan si penyanyi tidak pede saat tampil. Untuk menutupi rasa malunya, ia dibantu dengan cateks dari ponsel. Bisa pula, karena memang tidak hapal dengan lirik lagunya. Padahal dengan tidak hapal, si penyanyi berpeluang tidak menghayati lagu yang dilantunkan. Selain itu, ia gagal menghibur pendengarnya, karena gagal berkomunikasi.

    Memang ada yang ketika tampil sebenarnya sudah hapal lirik lagunya. Akan tetapi, terdorong dengan lingkungan, ia pun mengeluarkan ponselnya dengan cara yang sama: cateks. Apalagi, kalau lagu yang didendangkan memang menuntut duet. Sementara pasangannya selalu melihat ponsel dengan cateks. Apa boleh buat!

    Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.