Tokoh Sastra Era Kontemporer - - www.indonesiana.id
x

Pemahaman Budaya suatu bangsa dan daerah melalui karya sastra.

Zikri Ibnu Zar

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 Mei 2022

Senin, 13 Juni 2022 07:17 WIB

  • Topik Utama
  • Tokoh Sastra Era Kontemporer

    Abad 20 adalah zaman ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengaruh pada abad ini sangat besar terhadap kehidupan manusia, banyak dampak negatif yang terjadi pada masa itu, seperti terjadinya krisis ekonomi, krisis tersebut menimbulkan anarkisme, skeptisme, dan individualisme. Karena hal tersebut mendasi terjadinya pergerakan sastra kontemporer, pada dasarnya sastra kontemporer ini lahir karena adanya penyelewengan nilai kehidupan dan tatanan dalam masyarakat.

    Dibaca : 2.114 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada karya sastra kontemporer ini para sastrawan bebas berfikir dan bebas menuangkan opininya kedalam karya sastranya, terlebih lagi dengan penggunaan gaya bahasanya yang bebas. Berbeda dengan karya sastra sebelum-sebelumnya yang cenderung berorientasi pada tata aturan konvensional.

    Dalam dunia sastra tentunya ada tokoh-tokoh sastra yang membuat sastra tersebut terus berkembang. Sastrawan, itulah sebutan bagi penulis sastra, ataupun ahli sastra, seseorang yang menggeluti dunia sastra secara mendalam.

    Tokoh dan Karya Sastra Periode Kontemporer

    1. Iwan Simatupang

    Iwan Simatupang lahir pada tanggal 18 Januari 1928 di Sibolga (Sumatra Utara). Beliau pernah menjadi Guru, wartawan dan pengarang, yang hasil karyanya kebanyakan merupakan karya sastra absurd, irrasional dan filosofis. Beliau telah mengarang semua genre sastra: Cerpen, Novel, Puisi, Drama, Esei dan kritik sastra. Beliau wafat pada tanggal 4 Agustus 1970 di Jakarta. Contoh karyanya yaitu Merahnya Merah, Kering, Ziarah, Koong, kisah tentang seekorperkutut, Tunggu Aku dipojok Jalan Itu, Perang di Taman dan Monolog Simpang Jalan.

    2. Linus Suryadi Agustinus

    Linus Suryadi dalam puisi-puisinya dimuat idiom jawa. Ia juga mampu menciptakan kuatrin yang pekat. Contoh karyanya yaitu Pengakuan pariyem, Syair-syai dari Yogya, dan Langit Kelabu.

    3. Korrie Layun Rampan

    Lahir pada tanggal 17 Agustus 1953 di Samarinda. Beliau merupakan seorang sarjana yang bekerja sebagai wartawan. Beliau dalam karya sastranya mengungkapkan tradisi Kalimantan. Contoh karyanya yaitu: Upacara (Novel 1978), Sawan (Puisi 1978), Api Awan Asap (Novel, 1976).

    4. Remi Silado

    Remi Silado banyak menciptakan mbeling atau puisi lugu. Puisi ini mengungkapkan hidup sosial kota-kota besar yang sering menampilkan sikap yang skeptis, pesimis, anarkhis dan individualis. Contoh karya yaitu: Gali Lobang Gila Lobang dan Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan.

    5. Kuntowijoyo

    Kuntowijaya lahir pada tanggal 8 September 1943 di Yogyakarta. Beliau merupakan Dr. Sastra yang berprofesi sebagai dosen Universitas Gajah Mada, pengarang dan sejarawan. Contoh karya yaitu: Suluk awang-uwung (Sajak 1975), Kotbah di atas Bukit (1976), Isaraf (1976), Kereta api yang Berangkat Pagi hari (1966), Impian Amerika (1997), dan Daun Makrifat (Cerpen).

    6. Budi Darma

    Beliau adalah sorang sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dalam karya sastranya. Contoh karyanya yaitu: Rafilus, Olenka, Orang-orang Bloomington, dan Kritikus Adinan.

    7. Sutardji Calzoum Bachri

    Sutardji penyair kelahiran Rengat (Riau) tanggal 24 Juni 1941, dari suku bangsa Melayu. Beliau mengarang puisi, cerpen, esai, dan kritik sastra. Dia termasuk salah satu pembaca puisi terbaik indonesia sampai saat ini dan telah membacakan puisinya di Rotterdam International Poetry Reading (Belanda) tahun 1975. Pada tanggal 26 Januari 1976, Sutardji mengumumkan dirinya secara lisan dalam sebuah acara sastra di Taman Ismail Marzuki menjadi Presiden Penyair Indonesia. Contoh karyanya yaitu: “O” (Sajak-sajak 1973), Amuk (1977), Hujan Menulis Ayam (2001).

    8. Abdul Hadi Wiji Muthari

    Abdul Hadi lahir di Sumenep tahun 1945. Beliau adalah seorang Dr. Sastra di Universitas Sains Malaysia (1999). Beliau seorang lirikus dengan kedalaman sikap religiusnya yang intens selalu tercermin pada banyaknya puisinya. Beliau berpendapat aku dan alam tidak lain adalah ayat-ayat Tuhan yang perlu diakrabi untuk melahirkan tindakan-tindakan kreatif. Melihat dan merasakan suasana lirik yang kental dalam puisi Abdul Hadi, W.M. Lantunan pesona puisi Abdul Hadi W.M lain pula dengan getaran yang bergelora pada puisi-puisi Sutardji. Kalau Sutardji tampak liar dan gelisah dalam menggapai Tuhan, maka Abdul Hadi W.M, terasa memencarkan pesona langit. Contoh karyanya yaitu: Riwayat (1967), Laut Belum Pasang (1971), Potret Panjang seorang Pengunjung Pantai sanur (kumpulan sajak 1967-1971), Cermin ( sajak 1972-1975), Meditasi ( sajak 1971-1975) dan Tergantung Pada Angin ( kumpulan sajak, 1975-1976).

    9. Arifin Chairin Noer

    Arifin adalah seorang sastrawan kontemporer yang melakukan pembaharuan dalam karya sastranya. Arifin merupakan sastrawan yang menciptakan karya sastra dari kehidupan manusia. Contoh karya yaitu: Beberapa puisi dalam Horison (1966-1967), Sepasang Pengantin (Drama, 1968), Kapai-kapai (Sandiwara, 1970) dan Kasir Kita (1972).

    Itulah beberapa sastrawan pada era kontemporer dan juga segilincir perjalanan hidup seorang sastrawan yang memiliki kekhasan dan keunikan dalam menuangkan imajinasi lewat karya sastra. Sejak tahun 1970-an sastra Indonesia kontemporer mengalami perkembangan, perkembangan itu dilatarbelakangi oleh suatu pergeseran nilai kehidupan, hal ini ditandai dengan adanya semangat modern. Disamping itu semangat kontemporer juga lebih dijiwai oleh persoalan kehidupan.

    Ikuti tulisan menarik Zikri Ibnu Zar lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.