Pasar Malam - Fiksi - www.indonesiana.id
x

jihan ristiyanti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 April 2022

Selasa, 14 Juni 2022 12:01 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Pasar Malam

    Kita adalah sepasang orang asing yang entah oleh siapa dipertemukan. Aku menduga, Tuhan punya andil. Entah apa rencanaNya. Apapun itu,  Semoga yang berawal dari asing,  tak kembali asing, Maria

    Dibaca : 701 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bagian 4,

    Matahari belum  di atas kepala, saat Maria dan Arsyad tiba di bibir pantai. Masih cukup pagi, terik matahari terasa hangat menyentuh kulit. Sesekali keduanya hanya berbalas senyum. Arsyad memesan semangkuk mi instan. Sementara, Maria lebih memilih bakso. Dua gelas es kelapa menjadi pendamping kudapan mereka.

    Pagi ini, barang kali adalah pagi yang tak pernah di duga Maria. Lama sudah ia menutup hatinya. Maria tak menyangka, ia kembali jatuh cinta. Cinta yang utuh. Sekarang ia tahu, waktu adalah penyembuh luka terbaik.

    Gadis itu sempat berfikir, ia tak akan bisa mencintai sosok lain. Selain orang yang pernah ada di masa lalunya. Berkali-kali ia mencoba menjalin hubungan pada sosok lain. Tapi ingatan akan masa-masa kemarin, mencegahnya melangkah maju. Maria tahu. Jatuh cinta berarti  harus siap kehilangan.

    Namun layaknya manusia pada umumnya. Kita tak pernah benar-benar siap untuk kehilangan. Barangkali, rasa memiliki adalah musababnya.

    Hari itu, di pantai. Maria memastikan pada dirinya. Ia telah melepas ikatan kemarin. Kini ia tak akan menangisi sosok laki-laki itu lagi. Hatinya sekarang amat ramai. Penuh sorak sorai nama lelaki yang ada di sampingnya, Arsyad Pratama.

    Tak seperti saat perjalanan, kebisuan tiba - tiba menyergap keduanya.  Meski sesekali terdengar obrolan. Sepertinya, tak hanya Maria yang canggung, pun lelaki itu.

    Menjelang siang, mereka putuskan untuk beranjak pulang. Kini, tangan gadis itu berada di pinggang laki-laki yang telah sehari penuh dengannya. Arsyad tak pernah mempermasalahkan. Tapi Maria tahu, saat ini mereka hanya sebatas teman. Tidak lebih. Meski ia tak bisa menyangkal, ia telah jatuh hati dengan lelaki di depannya.

    Aku mencintaimu, lalu apakah gerangan yang ada di hatimu? Bersambutkah perasaan ini? atau semuanya tak memiliki arti apapun bagimu.

    Semua pertanyaan serupa bermunculan. Ramai benar isi kepalanya. Persis seperti pasar malam di alun-alun kota.

    Itu sangat mengganggu Maria, tapi apa dayanya. Nyalinya ciut jika urusan mengutarakan rasa. Namun secara bersamaan, ia juga menertawakan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin, orang seperti dia yang terbiasa mencecar narasumber dengan pertanyaan, justru tak punya nyali di hadapan pria yang ia suka.

    Gerimis hujan mengiringi perjalanan pulang mereka.

    Arsyad   : "Hujan, pakai mantel atau ennggak?"
    Maria     : "Nanti saja, masih gerimis."
    Arsyad   : "Oke."
                     Diam.. (di motor)
    Arsyad   : "Makin deras,, pakai enggak? "
    Maria     : "Ya udah pakai."
                     Diam.. (di motor)
    Arsyad   : "Udah berhenti, lepas ya?"
    Maria     : "Iya"


    Namun akhirnya drama lepas pakai mantel itu berlangsung beberapa kali, sebab curah hujan yang tidak merata. Kejadian itu cukup membuat mereka tertawa cekikikan. Sedikit mencairkan suasana yang beku.

    Apapun itu, perjalanan ini benar-benar istimewa bagi Maria. Namun akalnya selalu mewanti-wanti. Bahwa Manusia adalah makhluk yang sukar ditebak, mudah berubah-ubah. Begitu juga dengan perasaan. Maka, tak sepatutnya berharap berlebih pada manusia. Tapi, bukankah setiap cinta mendambakan kebersamaan?

    Bersambung,

    Ikuti tulisan menarik jihan ristiyanti lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali